Share

Tahun Baru Islam 1442H Jadi Momen Penting untuk Hijrah

Mohammad Saifulloh, Jurnalis · Rabu 19 Agustus 2020 18:01 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 19 330 2264612 tahun-baru-islam-1442h-jadi-momen-penting-untuk-hijrah-q2jwzubBJX.jpg Ilustrasi hijrah. (Foto: Freepik)

DALAM kehidupan nyata, hijrah bisa bermakna perpindahan dari kemungkaran kepada ketakwaan, dari keterbelakangan kepada kemajuan, dari hal mudarat kepada yang manfaat, dan juga dari peradaban jahiliah ke peradaban yang bermartabat.

الذين ءامنوا وهاجروا وجاهدوا في سبيل الله بأموالهم وأنفسهم أعظم درجة عند الله , وأولئك هم الفائزون

"Orang-orang yang beriman, berhijrah dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan." (QS At-Taubah: 20)

Baca juga: Menag Puji Habib Novel Alaydrus Jaga Kerukunan Umat Beragama 

Dalam kitab suci Alquran tidak kurang dari 31 kata yang berasal dari kata Hajara atau Hijrah. Dari jumlah itu sekira 6 ayat yang menyebutkan kata Hajaruu (orang-orang yang berhijrah) bergandengan dengan kata Aamanuu (orang-orang yang beriman) dan Jahaduu (orang-orang yang berjihad).

Ayat yang dikutip tersebut adalah salah satunya. Belum lagi kata Hajaruu diiringi dengan kata Fillah (karena Allah) atau Fi Sabiilillah (di jalan Allah).

Di sisi lain, keimanan tidak selamanya diukur berdasarkan jumlah ibadah seorang kepada Allah Subhanahu wa ta'ala. Meskipun ada orang yang percaya kepada Tuhan dan rajin beribadah, baik ibadah wajib maupun sunah, belum tentu apa yang dilakukan itu menunjukan kesempurnaan iman. Sebab, Islam tidak hanya meminta umat percaya kepada Tuhan, kemudian beribadah terus-menerus, tetapi juga meminta peduli dengan lingkungan serta masyarakat sekitar.

Ilustrasi bulan baru. (Foto: Freepik)

Sesungguhnya keimanan berkait dengan kepekaan sosial. Semakin tinggi derajat keimanan seorang seharusnya tingkat sensitifnya terhadap problem keumatan juga semakin meninggi. Hal ini tercermin dalam diri Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam.

Selain tekun beribadah, Beliau juga terlibat aktif dalam menuntaskan problem keumatan, baik saat menetap di Makkah, terlebih setelah hijrah ke Kota Madinah.

Syekh Muhammad Mutawalli Asy-Sya'rawi satu dari sekian ulama dunia yang cukup berpengaruh pada abad ke-20, baik dalam bidang keagamaan, sosial, maupun politik internasional, khususnya wilayah Timur Tengah dalam tafsirnya menegaskan bahwa istilah hijrah hanya terjadi pada zaman Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassalam. Artinya tidak ada lagi hijrah setelah peristiwa Fathu Makkah atau pembebasan Kota Makkah.

Baca juga: 6 Amaliyah yang Bisa Dilakukan di Awal Bulan Muharram 

Jikalau ada istilah hijrah, maka yang dimaksud ialah suatu tindakan yang bertujuan mendapatkan pertolongan dalam menjalankan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa ta'ala. Sebagaimana pernah disinggung oleh Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam.

"Hakikat Muslim adalah seseorang yang orang-orang Muslim lainnya selamat dari lisannya dan tangannya. Sedangkan orang yang berhijrah itu adalah orang yang meninggalkan segala sesuatu yang dilarang Allah." (HR Al Bukhari)

Maknanya, hijrah zaman sekarang adalah upaya dari seseorang untuk meninggalkan segala larangan Allah Subhanahu wa ta'ala menuju pribadi yang lebih baik serta mengorientasikan hidupnya untuk taat kepada aturan-Nya.

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Tanggal 1 Muharram 1442 Hijriah merupakan momentum setiap manusia untuk melakukan perubahan, berubah manjadi diri yang baik, diri yang Allah berkahi dan ridhai, atau melalui ikhtiar mengubah lingkungan dan masyarakat sekitar menjadi lebih baik, terlebih di saat Allah menguji bangsa ini dengan wabah virus corona (covid-19) pada momen 75 tahun kemerdekaan, maka hijrah bisa dimaknai sebagai ikhtiar memerdekakan kaum dhuafa dan yatim sebagai bagian dari membentang kebikan dan jihad fi sabilillah dengan harta dan jiwa.

Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam sangat memuliakan para penyantun anak yatim, sebagaimana sabda beliau: "Aku dan penjamin anak yatim berada dalam surga seperti telunjuk dan jari tengah. Rasul mengisyaratkan dengan dua jari tengah dan menjarangkan jari-jari lainnya." (HR Bukhari dan Ahmad).

Baca juga: Ustadz Adi Hidayat Ungkap 4 Manfaat Sholat Tahajud, Nomor 1 Karier Terbaik 

Ikhtiar memerdekakan dhuafa dan yatim sebagai bagian dari hijrah seorang insan dapat diwujudkan dengan zakat, infak, dan sedekah yang ditunaikan.

Dikutip dari keterangan resmi Dompet Dhuafa, Rabu (19/8/2020), pentingnya menunaikan zakat bagi umat Islam ada dalam Alquran dengan ditulis sebanyak 27 ayat yang menyejajarkan zakat dengan perintah sholat.

Salah satu ayat tersebut adalah Surah Al Baqarah yang artinya: "Dan dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah berserta orang-orang yang ruku." (QS Al Baqarah: 43)

Baca juga: Sambut Tahun Baru Islam, Menag: Mari Bersatu Wujudkan Indonesia Maju 

Sholat merupakan tiang agama. Dari kesejajaran perintah zakat dan sholat tersebut bisa dimaknai bahwa zakat juga merupakan salah satu tiang agama. Zakat mampu memperkkukuh kehidupan masyarakat Islam sehingga tercapai kesejahteraan dan solidaritas bersama, sebagaimana Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam membangun peradaban Islam dari momentum hijrah Makkah ke Yatrsib serta menjadikan penduduk Madinah dan sekitarnya menjadi beradab dan lebih sejahtera.

Wallahu a'lam bishawab.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini