Bagaimana Cara Membayar Fidyah Puasa? Berikut Penjelasannya

Vitrianda Hilba Siregar, Jurnalis · Minggu 18 April 2021 09:09 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 18 330 2396531 bagaimana-cara-membayar-fidyah-puasa-berikut-penjelasannya-YxLsrguH33.jpg Membayar Fidyah. (Foto: Freepik)

JAKARTA - Bagaimana cara membayar fidyah puasa. Namun sebelum menjelaskan hal tersebut maka perlu dipahami dulu arti membayar fidyah.

Membayar fidyah puasa dilakukan terhadap orang yang tidak mampu melakukan qadha puasa yang terutang padan tahun sebelumnya. Hal ini berlaku pada orang yang sudah tua renta yang tidak mampu lagi berpuasa, serta orang sakit dan sakitnya tidak kunjung sembuh.

Pensyariatan fidyah disebutkan dalam firman Allah Ta’ala:

وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ

Baca Juga: Ramadhan 1945 Menu Sahur Bung Karno-Bung Hatta hanya Ada Sarden, Telur dan Roti

“Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin” (QS. Al Baqarah: 184).[1]

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan, 

هُوَ الشَّيْخُ الْكَبِيرُ وَالْمَرْأَةُ الْكَبِيرَةُ لاَ يَسْتَطِيعَانِ أَنْ يَصُومَا ، فَلْيُطْعِمَانِ مَكَانَ كُلِّ يَوْمٍ مِسْكِينًا

“(Yang dimaksud dalam ayat tersebut) adalah untuk orang yang sudah sangat tua dan nenek tua, yang tidak mampu menjalankannya, maka hendaklah mereka memberi makan setiap hari kepada orang miskin”.

Sementara itu Ustaz Sofyan Ruray menyebut ada dua cara membayar fidyah

Baca Juga: Waspadai Setan Khinzib, Tugasnya Bikin Orang Sholat Gagal Fokus

Pertama: Membagi bahan makanan mentah kepada orang-orang miskin, untuk setiap satu hari puasa yang ditinggalkan memberi makan satu orang miskin, sebanyak 1/2 sho’ (senilai kurang lebih 1,5 kg) bahan makanan pokok di negerinya. (Lihat Majmu’ Fatawa Ibni Baz rahimahullah, 15/175)

Nilai ½ sho’ berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, 

لِكُلِّ مِسْكِينٍ نِصْفَ صَاعٍ 

“Setiap satu orang miskin setengah sho’.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Ka’ab bin ‘Ujroh radhiyallahu’anhu]

Kedua: Menyiapkan makanan jadi dan memberikannya kepada orang-orang miskin, setiap satu porsi untuk satu hari puasa, sebagaimana yang dilakukan Sahabat yang Mulia Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, 

فَقَدْ أَطْعَمَ أَنَسٌ بَعْدَ مَا كَبِرَ عَامًا أَوْ عَامَيْنِ، كُلَّ يَوْمٍ مِسْكِينًا، خُبْزًا وَلَحْمًا

“Anas bin Malik ketika telah tua, beliau memberi makan selama satu atau dua tahun, setiap satu hari puasa satu orang miskin, roti dan daging.” [Riwayat Al-Bukhari]

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Beberapa Permasalahan Terkait Fidyah

1) Fidyah hendaklah diberikan dalam bentuk makanan tidak diuangkan. (Lihat Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 10/183 no. 5750) karena Allah ta’ala berfirman, 

فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ

“Membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin.” [Al-Baqarah: 184]

Dan para sahabat radhiyallahu’anhum membayar fidyah dalam bentuk makanan sebagaimana yang dilakukan Anas bin Malik radhiyallahu’anhu.

2) Kualitas makanan fidyah hendaklah sama dengan yang biasa kita dan keluarga kita makan. (Lihat Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 10/189 no. 2129)

3) Fidyah boleh dibayarkan kepada satu orang miskin karena dalil tidak menentukan berapa orang miskin, berbeda dengan kaffaroh jima’, wajib dibagi kepada 60 orang miskin, sebagaimana akan datang pembahasannya lebih detail insya Allah.

4) Fidyah boleh diberikan di awal, tengah dan Akhir Ramadhan.

5) Bagi yang tidak mampu berpuasa dan tidak pula mampu membayar fidyah maka tidak ada kewajiban apa-apa baginya.

Disebutkan dalam Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah, 

ويكفي دفع ذلك إلى فقير واحد، وإن عجزت عن الإطعام سقط عنك

“Boleh membayar fidyah kepada satu orang fakir, jika engkau tidak mampu maka hilang kewajiban membayar fidyah darimu.” [Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 6/380 no. 15268]

Disebutkan juga dalam Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah, 

ويكفي دفع ذلك إلى مسكين واحد أو أكثر في أول الشهر أو أثنائه أو آخره

“Boleh membayar fidyah kepada satu orang miskin atau lebih di awal bulan Ramadhan, atau pertengahan dan akhirnya.” [Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 6/380 no. 15268 dan 9/128 no. 17029]

Lantas apabila orang sakit yang tidak dapat diharapkan kesembuhannya ternyata sembuh, apa kewajibannya?

“Sudah mencukupinya fidyah yang telah ia keluarkan dahulu setiap satu hari puasa yang ia tinggalkan, dan tidak wajib baginya meng-qodho’ puasa selama bulan-bulan waktu sakitnya tersebut, karena ketika itu ia dalam keadaan memiliki udzur dan ia telah melakukan kewajibannya saat itu.” [Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 10/196 no. 4681]

Adapun sebaliknya, apabila sakitnya masih diharapkan kesembuhannya pada awalnya, kemudian ternyata berlanjut terus sampai tidak diharapkan lagi kesembuhannya, maka hendaklah ia membayar fidyah sebanyak hari-hari puasa yang telah ia tinggalkan tersebut. (Lihat Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 10/189 no. 2129)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini
Adzan Shubuh Adzan Dzuhur Adzan Ashr Adzan Maghrib Adzan Isya