Meneladani Kearifan Syuraih Al-Qadhi dalam Mendidik Istri

Saskia Rahma Nindita Putri, Jurnalis · Senin 27 Juli 2020 13:23 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 27 330 2252664 meneladani-kearifan-syuraih-al-qadhi-dalam-mendidik-istri-agIMDJpi3M.jpg Ilustrasi (Foto: Shutterstock)

SEORANG suami sekaligus kepala rumah tangga berakhlak baik merupakan idaman bagi setiap wanita. Memenuhi kriteria ideal tersebut tentunya tak mudah, diperlukan iman dan ketakwaan sebagai seorang pemimpin dalam keluarga yang mampu dijadikan panutan oleh seluruh anggota keluarga.

Dengan hal ini, maka diharapkan seorang suami dapat membimbing dan memotivasi seluruh anggota keluarga dalam hal kebaikan dan ketaatan terhadap Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Dikisahkan oleh Ustadzah Oki Setiana Dewi dalam salah satu tausyiahnya, bahwa terdapat seorang tabi'in bernama Syuraih Al-Qadhi yang begitu bijaksana dan dapat dijadikan panutan sebagai seorang suami yang baik. Syuraih merupakan seorang tabi’in, yang juga diamanahkan oleh Sayyidina Umar bin Khattab untuk menjadi hakim.

Dikutip dari channel YouTube, Oki Setiana Dewi, pendakwah ini menceritakan awal mula sang hakim bertemu dengan seorang wanita yang kemudian ia persunting sebagai istri.

“Suatu ketika berjalan dalam sebuah perkampungan bernama perkampungan Bani Tamim, dan melihat ada wanita tuda bersamaan dengan gadis muda sedang duduk di sebuah tikar. Dan kemudian Syuraih Al-Qadhi ini merasa kehausan, dan meminta minum kepada wanita tersebut. Barulah ia tahu bahwa dua orang tersebut adalah ibu dan anak,” kata Oki.

Baca juga: Perempuan Berhijab Bikin Ventilator Bantu Rumah Sakit Tangani Covid-19

Dikisahkan bahwa gadis yang bersama dengan wanita tersebut memiliki paras yang sangat rupawan. Merasa terpesona, langsunglah Syuraih menanyakan kepada wanita tua itu, memastikan apakah gadis di sampingnya adalah benar putrinya.

Sang wanita tua membenarkan pembicaraan Syuraih, dan mengatakan bahwa putrinya belum menikah. Seketika Syuraih terpikir untuk mencoba serius dengan sang gadis, sepulang dari sana ia tak pernah melepaskan pikirannya dari paras gadis itu.

Singkat cerita, Syuraih akhirnya menikah dengan gadis cantik itu. Di awal pernikahan, sempat terbesit dalam pikirannya bahwa ia merasa sedikit bimbang lantaran terlalu cepat memutuskan untuk menikah.

Terlebih saat mengingat bahwa suku Bani Tamim, khususnya para wanitanya, perangainya sangat buruk, dan berbicara kasar. Karenanya, ia mengira bahwa istrinya memiliki sifat asli yang sama buruknya dengan ciri suku tersebut.

Namun, kembalilah Syuraih Al-Qadhi tersadar dari pikir panjangnya, bahwasanya ialah seorang pemimpin dari keluarganya bersama istrinya itu, maka ia yang bertanggung jawab atas bimbingan dan arahan menuju ke yang lebih baik terhadap keluarganya.

“Ia paham bahwa ialah pemimpin bagi keluarganya, maka ia pun pada akhirnya di hari pertama pernikahan tak banyak mengeluarkan kata-kata. Syuraih Al-Qadhi hanya melakukan sholat dua rakaat. Ia berkata kepada istrinya, “Engkau tahu, sebelum kita bersatu, kita disunahkan untuk sholat 2 rakaat terlebih dahulu.” Tanpa mengajak, tiba-tiba istrinya langsung mengikutinya di belakang,” kata Ustadzah Oki.

Di malam pertama pernikahan, di mana hendaknya pasangan baru menikmati waktu bersama, sang istri justru menundanya dan mengatakan bahwa ia ingin di malam itu untuk mengetahui lebih banyak tentang suaminya, saling berbagi atas apa yang disukai dan tidak disukai oleh sang suami, dan pula sebaliknya, sehingga mereka berdua dapat saling menghindari melakukan hal-hal yang tidak disukai oleh pasangannya.

Setahun kemudian sejak pernikahan tersebut, sang wanita tua yang merupakan ibu dari istri Syuraih datang ke rumah. Ia menanyakan kondisi sang anak selama menjalin kehidupan rumah tangga bersama Syuraih Al-Qadhi.

“Syuraih Al-Qadhi mengatakan, “Wahai Ibu, terima kasih telah mendidik anak yang luar biasa, istriku ini, atau anakmu ini, sangat melayaniku dengan baik,” jelas Oki mengisahkan kearifan Syuraih Al-Qadhi.

Sang ibu terkejut, lantaran dirinya sangat mengetahui watak dari anaknya yang tak jauh dari sifat suku Bani Tamim pada umumnya itu. Sang ibu menyadari adanya perubahan besar yang terjadi pada anaknya tersebut, dan kemudian menjelaskan bahwasanya perubahan sifat seorang wanita setelah menikah tidaklah lepas dari dua faktor utama, yakni suami yang saleh atau setelah lahirnya seorang anak.

“Sang ibu mengatakan, “Wahai Syuraih Al-Qadhi, biasanya wanita berubah itu ketika terjadi dua hal, pertama ketika suaminya mampu membimbingnya dengan baik, dan yang kedua kalau ia sudah punya anak. Namun nyatanya engkau pun belum dikaruniai seorang anak. Aku pun heran, sifat anakku ini bisa berubah karena bimbingan darimu," kata ibu mertua Syuraih.

Menyadari perubahan sifat pada anaknya, sang ibu lebih lanjut mengatakan bahwa jika Syuraih menemukan istrinya mulai membangkang dan durhaka kepadanya, maka sang ibu dengan rela mengatakan untuk Syuraih diperbolehkan memukul anaknya tersebut.

Nyatanya, akhlak terpuji ditunjukkan oleh Syuraih Al-Qadhi, di mana ia sama sekali tak pernah memukul dan mencela istrinya, bahkan hingga umur pernikahan mereka yang ke 20 tahun. Bahtera rumah tangga mereka bahkan menjadi panutan karena benar terbangun sebuah pernikahan yang sakinah mawaddah wa rahmah.

“Hikmah dari kisah ini, seorang istri bisa menjadi baik dan melayani suami dengan baik, karena sang suami menjalani fungsi sebagai pemberi contoh yang baik, menasihati dengan lemah lembut,” pesan Ustadzah Oki.

“Maka, berlemah lembutlah kepada wanita, maka ia akan patuh terhadapmu,” tutupnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini