Hikmah Hijrah yang Spektakuler Mengandung Nilai Semangat Perjuangan dan Persaudaraan

Tim Okezone, Jurnalis · Kamis 12 Agustus 2021 10:30 WIB
https: img.okezone.com content 2021 08 12 330 2454427 hikmah-hijrah-yang-spektakuler-mengandung-nilai-semangat-perjuangan-dan-persaudaraan-tbPNVXzmRa.jpg Hikmah Hijrah yang spektakuler. (Foto: Dok)

MEMASUKI  Tahun Baru Islam 1443 Hijriah, tentu akan kembali kepada peristiwa hijrahnya Rasulullah Muhammad SAW bersama para sahabatnya 15 abad yang lalu, dari Makkah ke Madinah yang fenomenal.

Bahwa peristiwa hijrah tersebut amat sangat penting dalam sejarah perkembangan Islam, dibuktikan dengan dijadikannya peristiwa hijrah tersebut sebagai awal dari perhitungan kalender Islam, atas inisiatif Umar bin Khattab ra khalifah kedua.

Ulama dan mantan anggota Komisi Ukhuwah MUI DKI Jakarta, KH Drs Syarifuddin Mahfudz MSi menjelaskan beberapa hikmah hijrah yang spektakuler itu adalah :

Baca Juga: 5 Anak Band Hijrah Tinggalkan Musik, Banyak Tantangan Tetap Istaqamah dan Yakin

1. Peristiwa hijrah tersebut merupakan tonggak sejarah yang monumental dan memiliki makna yang sangat dalam bagi kokoh dan tegaknya ajaran Islam, serta perkembangannya ke seantero dunia.

Hijrah merupakan tonggak kebangkitan Islam yang semula diliputi suasana dan situasi yang tidak kondusif di Makkah menjadi suasana prospektif di Madinah.

2. Hijrah mengandung semangat perjuangan yang tidak kenal putus asa dan rasa optimisme yang sangat tinggi, bahwa pada akhirnya Islam akan berjaya.

Karena hijrah tidak hanya bermakna fisik, yaitu berpindahnya manusia secara fisik dari satu tempat ke tempat lain. Tetapi juga bermakna mental, yakni meninggalkan segala hal yang buruk menuju segala hal yang baik.

Baca Juga: Gus Baha Ingatkan Politisi Agar Berpolitik dengan Baik karena Menyangkut Kemaslahatan Umat

Rasulullah SAW bersabda dalam hadits riwayat Bukhari dari Abdullah bin Amr ;

اَلْمُهَاجِرُ مَنْ هَاجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ

“Orang yang berhijrah (Muhajir) ialah orang yang meninggalkan larangan Allah swt”.

Rasulullah SAW dan para sahabatnya telah mampu melawan rasa sedih dan takut dengan berhijrah, meski harus meninggalkan tanah kelahiran, sanak saudara (yang belum Islam) dan harta benda mereka.

3. Hijrah mengandung semangat persaudaraan yang sangat dalam, seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW ketika mempersaudarakan kaum Muhajirin dan kaum Anshor.

Pada suatu hari Rasulullah SAW mengumpulkan tokoh-tokoh Muhajirin dan Anshar sebanyak 100 orang, 50 orang dari Muhajirin dan 50 orang dari Anshar. Lalu beliau

Bersabda: 

تَاَخَّوْا فِيْ الله اَخْوَيْنِ اَخْوَيْنِ.

Hendaklah kamu bersaudara dalam agama Allah, dua orang-dua orang”.(Munawar Chalil, Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad SAW, hal 64-65).

Baca Juga: Apa Hukum Ramalan Zodiak Menurut Islam?

Kemudian beliau persaudarakan mereka berdua berdua, seorang dari Muhajirin dan seorang dari Anshar, seperti : 

- Abu Bakar Shiddiq ra dari Muhajirin dengan Charijah bin Zuhair ra dari Anshar.

- Umar bi Khattab ra dari Muhajirin dengan Utban bin Malik ra dari Anshar.

- Usman bin Affan ra dari Muhajirin dengan Aus bin Tsabit ra. Dari Anshar.

- Talhah bin Ubaidilah ra dari Muhajirin dengan Ka’ab bin Malik ra dari Anshar.

- Dan seterusnya.

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Sungguh luar biasa persaudaraan yang dideklarasikan dan dibangun di atas dasar ukhuwah Islamiyah ini, bisa dilihat dari peristiwa berikut:

Abdurrahman bin Auf ra dari Muhajirin dipersaudarakan dengan Sa’ad bi Rabi’ ra dari Anshar. Sa’ad ra berkata kepada Abdurrahman ra:

“Aku adalah kaum Anshar yang paling banyak harta. Aku akan membagi hartaku setengah untukmu. Dan pilihlah di antara istriku yang kamu inginkan, aku akan menceraikannya untukmu. Jika selesai masa iddahnya engkau bisa menikahinya.

Mendengar pernyataan saudaranya itu Abdurahman ra menjawab :”Aku tidak membutuhkan itu, Adakah pasar di sekitar sini tempat berjual beli? Lalu Sa’ad ra menunjukkan pasar Qainuqa.

Mulai saat itu Abdurrahman ra pun berniaga di pasar itu sampai menjadi orang yang berkecukupan dan tidak lagi memerlukan bantuan dari saudaranya”. (Shahih Bukhari no 2048 dan sahih Muslim no 1960).

Persaudaraan mereka yang indah itu digambarkan Allah SWT dalam surat Al Hasyr (59):9 sebagai berikut : 

وَالَّذِيْنَ تَبَوَّءُوْالدَّارَ وَالْإيْمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّوْنَ مَنْ هَاجَرَ إلَيْهِمْ وَلاَ يَجِدُوْنَ فِيْ صُدُوْرِهِمْ حَاجَةً مِمَّا اُوْتُوْا وَيُؤْثِرُوْنَ عَلَى اَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَة وَمَنْ يُوْقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَألَئكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ

“Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) ´mencintai´ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung”.

Persaudaraan atau ukhuwah antara kaum Muhajirin dan kaum Anshar seperti tersebut menurut para Ulama Akhlak merupakan peringkat Ukhuwah tertinggi dari enam peringkat Ukhuwah, yaitu:

Ta’arruf, saling mengenal; Ta’alluf saling bersatu; Tafahhum saling memahami; Tafaqqud saling memperhatikan, saling memelihara; Ta’awwun, saling membantu; Tanashshur, saling menolong.

Dengan tanashur, orang-orang bersaudara dalam Islam akan selalu siap sedia memberikan pengorbanan untuk saudaranya, baik pengorbanan waktu, tenaga maupun harta. Maka julukan sahabat-sahabat Rasulullah saw yang berasal dari Madinah disebut kaum Anshor. Karena mereka bersama sahabat-sahabat barunya yang berasal dari Mekah (kaum Muhajirin) telah mampu mempraktekkan tanashur dalam persaudaraan mereka.

Wallohu ‘alam bish shawab.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini
Adzan Shubuh Adzan Dzuhur Adzan Ashr Adzan Maghrib Adzan Isya