Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Dua Sahabat Syeikh Haji Mu'min-Raja Badung, Ida Cokorda Bukti Toleransi di Tanah Air

Tim Okezone , Jurnalis-Jum'at, 05 Februari 2021 |14:45 WIB
Dua Sahabat Syeikh Haji Mu'min-Raja Badung, Ida Cokorda Bukti Toleransi di Tanah Air
Masjid Assyuhada di Kampung Bugus, Pulau Serangan, Denpasar, Bali. (Foto: SINDOnews/Ist)
A
A
A

DENPASAR- Persahabatan Syeikh Haji Mu’min bin Hasanuddin dengan Raja Badung Ida Cokorda menjadi bukti toleransi di Indonesia sudah terbangun sejak lama.

Awal kisah persahabatan keduanya dimulai saat Syeikh Haji Mu’min bin Hasanuddin yang berasal Gowa, Sulawesi Selatan (Sulsel) terdampar di Pulau Serangan, Bali bersama rombongannya. Syeikh Haji Mu’min yang memiliki kesaktian tinggi kemudian membantu Raja Badung, Ida Cokorda Pemecutan III.

Baca Juga: Masjid Transparan di Arab Saudi, Pimpro: Surga Punya Banyak Pintu

Jejak Syeikh Haji Mu’min hingga saat ini masih ada di Kampung Islam Bugis, Pulau Serangan, Denpasar, Bali. Kampung Bugis, begitu biasa disebut, memiliki luas 2,5 hektare dari luas total Pulau Serangan 491 hektare. Untuk bisa mencapai kampung ini, butuh perjalanan sekitar 15 kilometer dari Kota Denpasar.

Dulunya, Serangan hanya pulau seluas 101 hektare dan terpisah dengan Pulau Bali. Namun sejak dekade 1990-an, pulau yang terkenal dengan sebutan Turtle Island ini tersambung oleh jembatan dan luasnya bertambah menjadi 491 hektare setelah adanya reklamasi.

Baca Juga: Fenomena Sumpah Demi Alex, Ulama: Perbuatan Syirik Meski Diucapkan Benar

Kampung Bugis dihuni sekitar 100 kepala keluarga dengan jumlah warga 285 orang. Mereka hidup secara berdampingan dan penuh toleransi dengan penduduk asli Bali yang mayoritas Hindu. Kebanyakan mata pencarian warga kampung adalah nelayan, karena letaknya yang dekat dengan pesisir pantai.

Berbagai penelitian menyebutkan Kampung Bugis ada sejak abad ke-17 Masehi. Mereka adalah orang-orang yang berasal dari Gowa, Sulawesi, yang memilih meninggalkan daerahnya setelah Belanda menguasai Kerajaan Gowa.

Pilihan itu diambil karena banyaknya aturan yang dikeluarkan pemerintah Belanda, salah satunya adalah perjanjian Bongaya. Aturan itulah yang membuat banyak orang pribumi pergi meninggalkan daerahnya.

Halaman:
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita muslim lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement