Spirit Anshar

Kamis 22 April 2021 08:28 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 22 613 2398816 spirit-anshar-cCtjJWiAIP.jpg Spirit Anshar. (Foto: Okezone.com/Freepik)

SPIRIT Anshar adalah spirit memberi, bukan mendapat. Mereka disebut Anshar karena menolong dan membela Nabi dan kaum Muhajirin. Jiwa mereka altruis. Mereka menyediakan tempat tinggal bagi Nabi dan sahabat.

Berjihad dengan segenap jiwa dan harta, mereka berkorban untuk agama, dengan semangat memberi ketimbang meminta. Al-Qur’an mengabadikan spirit Anshar ini di dalam QS. Al-Hasyr/59: 8-9. Rasulullah mencintai Anshar dan memberkati mereka:

“Ya Allah rahmatilah kaum Anshar, anak-anak mereka, cucu-cucu mereka” (HR. Ahmad).

Dakwah Nabi dan Islam sukses, antara lain, berkat kaum Anshar. Banyak di antara mereka miskin. Namun, karena mental mereka memberi, kemiskinan itu bukan beban bagi negara. Mereka justru tetap ingin menyumbang, sekadar kemampuannya. QS. Al-Tawbah/9: 79 merekam sumbangan orang Anshar, sekadar satu sha’ (+ 2.5 Kg) kurma. Itu adalah 50 persen dari kekayaannya.

Baca Juga: Begini Nikmat Dahsyatnya Bersedekah

Abdurrahman bin Awf menyumbang 100 uqiyah emas (+ 2.4 Kg). Itu juga separo dari kekayaannya. Nabi memberkati kedua-duanya. Kaum munafik nyinyir. Mereka menyebut Abdurrahman bin Awf pamer dan mencibir sedekah orang Anshar yang tidak berguna. Wahyu turun membela ‘orang-orang yang tulus bersedekah’, baik banyak atau sedikit, dan mencela orang-orang munafik.

Menjelang Perang Badar, Nabi menguji loyalitas kaum Anshar. Jumlah pasukan Islam sekitar 313 orang, dengan fasilitas terbatas. Mereka akan menghadapi pasukan Quraisy yang jauh lebih banyak, kuat, dan lengkap. Sesuai perjanjian Aqabah, kaum Anshar hanya berkewajiban melindungi Nabi ketika di Madinah. Tetapi, Nabi sekarang mengajak mereka menuju Badar. Apa respons mereka? Sa’d bin Muadz, pemimpin Anshar, berdiri dan berkata dengan tegas:

“Kami tidak akan seperti kaumnya Musa yang meninggalkan Nabinya dan berkata ‘Pergilah kamu dan Tuhanmu berperang, kami akan tinggal di sini.’ Tetapi, kami akan berkata, ‘Pergilah kamu dan Tuhanmu berperang, kami akan menyertai.” Nabi puas dengan jawaban itu dan memberkati loyalitas kaum Anshar.

Baca Juga: Toleransi Muslim di India, Jadikan Masjid Tempat Fasilitas Darurat Covid-19

Kaum Anshar pernah mengalami kejadian manusiawi. Mental mereka goncang, dari memberi ke meminta. Ini terjadi selepas perang Hunain. Nabi mendapat pampasan yang melimpah. Dilaporkan Nabi mendapat 24.000 ekor unta, 40.000 ekor domba, dan sekitar 6000 wanita dan anak-anak sebagai tawanan perang. Rasulullah mendatangi kerabatnya, kafir Quraisy, menjanjikan perdamaian dan pampasan jika mereka bersedia masuk Islam. Wahyu turun memperkenalkan kategori baru mustahik zakat, yaitu para mu’allaf yang hatinya perlu dibujuk. Nabi memberi Abu Sufyan dan kedua anaknya, Yazid dan Mu’awiyah, masing-masing seratus onta.

Hakim, keponakan Khadijah RA yang pernah memusuhi Nabi, diberi seratus onta. Shafwan diserahi lembah seluas Ji’ranah. Pemimpin suku Arab Badui, Uyaynah dari Ghatafan dan Aqra dari Tamim, masing-masing diberi seratus onta. Hadiah-hadiah itu diberikan kepada enam belas tokoh Quraisy dan empat orang kepala suku badui.

Kaum Anshar menggerutu. “Di medan perang, kami sahabatnya. Saat pampasan perang dibagikan, sahabatnya adalah keluarga dan kaumnya sendiri.” Kaum Anshar protes, dari mana asal sikap ini. “Jika berasal dari Allah, kami akan terima dengan sabar. Jika ini hanya pendapat Nabi, kami akan memintanya untuk memihak kami juga.” Rasulullah mengumpulkan mereka.

“Wahai kaum Anshar, aku mendengar kalian menentangku. Bukankah aku mendapati kalian tersesat dan Allah membimbing kalian? Bukankah kalian miskin dan Allah memberi kalian kekayaan? Bukankah kalian bermusuhan dan Allah mendamaikan kalian?” Jika kalian mau, kalian dapat mengatakan kepadaku, ‘Engkau datang kepada kami dengan tidak dipercaya dan kami mempercayaimu, engkau nyaris berputus asa dan kami membantumu, engkau diusir dan kami menerimamu, engkau merana dan kami menemanimu.’ Hai kaum Anshar, apakah hati kalian terpikat dengan dunia yang kugunakan untuk membujuk jiwa-jiwa mereka agar mau tunduk kepada Allah, sedangkan Islam kalian telah kupercaya?”

« ألا ترضون يا معشر الأنصار أن يذهب الناس بالشاة والبعير وترجعون برسول الله صلى الله عليه وسلم في رحالكم؟ »

“Apakah kalian tidak bahagia, wahai kaum Ansar, orang lain pulang membawa domba dan onta, sementara kalian pulang membawa Rasulullah?”

“Jika semua orang jalan ke sebuah lembah, dan orang Anshar pergi ke lembah lain, aku akan mengikuti jalannya orang Anshar. Ya Allah, sayangilah orang Anshar, anak-anak mereka, dan cucu-cucunya.”

Jawaban Nabi membuat kaum Anshar menangis tersedu-sedu. Air mata berderai membasahi janggut-janggut mereka. Mereka kemudian berkata:

« رضينا برسول الله قسما وحظًا »

“Kami bahagia dengan Rasulullah sebagai bagian kami.”

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Rasulullah berhasil mengembalikan mental kaum Anshar, mental memberi bukan meminta. Mental ini berlanjut pasca wafatnya Rasulullah. Melalui proses dinamika kecil di forum Saqifah Bani Saidah, kaum Anshar menjagokan Sa’ad bin Ubadah sebagai khalifah. Tetapi akhirnya mereka legowo membai’at Abu Bakar sebagai khalifah dan juga amirul mukminin setelahnya.

Ini terjadi, sekali lagi, karena mental kaum Anshar adalah memberi ketimbang meminta. Keturunan mereka diberkahi, seperti doa Rasulullah. Di antara mereka ada yang jadi ulama hebat, seperti Syeikh Zakariya al-Anshari, ahli fikih madzhab Syafi’i dan Abu Abdillah al-Anshari al-Qurthubi, ahli tafsir dan fikih madzhab Maliki.

Dalam konteks kekinian, spirit kaum Anshar akan jadi berkah negara. Jika mereka miskin, mereka tanggung kemiskinan itu sendiri dan tak mau jadi beban bagi negara. Mereka tidak akan menuntut subsidi ini dan itu. Jika berkecukupan, mereka akan gunakan hartanya untuk membantu negara dan menolong sesama. Tentu saja, spirit ini akan jadi berkah di negara yang diberkahi, negara yang adil dan beradab.

M. Kholid Syeirazi

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini
Adzan Shubuh Adzan Dzuhur Adzan Ashr Adzan Maghrib Adzan Isya