Share

Merayakan Idul Adha, Membela Kemanusiaan

Kamis 30 Juli 2020 11:57 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 30 614 2254383 merayakan-idul-adha-membela-kemanusiaan-KVIHxyyXgB.jpg Ilustrasi Sholat Idul Adha. (Foto: Okezone)

UMAT Islam yang berbahagia dan dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa ta'ala. Idul Adha atau yang biasa dikenal dengan Hari Raya Kurban merupakan salah satu hari kasih sayang yang dimiliki umat Islam. Hari kepedulian sosial dan kemanusiaan ditegakkan.

Idul Kurban sangat berbeda dengan zakat. Idul Kurban tidak ada paksaan sama sekali di dalamnya. Orang yang berkurban melakukannya dengan sukarela. Tidak dipaksa atau dilakukan dalam keadaan sadar. Sementara zakat, suka tidak suka, wajib dikeluarkan. Meskipun, dampak zakat terlihat lebih besar secara kemanusiaan daripada berkurban.

Baca juga: JK: Sholat Idul Adha Harus Patuhi Protokol Kesehatan, di Lapangan Lebih Baik 

Namun jika dilihat secara kualitas orang yang berkurban, secara pribadi jauh lebih baik ketimbang pelaku zakat. Sebab zakat merupakan kewajiban yang harus dilakukan. Jika kurban itu dilakukan dalam keadaan sulit, tentu kualitas pribadi seseorang jauh lebih baik.

Hari Raya Kurban, bagi orang yang tidak memahami latar sejarah, mungkin dianggap bengis dan menakutkan. Sebab pada hari itu banyak sekali hewan yang disembelih. Jutaan darah hewan ditumpahkan.

Secara kasat mata memang begitu, tapi jika dilihat dari sejarahnya, sesungguhnya berkurban membela kemanusiaan dan kepedulian sesama manusia. Hari Raya Kurban meluruskan kembali keyakinan manusia terhadap sistem ketuhanan.

Philip K Hitti dalam bukunya History of Arabs menjelaskan bahwa sebelum Islam datang di jazirah Arab Tuhan dikenal sangat kejam dan bengis. Tuhan yang disimbolkan dengan berhala selalu meminta tumbal hewan dan darahnya dilumurkan di berhala-berhala tersebut. Seolah-olah Tuhan (berhala) haus darah. Tuhan butuh daging-daging tersebut.

Bahkan di sepanjang sungai Nil, masih dalam buku tersebut dijelaskan, jika sungai Nil meluap, masyarakat di sekitar sungai beranggapan penguasa (Tuhan) sungai Nil membutuhkan tumbal. Itulah sebabnya seorang perempuan perawan selalu dikorbankan. Perempuan tersebut dilempar ke sungai Nil sebagai tumbal atas permintaan penguasa sungai.

Baca juga: Dahsyatnya Hari Arafah, Pintu Langit Dibuka dan Semua Dosa Diampuni 

Tradisi kuno tersebut membuktikan bahwa Tuhan sangat kejam. Butuh pengorbanan seorang manusia ketika marah. Hal demikian hampir terjadi semua penjuru dunia.

Ketika Islam hadir di jazirah Arab perubahan keyakinan tersebut terjadi. Islam memperkenalkan kepada manusia bahwa Tuhan tidak sejahat yang dituduhkan. Tuhan tidak butuh tumbal, Tuhan tidak butuh darah, yang dibutuhkan Tuhan hanyalah ketakwaan hambanya. Jika ditelisik lebih dalam, makna takwa juga menunjukan manusia yang shaleh dalam kehidupan dunia (muamalah). Artinya kehadiran agama dan sistem ketuhanan adalah tidak lain untuk menciptakan tatanan dunia (kehidupan) yang memanusiakan manusia.

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Memanusiakan manusia tidak lain menjadi manusia yang berakhlak. Manusia yang peduli dengan manusia lainnya. Manusia yang dipenuhi rasa kasih dan sayang.

Itulah sebabnya di dalam Alquran dijelaskan bahwa Tuhan tidak membutuhkan darah dan daging yang dikurbankan, melainkan ketakwaan. Sementara daging yang dikorbankan dibagikan kepada orang miskin yang membutuhkan.

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنْكُمْ ۚ كَذَٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ ۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ

Artinya: "Daging-daging dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik." (QS Al-Hajj: 37)

Baca juga: Takjubnya Jamaah Haji saat Tawaf Berjarak, Rasanya seperti Mimpi 

Jadi hakikat Hari Raya Kurban tidak lain adalah bertujuan membela kemanusiaan. Menumbuhkan kesadaran pribadi untuk mengeluarkan sebagian harta, baik dalam keadaan susah maupun mudah, untuk orang lain yang membutuhkan. Tanpa kesadaran pribadi, pasti banyak tidak melakukan hal ini.

Namun perlu diingat pula, kesadaran berkurban juga harus selaras dengan sistem keyakinan yang dibangun, yakni meyakini bahwa Tuhan tidak kejam. Tuhan tidak membutuhkan tumbal.

Sifat Tuhan di ayat pertama Surah Al-Fatihah merupakan bukti yang paling kuat. Tidak dapat dibantah. Tuhan menjelaskan, "Aku adalah Ar-Rahman dan Ar-Rahim." Dua sifat Tuhan tersebut melingkupi semua sifat-sifat Tuhan lainnya.

Hewan kurban. (Foto: Okezone)

Ketika kita diminta untuk mengucapkan basmallah, itu menandakan tindakan yang dilakukan jangan sampai melupakan nilai kasih dan sayang. Jadi di balik ucapan tersebut tersimpan perintah untuk menjaga kasih dan sayang. Menjaga perdamaian. Menjaga nilai-nilai kemanusiaan yang paling luhur.

Sayangnya ucapan basmallah tidak pernah diresapi dengan baik. Akhirnya banyak orang mencaci dengan membaca basmallah. Orang mencuri atau korupsi dengan membaca basmallah. Orang membunuh dengan membaca basmallah.

Kata basmallah hanya menjadi simbol dan tradisi yang tidak bermakna sama sekali. Basmallah hanya menjadi ritual membuka acara yang isinya memperbincangkan kebengisan.

Baca juga: Hari Arafah, Waktu Terkabulkannya Doa-Doa 

Kata Hari Raya Kurban berasal dari kata qaraba-yaqrabu yang artinya dekat. Jadi orang yang berkurban adalah orang yang dekat hatinya kepada Tuhan. Dapat juga dimaknai bahwa berkurban tidak lain adalah upaya mendekatkan diri kepada Tuhan.

Dua makna ini tentu saja identik dengan orang yang bertakwa. Orang yang bertakwa pasti ingin selalu dekat kepada Tuhan. Oleh sebab itu dia selalu mencoba menjaga hubungan baik dengan Tuhan. Caranya sederhana jangan sampai terjebak pada maksiat.

Ayat-ayat yang berbicara tentang takwa selalu menegaskan dua relasi kebaikan, yakni relasi dengan Tuhan yang disimbolkan dengan ibadah, dan relasi dengan manusia yang selalu disimbolkan dengan pembelaan terhadap kemanusiaan. Sebagaimana ayat berikut:

لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آَمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآَتَى الْمَالَ عَلَى حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآَتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ أُولَئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ

Artinya: "Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa." (Al-Baqarah: 177)

Baca juga: Hari Ini Jamaah Haji Wukuf di Arafah 

Info grafis hewan kurban. (Foto: Okezone)

Jika kita telaah kisah Ibrahim yang menjadi simbol ibadah kurban, pertanyaan yang muncul adalah siapakah yang berkurban? Ibrahim atau Ismail? Jawabannya adalah keduanya telah melakukan pengorbanan.

Ibrahim harus mengorbankan anak semata wayang yang dicintai. Sementara Ismail mengorbankan masa mudanya yang untuk ukuran saat ini sangat mustahil dilakukan. Hal terpenting dari pengorbanan dua tokoh tersebut adalah semua berorientasi melepaskan ke-egoan-nya. Mereka melepaskan sifat ananiyah (selfish).

Namun tidak berhenti sampai di situ. Setelah melepas sifat individualistik, mereka memiliki orientasi menyenangkan orang lain. Orang lain yang dimaksud adalah Tuhan. Ibrahim mencoba melepaskan cinta kepada anak hanya untuk mencintai Allah Subhanahu wa ta'ala, sementara Ismail melepaskan cinta pada usia muda, dengan dasar kepatuhan kepada Allah Ta'ala.

Baca juga: Hujan Mengiringi Penggantian Kain Kiswah Penutup Kakbah 

Jadi ada nilai ketuhanan di balik proses berkurban. Itulah sebabnya berkurban selalu berdasarkan pada keikhlasan. Tingkat keikhlasan yang paling tinggi tidak lain adalah mengharapkan ridha Allah Subhanahu wa ta’ala. Bukan ridha yang lain.

Namun, Tuhan tidak menginginkan adalah darah yang dikurbankan. Itulah sebabnya bukti ketulusan dua orang tersebut digantikan dengan simbol pengorbanan hewan ternak. Artinya, kalau manusia tulus cintanya kepada Allah, pasti dia tulus cinta kepada manusia. Itulah sebabnya merayakan Idul Kurban sama dengan Membela Kemanusiaan.

Baca juga:  Dahsyatnya Puasa Arafah, Menghapus Dosa Tahun Lalu dan Sesudahnya 

Oleh:

Sunanto

Ketua PP Pemuda Muhammadiyah

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini