Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Duduklah di Majelis Ilmu, Maka Akan Rasakan Lezatnya Iman

Saskia Rahma Nindita Putri , Jurnalis-Rabu, 05 Agustus 2020 |15:57 WIB
Duduklah di Majelis Ilmu, Maka Akan Rasakan Lezatnya Iman
Ustadz Hanan Attaki (Foto: Instagram/@hanan_attaki)
A
A
A

NIKMAT terbesar yang Allah Subhanahu wa Ta'ala berikan kepada hambaNya adalah nikmat iman dan Islam yang melebihi kenikmatan lainnya dalam bentuk apapun. Karena dengan memiliki iman maka manusia akan memiliki tuntutan dan tujuan kehidupan yang lebih jelas dan terarah sehingga akan menuai hal-hal baik ke depannya.

Mengetahui pentingnya iman dalam kehidupan manusia, maka sudah sepatutnya bagi kita untuk menjaga dan meningkatkan kadar keimanan masing-masing. Sebagaimana disebutkan dalam salah satu ayat di Alquran, Surat At-Taubah ayat 124 yang luar biasa untuk direnungkan maknanya. Di mana Allah Ta'ala berfirman yang artinya:

"Dan apabila diturunkan suatu surat, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata: 'Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turannya) surat ini?' Adapun orang-orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, dan mereka merasa gembira," (QS. At Taubah [9]:124).

Dai muda Ustadz Hanan Attaki menyampaikan bahwasanya iman pada dasarnya bukanlah suatu hal yang selamanya stabil. Ada kalanya iman begitu kuat dalam genggaman kita, namun ada juga masa di mana iman melemah dalam diri manusia.

“Iman itu pada tabiatnya tidak selalu stabil. Ada kalanya iman berada dalam keadaan nyaman dan kuat tetapi di lain waktu iman itu bisa drop dan lemah. Sedangkan kita selalu membutuhkan iman itu selama 24 jam sehari,” kata Ustadz Hanan, dinukil dari channel YouTubenya, Hanan Attaki, Rabu (5/8/2020).

Ia menambahkan, kebutuhan manusia akan iman bagaikan kebutuhan kita dengan udara. Dengan iman, maka jiwa yang dimiliki dapat merasa benar-benar hidup dan hati dapat ‘bernapas’. Kebutuhan akan iman jauh melebihi dari pulsa dan handphone.

Baca juga: Unik, Masjid Bersejarah Ini Dibangun Tanpa Paku dan Semen

Telepon seluler yang sudah menjadi perangkat wajib setiap manusia ini dianggap begitu penting yang apabila tertinggal maka pemiliknya tentu tak segan untuk mengambil handphonenya meski sudah berjalan jauh.

“Begitu juga dengan iman. Kita tak bisa meninggalkan rumah tanpa membawa iman. Kita butuh iman dalam banyak adegan kehidupan,” kata pendakwah asal Aceh ini.

“Iman dibutuhkan saat beribadah supaya kita bisa khusyuk dan semangat. Saat bergaul atau bermuamalah dengan orang lain pun iman diperlukan agar bisa berlapang dada terhadap sikap-sikap orang lain yang kadang-kadang tidak berkenan di hati. Ketika menghadapi orang jahil, iman tetap diperlukan agar kita mampu memaafkan kesalahan orang lain. Kita selalu membutuhkan iman dalam keadaan apapun, bahkan saat sedang diberikan sebuah nikmat agar bisa bersyukur," tuturnya.

Tak hanya itu, dalam hubungan rumah tangga dan berinteraksi dengan tetangga pun juga melibatkan iman. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam yang berbunyi: “Iman seseorang itu tidak akan sempurna hingga dia mencintai saudaranya (orang lain) sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri,”.

Hadits lainnya menyebutkan bahwa dari Abu Hurairah radhiallahuanhu, sesungguhnya Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam bersabda: "Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia berkata baik atau diam, siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia menghormati tetangganya dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya," (HR. Bukhari dan Muslim).

“Artinya semua hal dalam kehidupan ini berlandaskan iman. Iman menjadi salah satu kebutuhan penting dalam hidup. Bahkan mungkin lebih daripada udara untuk kita bernapas, air untuk minum dan makanan untuk makan. Kita membutuhkan iman lebih daripada semua hal itu,” ungkapnya.

Saking pentingnya iman dalam kehidupan kita, para ulama mengumpamakan iman ibarat sebuah akar dari pohon. Iman ibarat akar, di mana batang pohonnya ialah kesabaran dan buah-buahnya adalah segala kebaikan yang kita lakukan dalam kehidupan.

Karenanya, jika menginginkan pribadi yang baik, selalu berbahagia, lapang dada, mudah memaafkan orang lain, dan mudah bangkit dari keterpurukan, maka yang hal utama dan pertama yang harus dibangun adalah memupuk dan menyuburkan akar keimanan di dalam hati kita.

Teruntuk siapapun yang ingin tangguh dalam ujian hidup dan mampu bertahan untuk kembali bangkit ketika dilanda musibah, serta menantikan hadirnya segala keajaiban yang terjadi dalam hidup maka harus memperkuat dasarnya dahulu, yakni iman.

Seorang mukmin lanjut Ustadz Hanan, sejatinya selalu bersikap baik ketika mendapati kabar baik dan buruk dari kehidupannya. Mereka akan senantiasa bersyukur ketika mendapat kebahagiaan, dan selalu bersabar ketika sedang dilanda kesedihan.

Halaman:
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita muslim lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement