Ketum Muhammadiyah: Islam Mengandung Nilai Kemajuan Sepanjang Masa

Minggu 23 Agustus 2020 14:46 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 23 614 2266114 ketum-muhammadiyah-islam-mengandung-nilai-kemajuan-sepanjang-masa-n70Lz68o1m.JPG Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir (Foto: Suara Muhammadiyah)

ISLAM adalah agama yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan dan sesama serta lingkungannya menuju keselamatan dan kebaikan hidup umat manusia di dunia dan akhirat secara menyeluruh kapan dan di manapun.

Islam dan muslim tidak hidup di ruang vakum. Sepanjang sejarah risalah para Nabi hingga Rasul akhir zaman, kehadiran Islam selalu bergumul dengan zamannya.

Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir mengungkapkan, Islam diperuntukkan sebagai pedoman hidup umat manusia sepanjang zaman. Islam adaptif atas segala waktu dan tempat, shalih li-kulli zaman wa al-makan. Dalam konteks dunia modern yang demokratis, egaliter, dan berkeadaban bahkan Islam sangat menonjol orientasi ajarannya.

Ia menjelaskan, menurut Robert N Bellah, Islam merupakan agama yang sangat modern, yang kelahirannya menghentak struktur masyarakat Arab yang waktu itu serba terbelenggu dalam ketradisionalan.

Praktik kehidupan muslim di zaman Nabi dan khalifah utama (Khulafaur Rasyidun) sesudahnya juga menunjukkan keberhasilan Islam dalam mewujudkan tata kehidupan yang membawa kemajuan dan peradaban hidup yang bersifat kekinian atau kemoderenan.

Baca juga: Bolehkah Membuat Masker Berlafadz Nabi Muhammad?

"Islam menjadi pusat peradaban dunia selama berabad-abad lamanya ketika Barat berada di era kegelapan kala itu, karena agama ini merupakan ajaran yang mengandung nilai-nilai kemajuan untuk sepanjang masa. Itulah Islam dan peradaban Islam yang berkemajuan," ucap Haedar dikutip dari laman Suara Muhammadiyah, Minggu (23/8/2020).

Oleh karenanya kata dia, Islam ialah ajaran Allah yang kompatibel dengan pranata kehidupan umat manusia kapan dan di manapun. Termasuk dengan pranata kehidupan modern seperti demokrasi, hak asasi manusia, civil society, dan hal-hal yang menjadi bagian dari sistem sosial masyarakat maju. Termasuk di dalamnya mengenai relasi sosial antara laki-laki dan perempuan yang berbasis pada keadilan menurut ajaran Islam.

"Islam sebagai ajaran kompatibel dengan demokrasi dan mengandung spirit atau substansi demokrasi sebagaimana ditemukan dalam prinsip musyawarah. Praktik kehidupan muslim di zaman Nabi dan khalifah utama sesudahnya juga menunjukkan pelembagaan demokrasi," tuturnya.

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

"Namun demokrasi dalam Islam tidak sama sebangun dengan demokrasi Barat dan yang menjadi konvensi PBB, meskipun dalam sejumlah hal terdapat persamaan. Dalam demokrasi Islam selalu ada nilai-nilai (al-haq) yang harus ditegakkan dan bukan hasil dari konsensus atau aspirasi rakyat," imbuh Haedar.

Demikian pula tentang civil society atau masyarakat kewargaan kata dia, bahwa terdapat banyak prinsip ajaran Islam yang memberi apresiasi terhadap kesamaan, kemanusiaan, kebaikan, keterbukaan, kesejahteraan, dan lain-lain dengan basis moralitas dan nilai berdasarkan pada tauhid.

Haedar menambahkan, ajaran tauhid sendiri tidak sekadar berkaitan dengan prinsip keesaan ketuhanan dalam orbit hablum min Allah (hubungan dengan Tuhan), tetapi memiliki relasi dan konsekuensi pada prinsip-prinsip kemanusiaan (hablum minannas) yang utama.

"Rasulullah Muhammad bahkan telah membangun masyarakat madaniyah (masyarakat madani, civil Islam), yang memiliki napas yang sama dengan civil society. Deklarasi Madinah atau Piagam Madinah dikenal mengandung pernyataan universal tentang pandangan dunia Islam mengenai nilai-nilai luhur kemanusiaan, demokrasi, kesetaraan, pluralitas, dan hal-hal yang utama lainnya. Kejayaan Islam selama lima sampai enam abad di masa lampau antara lain dibangun di atas fondasi universalitas Islam," pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini
Adzan Shubuh Adzan Dzuhur Adzan Ashr Adzan Maghrib Adzan Isya