Melihat Beduk Pendowo yang Berbahan Kayu Utuh Terbesar di Dunia

Agregasi KR Jogja, Jurnalis · Senin 31 Mei 2021 15:41 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 31 614 2417975 melihat-beduk-pendowo-yang-berbahan-kayu-utuh-terbesar-di-dunia-tgplnKikkD.jpg Beduk Pendowo di Masjid Agung Purworejo. (Foto: KR Jogja)

DI Masjid Agung Darul Muttaqin Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, terdapat beduk terbesar di dunia. Namanya adalah Beduk Pendowo yang memiliki nilai sejarah tinggi bagi masyarakat Purworejo.

Ini merupakan beduk berbahan kayu utuh terbesar di dunia. Beduk Pendowo dibuat pada 1834, bersamaan dengan pembangunan Masjid Agung Darul Muttaqin Purworejo.

Baca juga: Unik! Di Rest Area Tol Pandaan-Malang Ada Masjid Trapesium 

"Bupati Purworejo pertama RAA Tjokronengoro I memerintahkan pembangunan masjid sebagai sarana ibadah pada 1834, atau dua tahun setelah Kabupaten Purworejo berdiri," kata HR Oteng Suherman, anggota Takmir Masjid Darul Muttaqin sekaligus pemerhati sejarah, seperti dikutip dari laman KRJogja.

Ia mengatakan, Beduk Pendowo dibuat oleh kerabat RAA Tjokronegoro I dan ulama menggunakan bahan bongkot atau pangkal batang pohon jati pendowo. Jati pendowo, jelas dia, merupakan pohon jati liar yang memiliki lima batang utama dan tumbuh di Dusun Pendowo, Desa Bragolan, Kecamatan Purwodadi.

Beduk Pendowo di Masjid Agung Purworejo. (Foto: KR Jogja)

Pohon jati itu ditebang dan batang utamanya dimanfaatkan untuk tiang utama masjid dan Pendopo Bupati Purworejo. Sementara dahan dan ranting yang juga berukuran besar dimanfaatkan untuk atap dan kusen tempat ibadah itu.

Bongkot diserut dan dipahat secara manual hingga menjadi beduk berukuran panjang 292 sentimeter, diameter bagian depan 194 sentimeter, dan diameter belakang 180 sentimeter.

"Untuk kulitnya, ketika itu masih banyak ternak berukuran super. Pilihan jatuh pada sapi yang dikenal bernama Sapi Pemacek, milik petani di Winong Kemiri," jelasnya.

Baca juga: Masya Allah, Warga yang Selalu Sholat Berjamaah di Masjid Ini Dapat Hadiah Motor 

Setelah proses pembuatannya selesai, beduk dibawa dari Dusun Pendowo menuju Masjid Agung Darul Muttaqin. Kiai Irsyad, ulama asal Dusun Solotiyang, Desa Maron Loano, memimpin pengangkatan beduk.

Konon, proses pengangkutan beduk menuju masjid membutuhkan waktu lebih dari 21 hari. "Prosesnya manual, saat itu jalannya juga belum rata, jadi diratakan dulu baru bisa dilalui. Dikisahkan, warga di tiap desa yang dilalui beduk, menyambut dengan suka cita, mereka menyelenggarakan hiburan dan menyediakan aneka makanan," ujarnya.

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Beduk pun menjadi penanda tibanya waktu salat lima waktu. Beduk juga ditabuh ketika perayaan Idul Fitri dan Idul Adha, bahkan setelah Indonesia merdeka, talu suara beduk menggema saat peringatan kemerdekaan pada 17 Agustus.

Namun, kata Oteng, saat ini Beduk Pendowo tidak ditabuh setiap menjelang salat lima waktu. Takmir masjid berupaya menjaga agar beduk tersebut tetap awet dan tidak mudah rusak.

Baca juga: Buat Aturan Penggunaan Pengeras Suara di Masjid, Kemenag: Tidak Mudah, Pendapat Warga Bervariasi 

"Kulit bagian depan masih asli, hanya belakang sudah pernah diganti. Agar tidak jebol, maka beduk tidak sering-sering ditabuh, sebab kalau sampai rusak takmir akan kesulitan mencari kulit pengganti," terangnya.

Beduk pun hanya dibunyikan setiap menjelang Sholat Jumat. "Sekarang hanya dibunyikan seminggu sekali, setiap jelang salat jumat," katanya.

Oteng menjelaskan, keberadaan beduk menjadi magnet bagi Masjid Agung Darul Muttaqin. Masjid itu menjadi salah satu destinasi bagi rombongan peziarah dari berbagai kota di Indonesia.

Baca juga: Ini Masjid-Masjid di Jakarta yang Menggelar Sholat Gerhana Bulan Total 

"Mereka penasaran, bahkan sampai berkembang mitos siapa yang bisa mendepa diameter depan beduk, permintaannya terkabul. Itu omong kosong, sebab hanya Allah yang maha mengabulkan permintaan, bukan beduk," tegasnya.

Untuk menjaga beduk tetap lestari, takmir membuat pagar pembatas. "Sehingga, tidak sembarang orang bisa menjamahnya. Kami minta masyarakat tidak mengaitkan Beduk Pendowo dengan mitos apa pun, sebab beduk ini semata-mata dibuat untuk penanda waktu salat, bukan lain-lain," pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini
Adzan Shubuh Adzan Dzuhur Adzan Ashr Adzan Maghrib Adzan Isya