Kisah Raja Namrud Mengaku Tuhan, Membakar Nabi Ibrahim dan Mati Diserang Lalat

Saskia Rahma Nindita Putri, Jurnalis · Senin 27 Juli 2020 15:26 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 27 614 2252760 kisah-raja-namrud-mengaku-tuhan-membakar-nabi-ibrahim-dan-mati-diserang-lalat-MYcpUzsNFx.jpg ilustrasi (stutterstock)

NABI Ibrahim a’laihissalam dikenal sebagai bapaknya para nabi, karena keturunannya banyak diangkat menjadi nabi. Lahir di Babylonia, salah satu kota di Irak yang kala itu dikuasai oleh Raja Namrud yang angkuh dan kejam.

Raja Namrud menekankan kepada rakyatnya bahwa dirinya Tuhan. Siapa yang taat kepadanya akan mendapat imbalan atas apapun yang diinginkan, sebaliknya bagi yang tidak menurut kepadnya akan dihukum bahkan dihabisi.

Di suatu malam, Raja Namrud bermimpi melihat kerajaannya hancur dan terbakar. Ia kemudian meminta masukan dari peramal dan ahli tafsir mimpi di kerajaannya. Kebanyakan mereka tak bisa meramalkan apa arti mimpi Namrud.

Lalu, seseorang berkata bahwa pada malam itu telah lahir seorang anak laki-laki di Babilonia yang akan menghancurkan Kerajaan Namrud di masa mendatang. Mendengar tafsir tersebut, Namrud memerintahkan prajuritnya untuk mencari ada tidak anak laki-laki yang lahir pada malam dirinya bermimpi. Bila ada, maka jangan biarkan hidup.

Baca juga: Meneladani Kearifan Syuraih Al-Qadhi dalam Mendidik Istri

Azar, ayah Nabi Ibrahim saat itu orang kepercayaan Raja Namrud dan ahli pembuat patung. Saat itu dia datang ke Istana Namrud kemudian mengetahui informasi itu.

“Di sore harinya, baru saja istrinya melahirkan putranya, Ibrahim. Maka ia langsung pulang ke rumah dan mengatakan kepada istrinya untuk membawa Ibrahim ke hutan supaya Namrud tidak membunuhnya,” jelas pendakwah Ustadz Khalid Basalamah dalam sebuah kajian tentang nabi yang turut disiarkan di chanel Youtube Khalid Basalamah Official.

Sekian tahun dalam persembunyian, Ibrahim tumbuh muda dan terus mencari kebenaran dan Tuhan. Ia tak percaya pada berhala-berhala yang disembah kaumnya dan juga Raja Namrud. Akhirnya Ibrahim diangkat oleh Allah menjadi nabi.

Setelah menerima wahyu Allah dibawa malaikat Jibril, Nabi Ibrahim kembali ke Babilonia berdakwah, mengajak orang-orang menyembah Allah, dan meninggalkan berhala karena ia benda mati dan tidak bisa memberi apa-apa.

Nabi Ibrahim menuju sebuah kuil besar. Di sana Ibrahim melihat orang-orang sekitarnya sedang duduk menyembah dan memberikan sesajen. Di sekelilingnya pun terlihat berbagai jenis patung. Ia merasa ini menyimpang, patung bukanlah untuk disembah, terlebih dianggap Tuhan karena patung merupakan benda mati yang tak bisa melakukan apapun untuk membantu manusia.

Nabi Ibrahim pertama kali mendakwahi ayahnya lalu kaumnya. Perjuangan Ibrahim menyadarkan rakyat Babilonia untuk kembali ke jalan Allah SWT tertulis dalam Surah Al Anbiya Ayat 52-73, di mana diceritakan bahwa saat itu Ibrahim masuk ke tempat ibadah yang bentuknya serupa dengan piramida Mesir dan menemui ayahnya, dilihatlah banyak patung berjejeran termasuk patung dari Namrud.

Menghancurkan Berhala

Orang-orang di sana menamai patung-patung itu dengan sebutan berbagai macam nama dewa, serta dengan rutin memberikan sesajen kepada benda mati itu.

Nabi Ibrahim menghampiri patung-patung itu dan mengajaknya bicara. Tentu saja patung tak bisa bicara. Hal ini sengaja dilakukan Ibrahim guna menyadarkan rakyat Babilonia bahwa patung itu tidak bisa apa-apa. Tuhan sebenarnya adalah Allah, bukanlah patung yang mereka buat sendiri lalu disembah. Saat itu, mayoritas rakyat Babilonia memusuhi Nabi Ibrahim.

Nabi Ibrahim tak hilang akal. Suatu malam, saat kuil kosong tanpa aktivitas, beliau masuk dengan mambawa kapak lalu menghancurkan puluhan patung di dalamnya, kecuali satu. Patung Namrud yang paling besar itu sengaja disisakan lalu digantungkan kapak.

“Ada banyak sekali patung seperti patung ular, patung singa, dihancurkan semua dan ditaruh di pahanya patung Namrud. Kapaknya juga ditaruh di tangannya patung Namrud,” tutur Khalid Basalamah.

Baca juga: Kisah Salman Al-Farisi Mencari Rasulullah hingga Akhirnya Memeluk Islam

Esok paginya, saat para rakyat Babylonia kaget saat masuk kuil untuk beribadah. Mereka melihat berhala-berhala mereka telah hancur. Akhirnya ketahuan selama ini Nabi Ibrahim yang paling menentang sesembahan mereka.

Mereka kemudian mendatangi Nabi Ibrahim.

“Hai Ibrahim, apakah kau yang melakukan ini pada Tuhan-Tuhan kami?” tanya mereka.

“Kenapa tanya saya? Tanya patung yang paling besar itu yang pegang kapak,” jawab Nabi Ibrahim.

Ibrahim melanjutkan, “coba lihat, kalau memang dia bisa berbuat apa-apa, maka dia yang melakukan. Kalau kalian yakin bahwa ia tak bisa melakukan apa-apa lalu mengapa kalian anggap ia sebagai Tuhan?”

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Menyadari perkataan Nabi Ibrahim benar, rakyat Babilonia menunduk saja. Namun ada di antara mereka yang marah dengan pernyataan Ibrahim lalu melaporkannya ke Raja Namrud.

“Namrud ini punya tradisi setiap pagi, setelah bersih habis mandi, ia selalu duduk di atas tirai, lalu diangkat oleh para pengikutnya dan semuanya begitu melihatnya akan sujud kepada Namrud dan mengatakan ‘Wahai Tuhan Kami Agung Namrud’,” cerita Khalid Basalamah.

“Pada saat itu, Nabi Ibrahim datang ke sana bersama berbondong-bondong manusia masuk ke dalam. Semua orang sujud kepada Namrud, kecuali Nabi Ibrahim. 40 tahun Namrud disujudi dan tidak pernah ada orang bangkang kecuali pada saat itu.”

Namrud bertanya ke Nabi Ibrahim kepada ia tidak sujud kepadanya.

“Aku Ibrahim utusan Allah SWT. Dari mana asalnya kau menyebut dirimu Tuhan? Kau adalah manusia, sama seperti saya, dan juga kami semua. Tuhan hanyalah Allah SWT, Yang Maha Menghidupkan dan Mematikan.”

Namrud menantang Nabi Ibrahim dan ingin membuktikan bahwa dirinya mampu menghidupkan dan mematikan orang.

Namrud memerintahkan prajuritnya menangkap dua pria yang lewat di depan istananya. Satu di antaranya langsung dibunuh tanpa ada yang bisa membantu, satu lagi dibiarkan hidup dengan banyak hadiah.

Membakar Nabi Ibrahim

Nabi Ibrahim tak hilang akal. Beliau meminta Namrud segera menggerakkan matahari dari timur ke barat jika memang dia sebagai Tuhan. Namrud akhirnya terdiam jengkel. Dia memerintahkan prajuritnya menangkap dan memenjarakan Nabi Ibrahim.

“Namrud berpikir tentang apa kira-kira jalan keluarnya, dan keinginan untuk membunuh Ibrahim, tapi tak mau dengan cara yang biasa sehingga tak ada lagi yang membantah ketuhanannya,” kata Khalid Basalamah.

“Sampai munculah ide untuk membakar, karena bakar adalah cara membunuh yang paling menyakitkan. Dibuatlah api dengan biaya besar, Namurd kerahkan segala kekuatan hingga terbuatlah api. Dalam (hadist) riwayat Bukhari disebutkan, kalau burung lewat dan kena asapnya saja, meski terbangnya tinggi, tiba-tiba sudah terpanggang, karena saking besarnya.”

Nabi Ibrahim dikeluarkan dari penjara lalu dilempar ke korbaran api yang sangat besar. Setelah itu Namrud perintahkan untuk membiarkan Ibrahim terpanggang api selama 3 hari.

Mukjizat diturunkan Allah SWT kepada Ibrahim yang tak sedikitpun terbakar kulit dan dagingnya oleh api, hingga selamatlah ia.

“Semua orang yang melihat dalam kondisi bingung, kok bisa Ibrahim, manusia mana dibakar tidak mati. Dan tersebar berita bahwa Tuhan Namrud tidak bisa membunuh Ibrahim karena Ibrahim dibela sama Tuhannya,” tutur Khalid Basalamah.

Dibunuh Lalat

Namrud yang kehilangan akal untuk membunuh Nabi Ibrahim masih tak sadar untuk menyembah Allah SWT. Maka diceritakan suatu waktu datanglah seekor lalat yang masuk ke lubang hidungnya. Lalat itu menyerang dirinya hingga turun perintah kepada para prajuritnya untuk membunuh serangga kecil ini namun tak ada yang mampu melakukannya.

Dengan kuasa Allah SWT, lalat itu masuk ke tubuhnya melalui lubang hidungnya dan menetap di dalam otak, tak keluar selama tiga hari. Bisingnya serangga dalam kepalanya itu membuat dirinya tak henti memukuli kepalanya sendiri hingga akhirnya Namrud meninggal dunia.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini
Adzan Shubuh Adzan Dzuhur Adzan Ashr Adzan Maghrib Adzan Isya