Mari Kita Memulai Belajar 'Mudik' Abadi

Selasa 11 Mei 2021 15:00 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 11 614 2408977 mari-kita-memulai-belajar-mudik-abadi-qL609DKKeR.jpg Suasana mudik Lebaran sebelum masa pandemi Covid-19. (Foto: Okezone)

ALLAHU akbar Allaahu akbar Allaahu akbar, laa illaa haillallahuwaallaahuakbar Allaahu akbar walillaahil hamd" Apa yang ada di benak Anda ketika mendengar kalimat takbir dan tamid itu, selepas berbuka puasa di hari terakhir bulan Ramadhan? Saya bertanya khusus kepada para perantau yang sudah lama tak bersua orangtua, atau kalaupun tinggal bersama, keduanya atau salah satu sudah meninggal dunia? Terserah, masih singel atau sudah berkeluarga, apa yang Anda rasakan?

Saya akan mencoba menjawab, mewakili—yang saya duga--sebagian besar dari perasaan itu; yaitu RINDU. Saya bisa menjawabnya karena merupakan kelompok pertama. Saya pernah, suatu kali ketika masih membujang tidak bisa pulang lantaran pekerjaan, rasanya nelangsa sekali hati ini. Rindu, kangen ingin bertemu orang tua seharusnya bisa kapan saja, tapi mengapa terasa sangat berbeda bila ada suara kalimat tersebut? Sampai sekarang, meskipun sudah berkeluarga dan terpisahkan oleh pulau, rasa itu tak hilang meskipun sedikit reda. "Allah maha besar Allah maha besar Allah maha besar. Tiada Tuhan selain Allah, Allah maha besar Allah maha besar dan segala puji bagi Allah". Demikian kurang lebih artinya.

Kembali ke rumah, ingin sekali bertemu mereka. Itulah yang ingin dilakukan saat perasaan itu muncul, dan untuk beberapa orang yang tidak melow sekalipun, menitikan air mata adalah hal biasa. Ya, itulah yang bisa menjelaskan mengapa fenomena mudik tak pernah bisa hilang, bahkan semakin menguat meskipun dunia modern sudah bisa memberikan beberapa solusi jitu.

Ada telpon, bahkan video call yang mempertemukan tidak hanya suara, tapi sosok yang benar-benar nyata. Tapi, itu semua tak mengubah rasa rindu, meskipun harus diakui amat membantu meredakan. Saya bahkan yakin, meskipun nanti telekomunikasi sudah berwujud tiga dimensi, mudik virtual tak akan bisa menggantikan mudik fisik. Ada sentuhan, jasmaniah seperti sungkem, berpelukan yang tidak bisa tergantikan oleh mesin ciptaan manusia.

Mengapa kita ingin kembali ke rumah? Saya ingin melihatnya dalam kacamata spiritual, karena bagi saya ada dua dimensi dalam diri manusia yang bisa menjelaskan mengapa hal itu bisa terjadi kepada manusia, bukan hanya muslim. Sebab kalau disandingkan fenomena mudik di Indonesia tak seberapa dibandingkan dengan keriuhan Imlek di Tionghoa.

Al Quran, yang mengemban dua beban sekaligus, yaitu kitab manusia dan kitab suci orang Islam bisa membantu menjelaskannya. “Dan Dialah yang menidurkan kamu pada malam hari dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan pada siang hari. Kemudian Dia membangunkan kamu pada siang hari untuk disempurnakan umurmu yang telah ditetapkan. Kemudian kepada-Nya tempat kamu kembali, lalu Dia memberitahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (Al-An'am 6:60) Anda akan jumpai banyak sekali ayat-ayat Quran dengan ending seperti itu, “….hanya kepada Allah lah kamu akan kembali,”.

Lantas apa hubungannya dengan mudik? Ayat yang lain dalam Quran ini bisa memberikan petunjuk. “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada kedua orang tuanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orangtuamu, hanya ke pada-Kulah kembalimu”. (QS Lukman: 14).

Ayat tersebut menempatkan, orangtua sebagai pihak kedua setelah Allah dalam bersyukur, karenanya tidak mengherankan bila dalam sebuah riwayat hadist, Nabi Muhammad SAW menempatkan berbakti kepada orang tua di atas Jihad di jalan Allah yang ganjarannya kontan Surga tanpa hisab. Tak heran pula sebuah pernyataan lain menyebutkan---saya lupa ini hadist atau bukan—bahwa bila menyembah orang tua bukanlah perbuatan syirik terhadap Alllah, maka umat Muhammad Saw sudah diperintahkan menyembah kedua orang tuanya.

Frasa kembali pada ayat di surat Lukman itu menjelaskan dua tafsir; jelas dan samar. Pertama, semua manusia, entah dia beriman atau kafir bila meninggal ruh akan kembali atau mudik kepada sang pencipta, Allah. Kedua, orang tua adalah perantara setiap manusia—kecuali moyang kita Adam As—ada di dunia, maka itu asal muasal fisik atau jasad kita adalah dari percampuran sperma dan indung telur mereka. Merekalah muasal setiap manusia di dunia. Maka ada dua dimensi dalam setiap manusia, yaitu fisik badan dan dimensi spiritual, yaitu ruh Allah yang ditiupkan di dalamnya.

Tidak mengherankan pula bila, panggilan ‘rindu untuk kembai’ itu selalu datang pada momen-momen spesial, seperti Idul Fitri atau hendak menikah. Pada Idul Fitri terkait momen dalam Islam bahwa inilah saat manusia seharusnya kembali ke fitra/suci setelah satu bulan proses pembersihan selama Ramadhan, sementara menikah adalah momen ketika manusia ingin menjadi manusia seutuhnya, sehingga perlu izin dan restu asal dia ada. Dengan kata lain mudik adalah perwujudan ‘kembali’ kepada Nya dalam versi jasad atau temporer, dan mati adalah momen dimana orang akan mudik permanen atau kekal.

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Apapun agamanya, bahkan atheis sekalipun dapat merasakan rasa ‘rindu ingin kembali’. Biasanya, selain momen lebaran, kondisi sakit parah atau tidak berdaya juga bisa memunculkan rasa itu. Jadi mudik adalah sebuah ritual manusia yang dalam Islam agar memiliki nilai ilahiah--karena semua aktivitas muslim harus dengan nama Allah atau lillahi Ta’ala--dibungkus dalam amalan silaturahmi. Ini juga dapat menjelaskan mengapa silaturahmi itu juga wajib kepada sesama, karena sebagaimana hadist masyhur menyatakan bahwa setiap muslim pada hakikatnya adalah satu tubuh, sebagaimana kita awalnya adalah satu tubuh dalam rahim ibu.

Sayangnya, ini adalah tahun kedua yang sulit bagi muslim untuk mudik mengobati kerinduan karena pandemi Covid-19. Pamerintah akhirnya melarang mudik untuk mencegah terjadinya penyebaran virus, mengingat tren dunia ada peningkatan infeksi. Namun, atas nama panggilan mudik tersebut, saya lihat banyak yang mengabaikan larangan tersebut. Saya bukan aparat pemerintah, dan juga bukan die hard Jokowi, namun larangan tersebut memiliki dasar dalil yang kuat untuk ditaati.

Pertama, lupakanlah soal pandangan politik, dalam Islam menaati penguasa siapapun dia dan bagaimanapun proses terpilihnya adalah sebuah keharusan, dengan pengecualian melawan bila itu bertentangan dengan hukum Allah dan Rasulnya. Kedua, sudah ada larangan dari Nabi kita bahwa apabila ada Tha’un atau wabah, maka orang yang berada diwilayah itu dilarang untuk keluar, dan sebaliknya yang berada dari daerah tak terdampak dilarang mendatangi wilayah terdampak.

Allah dalam Qur'an Surat An-Nisa ayat 59 memerintahkan kepada orang beriman ,"Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya." Jadi ini bukan semata soal menaati pemerintah, tetapi mengakui perintah Allah. Terkait pandemi Covid-19, Usamah Ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Thaun adalah wabah yang dikirim kepada satu kelompok dari Bani Israil atau kepada orang-orang sebelum kalian. Jika kalian mendengarnya di suatu negeri, maka janganlah kalian mendatanginya. Dan jika Thaun menjangkiti suatu negeri sementara kalian disana maka jangan keluar untuk menghindarinya.” Abu Nadhr berkata, Jangan ada yang membuatmu keluar selain untuk menghindarinya.’ (HR Al Bukhari 3473, Muslim 2218, At-Tirmidzi 1065, Ahmad 5/201, Al-Bukhari 5729, Abu Dawud 3103).

