Share

Alasan Kain Kiswah Kakbah Dinaikkan Setiap Mendekati Puncak Ibadah Haji

Saskia Rahma Nindita Putri, Jurnalis · Kamis 23 Juli 2020 16:39 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 23 614 2251019 alasan-kain-kiswah-dinaikkan-setiap-mendekati-puncak-ibadah-haji-Dtmsepg0FJ.png Kain kiswah penutup Kakbah. (Foto: Istimewa/The Islamic Information)

KISWAH adalah kain yang menutupi Kakbah di Kompleks Masjidil Haram, Kota Makkah, Arab Saudi. Kain ini diganti setiap tahun, tepatnya pada tanggal 9 Dzulhijjah. Pergantian kain kiswah Kakbah rutin dilakukan ketika menjelang puncak ibadah haji atau saat para jamaah berjalan ke Bukit Arafah.

Mengutip dari The Islamic Information, Kamis (23/7/2020), kemudian setiap tahunnya kain kiswah juga dinaikkan lalu bagian bawahnya diganti dengan menggunakan kain putih. Momen ini dilakukan saat memasuki awal musim Haji.

Baca juga: Kiswah Kakbah Diangkat Penanda Musim Haji Dimulai 

Digulung dan dinaikkannya kain sepanjang 3 meter ini untuk mencegah kerusakan ketika terjadi kerumunan jamaah haji. Biasanya para staf kesulitan mengendalikan kerumuman jamaah haji, terutama saat memasuki jam-jam sibuk.

Tidak hanya itu, digulungnya dan dinaikkannya kain kiswah juga untuk menghalangi adanya oknum jamaah melakukan pemotongan. Sebab ada sebagian di antara mereka memercayai mitos keajaiban kain kiswah, jadi ada yang membawa gunting dan memotongnya.

Bahkan beberapa di antaranya mencoba menuliskan nama mereka di kain kiswah tersebut, sehingga tidak jarang ditemukan kerusakan.

Sementara kain putih yang dipasang di sekitar Kakbah juga menjadi tanda dimulainya musim haji. Beberapa waktu sebelumnya kiswah sempat diangkat tanpa kain putih, namun dalam beberapa tahun terakhir otoritas setempat mulai menambahkan kain-kain untuk sementara.

Sekadar diketahui, kain kiswah Kakbah ini terbuat dari 670 kilogram kain sutera berwarna hitam, 120 kilogram benang emas, dan 100 kilogram benang perak. Benang-benang tersebut untuk mengukir juga menjahit ayat-ayat suci Alquran.

Memudarnya warna dari penutup Kakbah sudah terlihat seiring berjalannya waktu. Dahulu Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam menutupnya dengan kain bergaris merah dan putih dari Yaman. Sementara Sahabat Abu Bakar As-Siddiq, Umar bin Khattab, dan Usman bin Affan menutupnya dengan kain putih. Lalu Ibnu Al Zubayr menutupnya dengan kain brokat merah.

Baca juga: Cerita di Balik Pemilihan Warna Kain Kiswah Penutup Kakbah 

Di era Abbasid, Kakbah ditutupi dengan kain putih dan terkadang kain merah. Sementara Sultan Seljuk menutupinya dengan brokat kuning. Kalifah Al-Nassir dari Abbasid mengubah warna kiswah menjadi hijau, kemudian brokat hitam. Warna inilah yang dipakai sampai sekarang.

"Kakbah ditutupi dengan warna kain yang berbeda-beda tergantung situasi era pada saat itu. Terkadang warna putih, merah, hitam," ungkap Dr Fawaz Al Dahas, direktur Pusat Sejarah Makkah, dikutip dari Arabnews.

Qubati adalah jenis kain terbaik yang digunakan untuk menutupi Kakbah yang dibawa dari Mesir. Kain dari Yaman juga dikenal memiliki kualitas kain yang baik untuk menutupi Kakbah saat itu.

Kain kiswah penutup Kakbah. (Foto: Istimewa/The Islamic Information)

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Terdapat berbagai alasan mengapa warna kain kiswa berganti-ganti. Awalnya memakai warna putih karena merupakan warna yang paling cerah, tetapi tidak tahan lama. Lama-kelamaan berubah warna karena menjadi kotor dan rusak karena para jamaah haji menyentuhnya. Karena itulah digantilah dengan brokat berwarna hitam dan putih. Juga Shimla, kain yang dipakai untuk tenda-tenda di Arab.

Al Dahas menambahkan bahwa jenis-jenis kain yang digunakan untuk kiswah tergantung kemampuan finansial di masa tertentu. Perspektif orang-orang memengaruhi perubahan terhadap warna kiswah. Diubah dengan ditutupi dengan brokat merah dan kain qubati. Kemudian antaa seperti permadani atau musouh yaitu semacam kain juga.

Baca juga: 3 Tempat yang Membuat Doa Mustahil Menjadi Terkabul 

Kain kiswah penutup Kakbah. (Foto: SPA/Arabnews)

"Dari waktu ke waktu kiswa selalu berubah-ubah jika ada kain baru yang tersedia. Ini selalu terjadi semenjak era kekalifahan Rashidun, Ummayah, dan Abbasid," jelas Al Dahas.

Warna hitam menjadi pilihan untuk kiswah di akhir kekalifahan Abbasid. Sebab warna ini bertahan lama dan tetap terlihat bersih jika disentuh para pengunjung, jamaah, dan orang-orang dari seluruh dunia.

Dengan berlanjutnya aktivitas umrah, kiswah dinaikkan sedikit ke tengah Kakbah untuk menjaga dan mencegah orang-orang menyentuhnya.

Baca juga: Arab Saudi Keluarkan Protokol Kesehatan Haji, Jamaah Dilarang Sentuh Kakbah 

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini