Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Pandemi, Kejujuran, dan Relasi Sosial

Pandemi, Kejujuran, dan Relasi Sosial
Antisipasi persebaran virus corona (covid-19). (Foto: Heru Haryono/Okezone)
A
A
A

MUHAMMAD bin Abdullah diangkat menjadi Nabi dan Rasul bukan sebuah hal yang tiba-tiba dan kebetulan. Kehadirannya meskipun sudah diprediksikan dalam kitab suci agama-agama terdahulu, tapi secara pribadi beliau telah mempersiapkannya. Karakter yang paling tampak dari individu beliau adalah kejujuran.

Umur 16 tahun beliau sudah dikenal sebagai Al-Amin, yakni orang yang dapat dipercaya. Kata tersebut juga semakna dengan kata amanah. Dasar dari amanah adalah kejujuran. Sifat ini bukan hanya melekat dalam diri beliau, tapi juga diakui secara kolektif oleh penduduk Arab.

Gelar tersebut disandang beliau sampai diangkat menjadi Rasul dan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam. Kurang lebih 24 tahun. Sebuah waktu yang cukup lama. Kalau beliau tidak mampu mempertahankan gelar tersebut, mungkin Islam tidak semudah itu diterima di Arab.

Pandemi dan Cobaan Kejujuran

Covid-19 dapat dikatakan sebagai cobaan kejujuran. Orang yang sakit atau menderita karena virus tersebut harus jujur. Kalau tidak jujur, dia akan menyebabkan orang lain menderita. Jadi kejujuran sebenarnya bukan hanya bermanfaat untuk diri sendiri. Melainkan juga menyelamatkan orang lain.

Data covid-19 juga harus dibuka. Jangan ditutup-tutupi agar masyarakat selalu waspada dan berhati-hati. Ditutupnya informasi terkait covid-19 dapat menyebabkan masyarakat menjadi lalai.

Termasuk para ilmuan yang mengetahui dampak buruk terkait covid-19 juga harus diungkap. Jangan ditutup-tutupi. Sebab dengan semakin paham terkait dampak penyakit ini secara medis, seseorang, warga, dan masyarakat lebih tenang, karena mudah mengantisipasi keadaan.

Itulah sebabnya kejujuran juga menenangkan. Bukan hanya oleh pribadi yang berkata, melainkan juga menenangkan orang lain. Itulah sebabnya beliau Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam disebut Al Amin. Bukan hanya amanah, tapi juga menenangkan dan menenteramkan.

Kejujuran Juga Menyehatkan

Erich Fromm menjelaskan dalam bukunya 'Escape from Freedom' bahwa alam kehidupan ini ada orang memilih terasing. Orang yang terasing adalah orang yang melarikan diri dari kebebasan.

Salah satu sebab orang menjadi terasing karena dia berdusta atau tidak jujur. Sebab ternyata orang berdusta menyebabkan dampak fisiologis. Hati menjadi tidak tenang. Perasaan selalu gelisah. Detak jantung selalu berdebar-debar. Keringat dingin keluar. Demikian hasil kajian yang disampaikan Taufik Pasiak pakar otak dalam bukunya Unlimited Potency of Brain.

Dampak negatif dari dusta adalah gelisah. Sebabnya selalu khawatir kalau kebohongannya terbongkar. Kalau beban dustanya semakin berat, maka bisa semakin paranoid. Itulah mengapa orang yang berdusta akhirnya mengorbankan kebebasannya sendiri.

Kejujuran dan Relasi Sosial

Dalam Sunan Tirmidzi Nomor 2433: Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: "Maukah kalian aku beri tahu yang lebih utama daripada derajat puasa, sholat, dan sedekah?" Mereka menjawab: "Iya." Beliau bersabda: "Yaitu interaksi sosial yang baik, karena interaksi sosial yang buruk itu memangkas (agama)."

Hadis ini menjelaskan bahwa ada amalan yang lebih baik dari sholat, puasa, dan sedekah. Padahal sholat dan puasa selama ini dianggap sebagai ibadah yang utama. Masuk dalam rukun iman. Namun ternyata Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam mengatakan yang lebih utama dari ibadah tersebut yakni interaksi sosial yang baik.

Interaksi sosial yang baik salah satu dasarnya adalah kejujuran. Tanpa kejujuran interaksi sosial menjadi semu. Kepura-puraan belaka. Hal tersebut tentu menyakitkan. Pasti menyebalkan.

Menjaga relasi sosial pasti menjaga kepercayaan, antara satu individu dengan individu lainnya. Antara satu kelompok dengan kelompok lainnya. Antara satu suku dengan suku lainnya. Menjadi bangsa adalah menjaga kejujuran antara rakyat dan pimpinan. Menjadi Indonesia berarti menjaga kejujuran sesama penduduk Indonesia.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang paling menghargai kejujuran. Bangsa yang sakit adalah bangsa yang menghargai kedustaan. Wallahu'alam bishawab.

Oleh Hatib Rahmawan

Sekretaris Bidang Pendidikan dan Kaderisasi Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah, Dosen Prodi Ilmu Hadis Fakultas Agama Islam Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta.

(Hantoro)

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita muslim lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement