Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

7 Etika Perayaan Maulid Nabi agar Tak Melenceng dari Syariat

7 Etika Perayaan Maulid Nabi agar Tak Melenceng dari Syariat
ilustrasi (stutterstock)
A
A
A

MERAYAKAN atau memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW sudah membudaya di kalangan mayoritas umat Islam di Indonesia. Tiap daerah memiliki tradisi tersendiri dalam memperingati Hari Kelahiran Rasulullah.

Tujuan perayaan maulid di antaranya adalah untuk mengenang perjuangan Nabi Muhammad dalam membumikan Islam sekaligus meneladani akhlaknya. Kemudian sebagai ajang syiar dan mempererat ukhuwah Islamiyah.

Baca juga: Bagaimana Hukumnya Merayakan Maulid Nabi Muhammad?

Melansir dari kolom Tanya Jawab Keislaman di website resmi Majelis Ulama Indonesia (MUI), Rabu (1/7/2020), dijelaskan bahwa hukum memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW adalah boleh dan tidak termasuk bid’ah dhalalah (mengada-ada yang buruk) tetapi bid’ah hasanah (sesuatu yang baik).

Karena tidak ada dalil-dalil yang mengharamkan peringatan maulid Nabi Muhammad SAW, bahkan jika diteliti malah terdapat dalil-dalil yang membolehkannya.

Tapi, karena bentuk perayaannya berbeda-beda, untuk menjaga agar perayaan maulid Nabi SAW tidak melenceng dari aturan agama yang benar, sebaiknya perlu diikuti etika-etika berikut:

1. Mengisi dengan bacaan-bacaan shalawat kepada Rasulullah SAW.

2. Berdzikir dan meningkatkan ibadah kepada Allah SWT.

3. Membaca sejarah Rasulullah Saw dan menceritakan kebaikan-kebaikan dan keutamaan-keutamaan beliau.

4. Memberi sedekah kepada yang membutuhkan atau fakir miskin.

5. Meningkatkan silaturrahim.

6. Menunjukkan rasa gembira dan bahagia dengan merasakan senantiasa kehadiran Rasulullah saw. di tengah-tengah kita.

7. Mengadakan pengajian atau majlis ta’lim yang berisi anjuran untuk kebaikan dan mensuritauladani Rasulullah saw.

Menurut Imam al-Suyuthi, tercatat sebagai raja pertama yang memperingati hari kelahiran Rasulullah SAW dengan perayaan yang meriah luar biasa adalah Raja Al-Mudhaffar Abu Sa`id Kukburi ibn Zainuddin Ali bin Baktakin (549–630 H).

Tidak kurang dari 300.000 dinar beliau keluarkan dengan ikhlas untuk bersedekah pada hari peringatan maulid. Intinya menghimpun semangat juang dengan membacakan sya’ir dan karya sastra yang menceritakan kisah kelahiran Rasulullah SAW. Di antaranya yang paling terkenal adalah karya Syeikh Al-Barzanji yang menampilkan riwayat kelahiran Nabi SAW dalam bentuk natsar (prosa) dan nazham (puisi). Saking populernya, sehingga karya seni Barzanji ini hingga sekarang masih sering kita dengar dibacakan dalam seremoni peringatan maulid Nabi SAW.

Halaman:
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita muslim lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement