Bayt al-Hikmah atau Rumah Kebijaksanaan Menyimpan Ide Ilmu Pengetahuan Berkembang

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis · Selasa 23 Februari 2021 14:39 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 23 614 2366892 bayt-al-hikmah-atau-rumah-kebijaksanaan-menyimpan-ide-ilmu-pengetahuan-berkembang-XT09kvE0UL.jpg Patung seorang matematikawan Persia Muhammad Ibn Musa Al Khwarizmi di Uzbekistan. (Getty Images/BBC)

JAKARTA - Rumah Kebijaksanaan atau Bayt al-Hikmah bisa dilacak jika tak dihancurkan pada Abad ke-13. Namun bagi Jim Al-Khalili, seorang profesor fisika dari Universitas Surrey mengatakan; "Bagi kami yang penting bukanlah rincian di mana dan kapan Rumah Kebijaksanaan ini didirikan," ujarnya.

"Jauh yang lebih menarik adalah sejarah ide-ide ilmu pengetahuan itu sendiri dan bagaimana mereka berkembang dan membuahkan hasil," kata dia

Untuk menelusuri riwayat konsep matematika dari Rumah Kebijaksanaan, kita perlu melakukan sedikit perjalanan waktu.

Baca Juga: Ilmuwan Islam Muhammad Ibn Musa Al-Khwarizm Jadi Bapak Aljabar

Selama ratusan tahun hingga Renaisans Italia surut, ada salah satu nama yang identik dengan matematika di Eropa: Leonardo da Pisa, yang kemudian dikenal dengan sebutan Fibonacci.

Lahir di Pisa pada 1170, matematikawan Italia ini mendapatkan landasan gagasan besarnya di Bugia, sebuah kawasan perdagangan di pantai Barbary Afrika (pesisir Afrika Utara).

Di awal usia 20an, Fibonacci melakukan perjalanan ke Timur Tengah, karena terpikat dengan gagasan-gagasan yang datang ke barat dari India melalui Persia.

Baca Juga: Kakbah Juga Pernah Dilanda Banjir Hebat

Ketika kembali ke Italia, Fibonacci mempulikasikan Liber Abbaci, salah satu karya ilmuwan Barat pertama yang mampu menggambarkan sistem numerik Hindu-Arab.

Saat sistem Liber Abbaci pertama kali muncul pada 1202, angka Hindu-Arab hanya diketahui oleh sejumlah intelektual.

Baca Juga: Anggota TNI AD Jadi Imam Sholat Jamaah Bersama US Army

Di sisi lain, saudagar dan orang terpelajar Eropa masih berpegang teguh penghitungan dengan angka Romawi, yang membuat perkalian dan pembagian sangat tidak praktis (kalau tak percaya, coba kalikan MXCI dengan LVII!).

Buku Fibonacci mendemonstrasikan penggunaan angka dalam operasi aritmatika - teknik-teknik yang dapat diterapkan untuk memecahkan perhitungan praktis seperti margin keuntungan, penukaran uang, konversi berat, pertukaran barang, dan bunga.

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

"Mereka yang ingin mengetahui seni dalam berhitung, mengenai kepelikan dan kecerdikannya, harus tahu menghitung dengan tangan," tulis Fibonacci dalam bab pertama karya ensiklopedia miliknya, mengacu pada angka-angka yang sekarang dipelajari di sekolah (1, 2, 3, 4 dst.).

"Dengan kesembilan figur angka dan satu tanda 0, angka-angka apa pun bisa ditulis."

Akhirnya, matematika dapat digunakan dalam berbagai bentuk.

Kejeniusan Fibonacci ini bukan sekadar kreativitasnya sebagai seorang matematikawan, tapi juga ketekunan untuk memahami ilmu dari kalangan ilmuwan Muslim selama berabad-abad: rumus penghitungannya, sistem penempatan desimalnya, dan aljabar mereka.

Kenyataannya, gagasan sistem Liber Abbaci sebagian besar berdasarkan pada algoritma Al-Khwarizmi dari abad ke-9 .

Untuk pertama kalinya, risalah revolusionernya menyajikan sebuah cara yang sistematik untuk memecahkan persamaan kuadrat.

Oleh karena temuannya ini, Al-Khawarizmi sering disebut sebagai bapak aljabar - sebuah kata yang banyak memberikan manfaat - yang berasal dari kata Arab "al-jabr", yang artinya "memulihkan bagian yang rusak".

Pada 821 ia diangkat menjadi seorang astronom dan kepala pustakawan Rumah Kebijaksanaan.

Risalah Al-Kwarizmi memperkenalkan sistem bilangan desimal di dunia Muslim," jelas Al-Khalili.

"Yang lainnya, seperti Leonardo da Pisa, membantu menyebarkannya ke seluruh Eropa."

Dengan demikian, pengaruh Fibonacci dalam transformasi matematika modern sebagian besar merupakan warisan dari Al-Khwarizmi.

Jadi dua orang yang terpisah selama hampir empat abad dihubungkan oleh perpustakaan kuno ini: ahli matematika yang paling tersohor di Abad Pertengahan ini berdiri di atas pemikiran Al-Khwarizmi, yang terobosannya dirumuskan di sebuah institusi yang menjadi simbol zaman keemasan Islam.

Mungkin karena sedikit yang diketahui tentang Rumah Kebijaksanaan, para sejarawan sesekali tergoda untuk membesar-besarkan ruang lingkup dan tujuan dari akademi ini.

Mereka memberikan sebuah status mistis yang sedikit banyak bertentangan dengan catatan sejarah yang tersisa bagi kita.

"Sejumlah orang berpendapat bahwa Rumah Kebijaksanaan tidak sehebat seperti dipandang banyak orang," kata Al-Khalili.

"Tapi hubungannya dengan orang-orang seperti Al-Khwarizmi-dengan hasil karyanya di bidang matematika, astronomi dan geografi merupakan bukti yang kuat bagi saya bahwa Rumah Kebijaksanaan lebih dekat dengan akademi sejati, bukan hanya tempat penyimpanan buku-buku terjemahan."

Para pelajar dan penerjemah di perpustakaan juga berupaya keras untuk memastikan karya mereka bisa diakses oleh publik.

Keberadaan Rumah Kebijaksanaan sangat penting karena melalui terjemahan di sana - para pelajar Arab menerjemahkan gagasan dari Yunani ke dalam bahasa sehari-hari - terbentuk dasar pemahaman matematika kita," kata June Barrow-Green, profesor sejarah matematika dari Open University di Inggris.

Istana perpustakaan ini adalah jendela bagi gagasan-gagasan numerik masa lalu, sekaligus sebuah situs inovasi ilmu pengetahuan.

Jauh sebelum sistem desimal yang saat ini dipakai, jauh sebelum sistem bilangan biner yang memprogram komputer kita, dan jauh sebelum angka Romawi, serta sebelum sistem yang digunakan oleh Mesopotamia kuno, manusia menggunakan sistem penghitungan awal dengan cara pencatatan.

Ketika kita menilai hal-hal ini tak dapat dibayangkan atau terlalu kuno, representasi angka yang berbeda sebetulnya mengajarkan struktur, hubungan, dan sejarah serta konteks budaya dari kemunculannya yang berharga.

Mereka memperkuat ide untuk menempatkan nilai dan abstraksi, membantu kita untuk lebih memahami cara kerja angka. Mereka menunjukkan bahwa "cara Barat bukanlah satu-satunya cara," kata Barrow-Green.

"Ada nilai nyata dalam memahami perbedaan sistem bilangan."

Di saat pedagang zaman dulu ingin menulis "dua domba", misalnya, dia bisa saja menggambar dua gambar domba pada tanah liat. Tapi ini tidak akan praktis kalau dia ingin menulis "20 domba".

Notasi nilai-tanda adalah sistem di mana simbol angka dimasukkan secara bersama untuk menandakan nilai: dalam kasus ini, menggambar dua domba untuk menyatakan jumlah yang sebenarnya.

1
4

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini