Moderasi Beragama, Beda Pendapat Jangan Dianggap Lawan

Rizka Diputra, Jurnalis · Rabu 01 Juli 2020 16:31 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 01 614 2239567 moderasi-beragama-beda-pendapat-jangan-dianggap-lawan-PlJQYnSbce.jpg KH. Muflich Chalif Ibrahim (Foto: Wikipedia)

GERAKAN radikalisasi dewasa ini kerap menyasar generasi muda alias generasi milenial. Biasanya diawali oleh pemahaman dangkal terhadap ajaran agama. Sehingga, penanaman dan pengembangan Islam washatiyah di kalangan generasi muda jadi sangat penting sebagai cara pandang mereka dalam memahami dan mendalami Islam.

Presiden Lajnah Tanfidziyah (LT) dari Syarikat Islam Indonesia, KH. Muflich Chalif Ibrahim menjelaskan, penerapan moderasi beragama sangat diperlukan, terutama bagi generasi muda.

Tujuannya, menekankan bahwa belajar agama bukan hanya untuk membentuk individu yang saleh secara personal, tetapi juga mampu menjadikan paham agamanya sebagai instrumen untuk menghargai umat agama lain.

Baca juga: Hukum Mendoakan Orangtua Beda Agama

“Yang pas memang ya moderasi beragama dengan menerapkan washatiyah itu karena artinya kita dapat menerima perbedaan yang ada. Tapi tetap masalah utama seperti yang juga pernah saya sampaikan di kantor Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) beberapa pekan lalu seperti masalah kemiskinan, kebodohan dan ketidakadilan ini juga harus diselesaikan,” ujar Kiai Muflich, dalam siaran persnya kepada Okezone, Rabu (1/7/2020).

Namun kata dia, moderasi beragama harus digalakkan terutama di kalangan generasi milenial. Agar mereka dapat menerima perbedaan yang ada termasuk perbedaan pendapat yang ada di internal Islam sendiri.

“Yang kita tahu sekarang ada orang yang berbeda pandangan politik, berbeda pendapat itu dianggap lawan, padahal harusnya tidak seperti itu. Sedangkan yang kita tahu dan kita alami dengan tokoh-tokoh dimasa peralihan orde baru, perbedaan pendapat itu betul-betul dihargai. Tidak dianggap lawan orang-orang yang berbeda pendapat itu,” kata putra mantan anggota MPR RI, HM. Chasab Ibrahim ini.

Dirinya juga menyatakan keprihatinannya terkait masih adanya perbedaan pandangan baik pandangan politik maupun beda terhadap pandangan ideologi bangsa ini yang tidak dapat diterima oleh sebagian kalangan ataupun kelompok tertentu.

"Saya juga prihatin ada banyak orang yang memiliki perbedaan pendapat dan pandangan politik justru dikatakan anti Pancasila, pengkhianat Pancasila dan sebagainya. Padahal sudah menjadi kebiasaan di masyarakat kita bahwa berdemokrasi dan bermusyawarah itu dengan berdasarkan kemanusiaan. Itu hal yang lumrah,” tuturnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini