“Kita standarnya harus berbasis data dan laporan scientific yang jelas. Di mana masjid yang boleh dibuka kita lakukan kajian pada dokter yang bertugas di gugus tugas pemerintah agar ketika memutuskan tidak salah. Kita tak ingin euforia tapi protabnya tak sesuai standar malah membuat klaster baru,” tuturnya.
Baca juga: MUI: Jalankan Protokol Kesehatan Dapat Pahala dari Allah SWT
Muhammadiyah lanjut Agus, akan mengedepankan anjuran physical distancing dengan kapasitas masjid yang tak lebih dari 40 persen. Muhammadiyah juga telah melakukan kajian fiqih bersama Majelis Tarjih untuk memastikan apakah sholat Jumat nantinya bisa dilakukan lebih dari satu gelombang.
(Rizka Diputra)