Kedua dalil tersebut sangat sahih, dan jauh berbobot bila dibandingkan dengan anjuran mudik fisik yang merupakan representasi dari ayat samar QS Lukman: 14 sehingga harus diutamakan. Suka tidak suka, mau tidak mau begitulah adanya, bahwa mudik kali ini seharusnya tidak terjadi sehingga setiap orang Islam yang menaatinya pada dasarnya telah mempersaksikan kepada Allah bahwa makna Islam sebagai jalan keselamatan baik jasmani maupun ruhani adalah benar-benar dapat diwujudkan. Ini adalah ibadah yang menurut saya memiliki nilai pahala yang tinggi di sisi Allah.

Maka itu, berita viral tentang beberapa orang yang berartribut muslim yang menggunakan agama sebagai alasan melawan larangan mudik menurut saya sangat batil, dan menistakan Islam. Itu adalah jahil murokkab (sangat bodoh). Saran saya, kalaupun mau mudik ya mudik saja, pakai alasan lain, jangan mengatasnamakan agama yang dalam konteks pandemi saat ini melarang bepergian. Setidaknya, mudharatnya lebih sedikit. Dengarkanlah hati nurani, bukan hawa nafsu yang menjadikan mudik saat pandemi seolah indah dan baik seolah bagian amalan silaturahmi.

Saya menganjurkan momen sekarang ini, dimana mudik fisik tampak lebih banyak mudharat, dijadikan sebagai momentum untuk mempersiapkan mudik yang sejati. Mudik yang diperintahkan secara terang oleh Allah, yaitu kembali kepada Nya. Jangan bodoh, dengan mengartikan sebagai bunuh diri, tetapi melatih diri mempersiapkan bekal untuk mudik abadi, ketika ruh meninggalkan badan dari tempat perantauan di dunia ini untuk kembali ke kampung asal, akhirat. Ingat, matinya jasad bukanlah akhir dari kehidupan, tapi justru permulaan perjalanan yang amat panjang menuju rumah nenek moyang kita Adam dan Hawa; surga. Jangan sampai, kita mudik ke neraka, itu kampung setan yang terkutuk, bukan kampung kita yang dimuliakan Allah SWT. “Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara), dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal.” (QS Ghafir [40]: 39).

Ada banyak cara untuk belajar mudik ke negeri yang kakas. Pertama, pakai waktu yang biasanya digunakan untuk perjalanan pulang-balik ke kampung untuk I'tikaf di masjid atau rumah saja—karena ada pandemi. Jangan khawatir soal aturan fikih, karena nabi pernah berkata dalam sebuah hadist shahih. “Seluruh bumi adalah masjid, kecuali kuburan dan tempat pemandian” (HR. Tirmidzi no. 317, Ibnu Majah no. 745, Ad Darimi no. 1390, dan Ahmad 3: 83. Bahkan hadist lain menyebutkan Nabi menyarankan ibadah sunnah dilaksanakan di rumah untuk meningkatkan aura kedamaian.

Kedua gunakan dana mudik fisik sebagai shadaqah anggap saja itu sebagai tabungan uang jalan kita nanti diperjalanan kehidupan setelah mati. Gunakan, waktu yang biasa dipakai untuk mudik sebagai nampak tilas spiritual, sudah siapakah kita dengan mudik abadi. Demi Allah, saya ingatkan, mudik ke kampung akhirat itu tak terjadwal seperti hari lebaran yang tampak hilalnya, tapi dalam mudik abadi itu kita akan dipanggil satu persatu. Kita ini ibarat sedang berada di terminal transit dengan sebuah karcis tunggal menuju kampung Adam. Kita akan dipanggil oleh malaikat maut bukan berdasarkan nomor kursi, tapi dari daftar nama nama di manifes penumpang yang dititipkan Allah kepada malaikat Izrail. Wallahu’alam Bishowab, yang benar dari Allah yang batil dari saya.

Oleh: Muhammad Ma’ruf,

Pernah ngaji di PP Baitul Mustaqim, Punggur, Lampung Tengah;

Jurnalis lepas; dan warga Nahdliyin di Bogor.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini
Adzan Shubuh Adzan Dzuhur Adzan Ashr Adzan Maghrib Adzan Isya