Share

Muhasabah Tahun Baru Islam 1 Muharram 1442H: Hijrah dalam Kehidupan

Kamis 20 Agustus 2020 09:32 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 20 330 2264872 muhasabah-tahun-baru-islam-1-muharram-1442h-menghidupkan-hijrah-dalam-kehidupan-yRI8jY10Rb.jpg Ilustrasi hijrah. (Foto: Unsplash)

BULAN Muharram menghampiri kita. Mengingatkan kita pula pada peristiwa hijrahnya Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dari Makkah ke Madinah yang menjadi tanda besar bagi umat Islam. Sejarah baru dimulai ketika Rasulullah beserta para shahabat melakukan hijrah. Peristiwa itu kemudian menjadi awal tahun kalender Islam dan diperingati hingga sekarang.

Sebelum hijrah ke Madinah, Rasulullah telah berdakwah menyebarkan Islam di Makkah. Semula, Nabi berdakwah secara sembunyi-sembunyi. Syiar Islam kemudian dilakukan dengan terang-terangan. Di saat itulah ujian dakwah menimpa beliau, keluarga, dan para shahabat. Kaum kafir Quraisy tak pernah bosan menyiksa, mengintimidasi, menghina, bahkan membunuh siapa saja yang mengikuti ajaran Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam.

Baca juga: 1 Muharram 1442H, Yuk Simak Dalil-Dalil Keutamaannya 

Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam pun pernah mengalami duka mendalam ketika orang-orang kesayangan beliau wafat, yaitu Khadijah Radhiyallahu anha dan paman tercintanya Abu Thalib yang selalu membela dakwah beliau. Di tahun-tahun sebelum hijrahnya beliau inilah masa pemboikotan dan penganiayaan kerap dilakukan oleh kaum Quraisy demi menghalangi dakwah beliau dan ajaran Islam.

Karena derasnya penganiayaan dan pemboikotan yang dilakukan kafir Quraisy, Rasulullah pun mulai memikirkan strategi agar dakwah ini tetap berlanjut yaitu mulai merancang untuk meminta dukungan dan keamanan ke para pembesar Quraisy dan negeri-negeri yang ada di sekitar Makkah. Namun, usaha itu tak membuahkan hasil sehingga Rasulullah mengutus Mush’ab bin Umair membawa misi dakwah islam dengan mengenalkan dan mengajarkan Islam di Madinah kepada Suku Aus dan Khazraj.

Ilustrasi bulan baru. (Foto: Freepik)

Usaha mengemban misi dakwah itu akhirnya membuahkan hasil. Pada 621 Masehi itu pula datanglah sejumlah orang dari Madinah menemui Nabi di Bukit Aqabah. Mereka memeluk agama Islam. Peristiwa tersebut dikenal dengan Bai’at Aqabah I.

Tahun berikutnya, atau 622 Masehi, datanglah 73 orang dari Madinah ke Makkah. Mereka merupakan Suku Aus dan Khazraj yang semula ingin berhaji. Mereka kemudian menemui Nabi dan mengajak berhijrah ke Madinah. Mereka menyatakan siap membela dan melindungi Nabi dan para pengikutnya dari Makkah. Peristiwa ini dikenal dengan Bai’at Aqabah II.

Baca juga: Keistimewaan Muharram, Bulannya Allah dan Pembuka Tahun Hijriah 

Kondisi kaum muslim di Makkah semakin terdesak setelah kaum kafir Quraisy melakukan pemboikotan kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan para pengikut beliau. Mereka melarang setiap perdagangan dan bisnis dengan Nabi dan pengikutnya. Bahkan dilarang menikah dengan kaum Muslimin.

Dalam upaya menyelamatkan dakwah Islam, Allah Subhanahu wa ta'ala memerintahkan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam untuk berhijrah dari Makkah ke Madinah. Namun sebelumnya, Nabi telah memerintahkan kaum mukminin agar hijrah terlebih dahulu ke Madinah. Para sahabat pun segera berangkat secara diam-diam agar tidak dihadang oleh kelompok kafir Quraisy. Dari peristiwa inilah babak baru kehidupan kaum Muslimin dimulai.

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Memaknai Hijrah

Kata Hijrah merupakah isim (kata benda) dari fi’il Hajara. Hajara berarti tarku al ulaa li ats tsaniyah yang artinya meninnggalkan dari yang pertama menuju yang kedua. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS Al Baqarah: 218)

"Barang siapa yang berhijrah di jalan Allah niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barang siapa yang keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS An-Nisa: 100)

Baca juga: Sejarah Muharram: Termasuk Bulan Suci hingga Larangan Berperang 

Hijrah menurut Al Jurjani berarti berpindah dari daarul kufur kepada daarul Islam. Sedangkan menurut Ibnu Hazm, hijrah adalah tobat meninggalkan segala dosa. Menurut Ibnu Rajab al Hanbali, hijrah berarti meninggalkan dan menjauhi keburukan untuk mencari, mencintai dan mendapatkan kebaikan. Patutlah kita renungkan secara mendalam makna hijrah seperti yang telah disampaikan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam di dalam hadisnya yang berbunyi:

"Seorang Muslim adalah orang yang menjadikan Muslim lain selamat dari lisan dan tangannya seorang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa saja yang dilarang oleh Allah." (HR Bukhari, Abu Daud, Nasai, Ahmad, Hakim, Ibn Hibban, Humaidi)

Dari sini bisa dimaknai bahwasanya orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan segala apa saja yang dilarang oleh Allah Subhanahu wa ta'ala untuk mendapatkan kebaikan di sisi Allah Ta'ala.

Baca juga: Muharam Bulan Istimewa, Ini 5 Peristiwa Penting di Dalamnya 

Orang yang istikamah menutup aurat demi menunaikan kewajibannya kepada Allah Ta'ala bisa dikatakan telah berhijrah. Seorang artis yang meninggalkan dunia keartisannya demi mendekatkan diri kepada Allah dengan memperbanyak ilmu agama itu juga disebut dia sedang berhijrah.

Kaum Muslimin yang meninggalkan segala bentuk penghambaan kepada manusia menuju penghambaan kepada Allah Subhanahu wa ta'ala semata itu juga bisa disebut hijrah. Dan masih banyak lagi perbuatan-perbuatan yang sejenis di mana hijrahnya seseorang dari keburukan menuju kebaikan dan ridho Allah, dilakukan dengan sepenuh jiwa, bukan setengah hati.

Menghidupkan Hijrah dalam Kehidupan

Hjirah dan tahun baru Islam 1 Muharram 1442 Hijriah tidak sekadar gelaran tahunan yang terlewatkan begitu saja. Marilah memaknai momen hijrah di bulan Muharram ini dengan segala kebaikan-kebaikan amal, di antaranya:

Pertama, hikmah hijrahnya Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam adalah beliau mempersaudarakan kaum Muhajirin (kaum Muslim Makkah yang berhijrah) dengan kaum Anshar (kaum Aus dan Khazraj yang menjadi penolong Rasul dan para sahabat) sehingga tidak ada lagi batas dan sekat kesukuan dan kebangsaan di antara mereka. Mereka hanya diikat dengan ikatan akidah Islam dan ukhuwah Islamiyah.

Sekiranya hal itu patut diteladani misalkan dalam perkara menolong saudara-saudara Muslim di Rohingya dan wilayah lainnya. Segala bantuan baik berupa harta, tenaga, bahkan militer harusnya dilandaskan pada ikatan akidah Islam bukan kepentingan nasional bangsa masing-masing.

Baca juga: 3 Amalan Penting di Bulan Muharam, Yuk Laksanakan 

Kedua, peristiwa hijrahnya Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam juga mengingatkan pada betapa besarnya pengorbanan yang diberikan para sahabat dan pengikut beliau dengan meninggalkan harta, keluarga, bahkan mempertaruhkan nyawa mereka untuk senantiasa mengikuti Rasullulllah.

Dari cerminan hijrah yang mereka lakukan, sungguh terlihat betapa tidak lagi mendahulukan dunia dalam langkah hidupnya, melainkan mengorbankan dunia untuk kepentingan akhirat.

Maka layak bagi kita untuk senantiasa menjadikan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam sebagai teladan hidup kita baik dari pola pikir, sikap, bahkan diamnya Rasullullah pun menjadi hukum bagi kita. Itulah pangkal keberuntungan.

Baca juga: Resep Bubur Asyura untuk Rayakan Momen 10 Muharram 

Ketiga, jadikan spirit hijrah sebagai motivasi untuk senantiasa meningkatkan kualitas keimanan kita dalam beribadah serta ketaatan penuh kepada Allah Subhanahu wa ta'ala. Allah Ta’ala berfirman:

"Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul dan janganlah kamu merusakkan (pahala) amal-amalmu." (QS Muhammad: 33)

"Dan taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul, jika kamu berpaling maka sesungguhnya kewajiban Rasul Kami hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang." (QS At Taghabun: 12)

Maka perkara hijrah adalah kewajiban bagi kita yang mengaku bersyahadat kepada Allah Subhanahu wa ta'ala. Banyaknya problematika yang terjadi di negeri kita semisal korupsi, pelecehan seksual, perampokan, pembunuhan, dosa riba, berzina, dan lain sebagainya merupakan sekian contoh keburukan yang terjadi di negeri kita. Lalu bagaimana kita bisa mengubahnya agar keburukan itu diganti dengan kabaikan?

Baca juga: Yuk Puasa Tasua dan Asyura, Ini Niat dan Keutamaannya 

Maka menjadi kewajiban kita pulalah untuk melakukan perubahan itu dengan melakukan dakwah amar ma’ruf nahi mungkar. Sebagai wujud agar negeri kita segera berhijrah dari kekufuran menuju kepada kema’rufan dan rahmat, yaitu Islam. Berhijrah dari sistem yang menjauhkan dari ajaran Islam menuju sistem yang menghidupkan kembali kehidupan Islam. Berhijrah dari Muslim sekuler menuju Muslim taat Islam secara kafah.

Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan para sahabat rela menempuh jarak Makkah-Madinah 470 kilometer meninggalkan harta benda dan semua usaha, meninggalkan keluarga bahakan menghadapi risiko dibunuh atau tertawan. Lalu sudahkah kita berniat untuk hijrah? Sudahkan kita berhijrah dari apa yang dilarang oleh Allah Subhanahu wa ta'ala? Jawabannya ada di dalam keimanan serta hakikat diri kita sebagai hamba Allah Ta'ala.

Wallahu a’lam bisshawab.

Baca juga: Menikah pada Bulan Muharam Haram? 

Oleh:

Chusnatul Jannah

Lingkar Studi Perempuan dan Peradaban

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini