Sejarah Panjang Islam di China, dari Ghengis Khan hingga Uighur

Saskia Rahma Nindita Putri, Jurnalis · Sabtu 04 Juli 2020 01:04 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 03 614 2240930 sejarah-panjang-islam-di-china-dari-ghengis-khan-hingga-uighur-hwpd2eWSzy.jpg Muslim Uighur kerap mengalami diskriminasi oleh Pemerintah China (Foto: Reuters)

TERCATAT lebih dari satu juta muslim Uighur ditempatkan di pusat penahanan di provinsi Xinjiang, yang terletak di paling Barat wilayah China. Para pemimpin dan pakar Uighur dari luar China telah memperingatkan betapa gentingnya situasi yang diperkirakan akan terus memburuk.

Dengan banyaknya orang Uighur yang ditahan, dapat disimpulkan bahwa inilah krisis kemanusiaan terburuk dan yang paling terabaikan selama 10 tahun terakhir. Lalu, mengapa hal ini terus terjadi, dan apa yang membuat pemerintah China seakan melihat muslim sebagai ancaman?

China saat ini adalah rumah bagi populasi muslim yang mencapai 1,6% dari keseluruhan populasi, atau sekitar 22 juta orang. Umat muslim bukanlah pendatang baru di China. Islam mulai masuk ke China oleh utusan dari Timur Tengah yang melakukan perjalanan untuk menemui Kaisar Geozong dari Dinasti Tang pada abad ketujuh.

Tak lama setelah kunjungan itu, masjid pertama dibangun di pelabuhan perdagangan selatan Guangzhou, yakni pelabuhan yang kerap digunakan oleh orang Arab dan Persia untuk melakukan perjalanan di sekitar Samudera Hindia dan Laut China Selatan. Selama masa ini, pedagang muslim membangun permukiman bagi mereka di pelabuhan China dan di pos-pos perdagangan sepanjang Jalur Sutra.

Namun, mereka hidup terpisah dari mayoritas Han China selama lima abad. Dilansir dari laman The Conversation, Jumat (3/7/2020), perubahan mulai terjadi pada abad ke-13 di bawah Dinasti Mongol Yuan, yakni ketika umat Islam datang ke China dalam jumlah yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk melayani sebagai administrator bagi penguasa baru yang merupakan keturunan Ghengis Khan, pendiri kekaisaran Mongol.

Baca juga: Keutamaan Sholat Sunah Subuh Lebih Baik dari Dunia dan Isinya

Bangsa Mongol yang memiliki sedikit pengalaman dalam menjalankan birokrasi kekaisaran China ini kemudian meminta bantuan umat Islam dari kota-kota penting di Jalur Sutra seperti Bukhara dan Samarkand di Asia Tengah.

Muslim Uighur

Mereka merekrut dan memindahkan raturan ribu orang Asia Tengah dan Persia secara paksa untuk membantu mereka dalam memerintah kerajaan yang diperluas hingga ke pengadilan Yuan. Di masa ini, para pejabat tinggi yang kaya terus membawa istri-istri mereka, sementara para pejabat tingkat rendah mengambil istri-istri dari wanita setempat.

Setelah Ghengis Khan menaklukkan sebagian besar Eurasia pada abad ke-12, ahli warisnya memerintah berbagai bagian benua yang mengarah ke fase damai nan makmur untuk pertama kalinya. Hal ini memungkinkan budaya untuk berkembang, serta barang maupun ide untuk tersebar semakin luas. Hal ini secara tak langsung menjadikan tradisi budaya China dan muslim berdampingan dengan cara-cara yang baru.

Selama 300 tahun kemudian, sepanjang Dinasti Ming memimpin, muslim masih terus berpengaruh dalam pemerintahan. Selama sekitar 300 tahun ke depan - selama Dinasti Ming - muslim terus berpengaruh dalam pemerintahan.

Zhang He, seorang laksamana yang memimpin armada China dalam perjalanan menjelajah dan diplomatik melalui Asia Tenggara dan Samudera Hindia adalah seorang muslim. Keakrabannya dengan bahasa Arab dan pengetahuannya tentang tradisi sosial yang berkaitan erat dengan Islam menjadikannya sebagai pilihan ideal untuk memimpin perjalanan.

Memasuki abad ke-18, hubungan antara muslim dan negara China mulai mengalami perubahan. Pada periode ini mulai diperlihatkan awal mula banyaknya bentrokan keras khususnya saat China berupaya untuk melakukan kontrol lebih atas wilayah di mana merupakan tempat mayoritas muslim tinggal.

Dinasti Qing yang berlangsung dari tahun 1644 hingga 1911 menandai periode awal pertumbuhan populasi dan pemberlakukan ekspansi wilayah yang sebelumnya belum pernah dilakukan oleh China. Di era kepemimpinan Dinasti Qing, tak sedikit populasi muslim yang melakukan pemberontakan terhadap penguasa dinasti di berbagai kesempatan.

Banyak pemberontakan dilakukan sebagai oposisi terhadap masuknya para migran, yang datang dari daerah-daerah padat penduduk China ke daerah-daerah yang sebelumnya tidak berada di bawah kendali langsung China. Berbagai pemberontakan ini ditentang keras oleh negara, yang mengakhiri periode akomodasi yang panjang bagi umat Islam di China.

Berdirinya Republik Rakyat China (RRC) pada tahun 1949, ahli etnografi dan antropolog menyatakan orang-orang yang tinggal di perbatasan negara baru terbagi menjadi 56 kelompok etnis berdasarkan kriteria perbedaan dari bahasa, wilayah, sejarah hingga tradisi.

Dari kelompok-kelompok tersebut, 10 di antaranya diakui sebagai muslim minoritas. Diurutkan dari total populasi minoritas terbanyak, mereka adalah Hui, Uighur, Kazakh, Dongxiang, Kyrgyz, Salar, Tajik, Uzbek, Bonan dan Tatar yang jika dijumlahkan totalnya hanya sekitar 5.000 orang.

Muslim Uighur

Di awal tahun setelah berdirinya Republik Rakyat China, umat muslim masih merasakan kebebasan beragama yang penuh toleransi.

Namun seiring masuknya tahun awal Revolusi Kebudayaan di tahun 1966 dan 1969, mulailah terjadi ancaman di mana masjid-masjid dihancurkan, salinan Alquran dimusnahkan, umat muslim dilarang melakukan ibadah haji serta adanya pelarangan keras untuk mengekspresikan kepercayaan agama oleh Penjaga Komunis Merah (Communist Red Guards).

Barulah setelah kematian Mao Zedong di tahun 1976, Komunis mengadopsi kebijakan yang lebih longgar dalam mengatur komunitas muslim di negeri berjuluk Tirai Bambu itu.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini