Share

Jangan Bertanya Lagi, Kamu Islam Apa?

Selasa 14 Juli 2020 12:19 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 14 614 2246067 jangan-bertanya-lagi-kamu-islam-apa-hVonbm1DPE.jpg Chusnatul Jannah (Dok Pribadi)

PERNAHKAH kita ditanya, "Mbak, madzhabnya pakai apa? Islamnya aliran apa?"

Sebagian dari kita berinteraksi dengan beragam karakter manusia mesti pernah dilayangkan pertanyaan serupa. Bagi saya, Islam ya Islam. Islam itu mengakar. Dari akar bermunculan aturan cabang. Di situlah pancaran sebuah ideologi Islam yang telah lama ditinggalkan oleh pemeluknya.

Islam itu sempurna. Mengatur kehidupan individu hingga negara. Islam itu indah. Di sana terdapat jawaban bagi persoalan hidup manusia. Tidak hanya soal ibadah dan akhlak. Tapi Islam juga mengatur muamalah dan uqubat.

Islam itu cahaya yang masuk ke relung hati mereka yang ingin mendapat hidayah. Islam adalah anugerah bagi mereka yang terlahir sebagai muslim. Islam adalah rahmat bagi mereka yang menemukan jati diri hakiki manusia sebagai hamba.

Umat yang terkotak-kotak dengan prinsip madzhab, manhaj, dan aliran tertentu harusnya tak surutkan visi besar Islam. Yakni persatuan dan kebangkitan . Persatuan dengan ikatan akidah Islam mestinya menjadi titik balik umat terbaik ini. Kebangkitan pemikiran umat menjadi poin penting mengembalikan posisi Islam sebagai mercusuar peradaban.

Sebagaimana yang diberitakan dari tanah Timur Eropa. Setelah 86 tahun menjadi museum, kini bangunan agung warisan wakaf Sultan Muhammad Al Fatih itu kembali ke posisi semula yakni masjid. Aya Sofya (Hagia Sophia), adalah indikasi kebangkitan Islam kian menggema.

Baca juga: Diubah Jadi Masjid, Begini Sejarah Hagia Sophia

Dari Aya Sofya kita kembali diingatkan. Islam tak akan mulia tanpa perisai yang melindunginya. Islam bisa kembali berjaya manakala ia diterapkan dalam kehidupan secara kafah (menyeluruh).

Masa ini bukanlah saatnya saling menjatuhkan sesama saudara seiman. Semestinya Islamlah perekat sejati kita. Jangan bertanya lagi, kamu Islam apa, Anda bermanhaj apa, atau kalian Islam ala siapa. Jawab saja serentak. Kami Islam yang sesuai Alquran dan As sunnah. Allah tujuan kita. Rasulullah teladan kita. Islam jalan hidup kita. Itulah visi besar kita.

Mari menemukan banyak kesamaan. Bukan membuat perbedaan besar. Hal itu hanya menambah jurang pemisah. Bukankah Rasulullah mencintai umatnya yang bersatu padu dalam kekuatan iman? Bukan berpecah belah dalam persoalan cabang?

Bukankah kita sama-sama menginginkan Islam menang? Maka, lihat dan perhatikan baik-baik siapa musuh dan siapa teman. Jangan kebolak balik. Yang seiman dianggap musuh, yang harusnya musuh dianggap teman. Fatal.

Untuk menghilangkan kefatalan itu, apa yang harus dilakukan? Ubah pemikiran yang bertentangan dengan Islam. Dari situ akan lahir pemahaman benar. Penyakit pemikiran umat saat ini adalah sekularisme, liberalisme, kapitalisme, hedonisme, dan isme-isme lainnya.

Cara terbaik adalah memperbarui iman dengan pemikiran Islam. Bukan mencampur kebenaran dengan kebatilan. Sebab, kebatilan selamanya tak akan berkawan dengan Islam.

Sungguh indah nasihat Imam Malik bin Anas rahimahullah, "Tidak akan menjadikan baik generasi akhir umat ini kecuali dengan sesuatu yang telah menjadikan baik generasi awalnya." Rahasia gemilangnya generasi awal Islam adalah ketundukan dan ketaatan mereka pada Al quran dan As sunnah. Maka dari itu, jika menginginkan umat ini baik, haruslah meneladani apa yang mereka contohkan.

Kenalilah Islam apa adanya. Islam yang sesuai dengan apa yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya. Sudah saatnya satukan pemikiran dan perasaan Islam kita.

Sungguh rugi, mereka yang berjuang demi kepentingan diri dan golongan. Penyakit ashobiyah yang masih menjalar di tubuh umat. Padahal kelak di akhirat, kita berada dalam naungan yang sama. Naungan Allah subhanahu wa ta'ala. Meminta syafa'at yang sama. Yaitu sebagai Umat Muhammad Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

Kelak, kita tak akan ditanya Islam apa dan manhaj mana. Surga Allah diperuntukkan bagi mereka yang mengamalkan sesuai tuntunan Allah dan Rasul-Nya. Yang dinilai adalah derajat takwanya. Seberapa besar amal salih kita. Seberapa besar kita berjuang mengembalikan kehidupan Islam. Berlomba dalam kebaikan. Bukan berlomba menabur permusuhan antarkelompok Islam.

Oleh Chusnatul Jannah 

Anggota Lingkar Studi Perempuan dan Peradaban

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

(sal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini