Orang Mengejar Akhirat Akan Selalu Merasa Diawasi Allah Ta'ala

Ade Naura, Jurnalis · Kamis 06 Agustus 2020 16:58 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 06 330 2258082 orang-mengejar-akhirat-akan-selalu-merasa-diawasi-allah-ta-ala-JRzbjlKJVC.JPG Ilustrasi (Foto: Shutterstock)

MANUSIA diciptakan Allah Subhanahu wa Ta'ala semata-mata untuk beribadah kepadaNya. Sepatutnya manusia memanfaatkan waktu yang ada untuk terus melakukan amal baik sebagai bekal di akhirat kelak.

Sebab, sekecil amal yang kita perbuat akan dicatat malaikat dan diperhitungkan di hari perhitungan (yaumul hisab).

Dai kondang Ustadz Khalid Basalamah mengatakan, manusia yang menargetkan akhirat maka akan mematuhi segala perintah Allah dan meninggalkan larangannya. Ia akan selalu merasa diawasi oleh Allah, sehingga tindakannya benar-benar dijaga.

Baca juga: Kunci Selamat Dunia-Akhirat, Amalkan 3 Hal Ini di Pagi Hari

Dalam sebuah hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

وعن ابن عمر – رضي الله عنهما- قال: أخذ رسول الله صلى الله عليه و سلم بمنكبي فقال: كن في الدنيا كأنك غريب، أو عابر سبيل وكان ابن عمر – رضي الله عنهما – يقول: إذا أمسيت فلا تنتظر الصباح، وإذا أصبحت فلا تنتظر المساء، وخذ من صحتك لمرضك، ومن حياتك لموتك. رواه البخاري

Artinya: Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma beliau berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memegang kedua pundakku seraya bersabda: “Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau musafir,” Ibnu Umar berkata: “Jika engkau berada di sore hari jangan menunggu datangnya pagi dan jika engkau berada pada waktu pagi hari jangan menunggu datangnya sore. Pergunakanlah masa sehatmu sebelum sakit dan masa hidupmu sebelum mati,” (HR. Bukhari).

“Orang kalau berpikir akhirat, hidupnya akan selalu merasa cukup, merasa aman dan selalu merasa terawasi,” ungkap Ustadz Khalid, dikutip dari channel YouTubenya, Khalid Basalamah Official, Kamis (6/8/2020).

Ustadz Khalid bercerita, suatu hari, Sayyidina Umar bin Khattab berjalan di padang pasir dan ditemui Badui seorang pengembala kambing. Pengembala ini tidak mengenal beliau. Dan Umar berkata: “Hai pengembala kambing, kami musafir, butuh kambing. Bagaimana kalau kambingmu kami beli?”

Pengembala kambing itu pun menjawab “ Wahai saudaraku aku hanya pengembala, ini kambing bukan punyaku. Ada pemiliknya, saya cuma diamanahkan saja,” Umar pun ingin memancing iman pengembala tersebut. Umar pun mengatakan pada pengembala tersebut, bahwa kambingnya akan dibeli dan ia akan dikasih uang, lalu katakan pada pemilik kambing itu bahwa kambingnya dimakan serigala.

Lalu, pengembala ini menangis terisak-isak sampai tidak bisa menjawab Umar. Setelah dia tenang, pengembala itu pun menjawab: “Andai saja pemilik pengembala ini tidak tahu bagaimana Tuhannya (Allah) pemilik gembala itu,” Umar pun ikut menangis. Seorang di padang pasir, pengembala kambing yang miskin karena akhirat bisa terkontrol tidak mau menjual barang yang bukan miliknya. Keesokan harinya beliau pun mengirim uang untuk membebaskan budak itu.

Bagaimana akhirat ini bisa mendorong orang untuk menjadi lebih berprestasi. Kalau orang targetnya dunia maka tidak akan ada sosialnya, selalu berpikiran tentang apa yang akan didapatkan dari seseorang.

“Setiap orang minta pertolongan, yang paling pertama saya dapat apa, tujuannya apa, manfaatnya apa, bukan itu. Orang berpikiran akhirat target utamanya adalah ini kesempatan orang meminta tolong maka saya akan dapat pahala dari dia. Maka berbeda, orang yang menargetkan akhirat akan beda targetnya,” tuturnya pendakwah kelahiran Makassar ini.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini