Kisah Kang Muslimin yang Memiliki Istri Super Cantik

Pristia Astari, Jurnalis · Senin 22 Juni 2020 12:42 WIB
https: img.okezone.com content 2020 06 22 614 2234155 kisah-kang-muslimin-yang-memiliki-istri-super-cantik-si0nZ0zk4R.jpg ilustrasi (stutterstock)

TERKADANG kita menjadikan agama sebagai tameng untuk membenarkan sikap dan perilaku yang tidak beradab, contohnya melakukan nahi munkar tetapi dilakukan dengan cara kemungkaran.

Lalu, apakah kita masuk ke dalam orang yang meninggikan rasa bangga terhadap agama? Apakah kita sudah berpikir apa yang membuat Allah SWT merasa senang? Atau, setidaknya kita berfikir sudahkah kita gigih menimba ilmu agama dan mengamalkannya di setiap perintahnya dengan baik dan ikhlas?

KH Ahmad Musthofa Bisri atau Gus Mus dalam bukunya ‘Saleh Ritual Saleh Sosial’ menceritakan tentang seseorang yang bernama kang Muslimin, dalam salah satu tulisannya yang berjudul Muslimin di buku tersebut.

Baca juga: 5 Ulama yang Gigih Mensyiarkan Agama Islam di Jakarta

Dengan gaya cerita yang jenaka, Gus Mus menggambarkan kang Muslimin mempunyai seorang istri yang luar biasa cantik dan sosok idaman semua lelaki di kampungnya. Ia sangat membangga-banggakan istrinya. Ia bahkan rela mati berkeping-keping untuk pujaan hatinya itu.

Namun, sayangnya kang Muslimin adalah seseorang yang sangat cemburuan. Bahkan, jika ada yang sekedar melihat atau menatap istrinya, dia sangat ingin menendang dan menerjangnya. Di balik rasa cemburuan yang luar biasa itu, kang Muslimin ternyata tidak mengenal istrinya secara dalam.

Dia tidak tahu apa yang membuat sang istri senang dan apa yang sebenarnya yang diinginkan sang istri. Untuk sekadar mengobrol dan sekedar tahu apa yang diinginkan istrinya dia tidak tahu karena dia terlalu sibuk dengan pekerjaannya, yang menurutnya juga demi sang istri.

Cerita kang Muslimin itu seolah mengandung pesan sekaligus otokritik untuk kaum Muslimin (umat islam). Kaum Muslimin yang tidak tahu apa sebenarnya pemahamannya terhadap agama. Mungkin saja, maksud Gus Mus dalam tulisan itu adalah mengkritik atau secara halus mengajak kita untuk bermuhasabah dan berefleksi diri.

Bahwa tak bisa dipungkiri, kita kerap merasa menjadi orang yang paling mencintai dan memiliki agama. Namun, untuk melangkah ke majelis ilmu atau majelis pengajian saja terasa berat.

Sebagaimana gigihnya kita mencemburui dan mengagumi keistimewaan agama yang kita anut sepenuh hati ini. Rasanya rugi kalau kita menjadi seperti Kang Muslimin. Kita tahu apa yang kita cintai hanya dari luarnya, lalu menjaganya dengan sepenuh hati ditambah dengan kecemburuan yang sangat besar bahkan mengalahkan besarnya cinta itu sendiri, tapi tak punya rasa yang sama untuk tahu lebih dalam untuk berdialog dengannya atau bahkan mendalami apa yang diinginkannya.

Dikutip dalam buku ‘Wajah Islam Kita’ karya Ahmad Saleh halaman 24, kita dapat menambah keimanan kita dengan membaca Alquran (beserta tafsirnya), mengikuti pengajian dan pengkajian, aktif dalam oragnisasi/komunitas dakwah, membaca buku dan pemikiran tokoh Muslim dan hal yang positif lainnya.

Dengan memahami agama secara mendalam, harapannya kita dapat lebih bijak dalam mengambil sikap, terutama dalam menanggapi isu-isu yang bersinggung dengan agama, tidak emosi dan tidak mudah dihasut oleh kepentingan kelompok manapun dengan embel-embel agama atau bujukan surga.

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

(sal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini
Adzan Shubuh Adzan Dzuhur Adzan Ashr Adzan Maghrib Adzan Isya