Dalam wawancara dengan BBC News Indonesia pada 2015, Prof Tjandra mengatakan bahwa calon jamaah saat itu diberi masker ekstra agar tidak tertular MERS.
"Teorinya, harus meminimalisasi kontak dengan kerumunan orang. Tapi ini kan tidak mungkin dilakukan, maka saat di kerumunan, masker diberikan untuk melindungi diri," kata Prog Tjandra ketika itu.
Kemudian ia juga menganjurkan jamaah mencuci tangan dengan sabun untuk mengurangi risiko penularan berbagai penyakit, serta bagi jamaah yang sudah mengalami penyakit jantung kronis, diabetes, gagal ginjal, atau paru kronis untuk melakukan kontrol kesehatan secara rutin.
"Saya kira sudah disebutkan waktu itu tentang jamaah agar berhubungan segera dengan petugas kalau ada keluhan-keluhan yang ada hubungan dengan MERS, hanya memang tidak mudah, karena keluhan MERS ini kan relatif umum, seperti batuk, demam, yang mungkin bisa sering terjadi saat haji," kata Prof Tjandra saat dihubungi pada Jumat 29 Mei 2020.
"Saya tidak ingat apakah ada jamaah yang tertular, tapi sepanjang kita tahu, kita bisa menanggulangi MERS cukup baik saat itu, sehingga masalahnya tidak terlalu besar," tegasnya.
Kementerian Kesehatan sendiri menyatakan tidak ada jamaah asal Indonesia yang tertular meningitis pada musim haji 2015.
(Hantoro)