Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Imam Bukhari, Gigih Mencari Ilmu hingga Jadi Ulama Hadis

Imam Bukhari, Gigih Mencari Ilmu hingga Jadi Ulama Hadis
Ilustrasi. (Foto: Istimewa/Pond5)
A
A
A

IMAM Bukhari memiliki nama lengkap Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Al Mughirah bin Bardizbah al Bukhari. Ia lahir pada Syawal, salah satu bulan istimewa bagi umat Islam.

Mengutip dari iNews.id, Selasa (2/6/2020), berdasarkan buku Biografi Imam Bukhari karangan Hanif Luthfi, disebutkan bahwa Imam Bukhari tepatnya lahir pada 13 Syawal 194 Hijriah atau 21 Juli 810 Masehi di Bukhara atau Buxoro, sebuah daerah di tepi Sungai Jihun, Uzbekistan.

Ayahnya adalah Ismail, seorang ulama yang salih. Bukhara yang juga disebut sebagai daerah Ma Wara an-Nahr memang banyak melahirkan ilmuwan Muslim.

Ketika Al Bukhari masih kecil, ayahnya meninggal, sehingga ibunya merawat dan mendidiknya seorang diri. Biaya pendidikannya didapat dari harta peninggalan ayahnya.

Ismail, ayah dari Al Bukhari, tampaknya sejak awal suka dan cenderung ke hadis Nabawi. Ketika pergi haji pada tahun 179 Hijriah, atau 15 tahun sebelum Al Bukhari lahir, Ismail menyempatkan diri menemui tokoh-tokoh ahli hadis seperti Imam Malik bin Anas (wafat 179 Hijriah), Abdullah bin Al Mubarak (wafat 181 Hijriah), Abu Mu’awiyah bin Shalih, dan lain-lain.

Tidak berselang lama Ismail wafat ketika Al Bukhari masih kanak-kanak. Sebuah perpustakaan pribadi ditinggalkannya untuk Al Bukhari di samping semangat untuk mengaji hadis.

Dalam keadaan yatim, Al Bukhari lalu diasuh oleh ibunya dengan kasih sayang. Dibimbingnya untuk menyintai buku-buku peninggalan ayahnya. Bersama-sama kawan sebayanya, Al Bukhari belajar membaca dan menulis Alquran serta hadis.

Al Bukhari ketika kecil mengalami rasa sakit yang teramat di kedua matanya, hingga akhirnya mengalami kebutaan.

Keadaan tersebut terus Beliau alami hingga suatu ketika Allah Subhanahu wa ta'ala mengembalikan penglihatannya berkat usaha yang ditekuni oleh ibunya. Allah benar-benar memberikan kesembuhan kepada Al Bukhari. Suatu malam, ibundanya tertidur, dan bermimpi melihat Nabi Ibrahim Alaihissalam.

Dalam mimpi tersebut, Nabi Ibrahim berkata, "Wahai perempuan, sungguh Allah telah mengembalikan penglihatan putramu, karena banyaknya tangisanmu, atau banyaknya doa yang kamu panjatkan."

Bukhari mulai belajar hadis saat masih muda, bahkan masih kurang dari 10 tahun. Ketika Al Bukhari berusia 10 tahun inilah Imam as-Syafi'i di Mesir itu meninggal, tepatnya pada tahun 204 Hijriah, maka praktis tidak pernah bertemu dengan Imam as-Syafi'i.

Sebagaimana dijelaskan NU Channels, ketajaman ingatan dan hafalan Al Bukhari melebihi anak-anak seusianya. Ketika berusia 10 tahun, Al Bukhari berguru kepada Ad-Dakhili, seorang ulama ahli hadis. Al Bukhari tidak pernah absen belajar hadis dari gurunya itu.

Setahun kemudian Al Bukhari mulai menghafal hadis Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam. Saat itu ia sudah ditunjuk untuk mengoreksi beberapa kesalahan penghafalan matan maupun rawi dalam sebuah hadis yang diucapkan gurunya.

Pada usia 16 tahun, Al Bukhari sudah mengkhatamkan hafalan hadis-hadis di dalam kitab karangan Waki al Jarrah dan Ibnu Mubarak.

Al Bukhari terkenal gigih dalam memburu sebuah hadis. Jika mendengar sebuah hadis, maka dia ingin mendapat keterangan tentang hadis itu secara lengkap. Ia harus bertemu sendiri dengan orang yang meriwayatkan hadis tersebut.

Dalam mengumpulkan hadis-hadis itu, Al Bukhari melanglang buana ke daerah Syam, Mesir, Aljazair, Basra, hingga menetap di Makkah dan Madinah selama enam tahun, Kufah, serta Baghdad. Tidak jarang Ala Bukhari bolak-balik ke tempat tersebut karena mendapati keterangan baru atau hadis baru.

Perjalanan panjang itu akhirnya membuat Imam Bukhari dapat mengumpulkan sedikitnya 600.000 hadis. Dari angka tersebut, 300.000 di antaranya dihafal. Hadis-hadis yang dihafal tersebut terdiri atas 200.000 hadis tidak sahih dan 100.000 hadis sahih.

(Hantoro)

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita muslim lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement