Share

Soal Pernyataan Menag, Wagub Jabar: Tidak Elok Mentasbihkan Azan dengan Gonggongan Anjing

Agung Bakti Sarasa, Jurnalis · Jum'at 25 Februari 2022 12:12 WIB
https: img.okezone.com content 2022 02 25 614 2552867 soal-pernyataan-menag-wagub-jabar-tidak-elok-mentasbihkan-azan-dengan-gonggongan-anjing-S3n49wqqA0.jpg Wagub Jabar Uu Ruzhanul Ulum. (Foto: Instagram)

BEBERAPA waktu lalu Menteri Agama (Menag) memberi pernyataan viral soal azan dan gonggongan anjing. Sejumlah pihak pun memberi tanggapan, termasuk Wakil Gubernur Jawa Barat (Wagub Jabar) Uu Ruzhanul Ulum.

Uu yang juga dikenal sebagai Panglima Santri Jabar ini menegaskan tidak elok membandingkan pengeras suara masjid, termasuk suara azan, dengan gonggongan anjing. Menurut dia, gonggongan anjing sangat berbeda dengan suara azan dari pengeras suara masjid. Bahkan, kata Uu, suara azan terbukti banyak menuntun orang untuk masuk Islam dan menjadi mualaf.

"Tidak elok mentasbihkan azan dengan gonggongan anjing karena mengganggunya gonggongan anjing dan suara azan akan berbeda di telinga," tegas Uu di Gedung Sate, Kota Bandung, Kamis 24 Februari 2022.

"Bahkan, banyak orang masuk Islam karena suara azan. Oleh karena itu, Menteri Agama mohon bijaksana dalam membuat statement," lanjut Uu.

Baca juga: Wamenag: Pak Menteri Tidak Ada Niat Bandingkan Azan dengan Gonggongan Anjing, Itu Tamsil 

Ia juga menyoroti terbitnya Surat Edaran (SE) Menag Nomor SE 05 Tahun 2022 tentang Pedoman Penggunaan Pengeras Suara di Masjid dan Mushola. Uu meminta Kementerian Agama (Kemenag) lebih bijak dalam membuat aturan.

Dirinya menilai SE tersebut telah menuai pro dan kontra dari berbagai pihak, sehingga memicu kegaduhan. Uu mengatakan waktu terbit SE tersebut kurang tepat karena menjelang bulan suci Ramadhan.

"Kalau boleh, Kemenag jangan bikin gaduh, karena umat Islam sekarang sedang siap-siap menghadapi bulan Ramadhan," katanya.

"Memang masalah surat edaran pemakaian speaker ada yang setuju, ada yang tidak, tetapi justru pro-kontranya itu yang bikin gaduh dan ramai," sambung Uu.

Baca juga: Viral soal Azan dan Gonggongan Anjing, Kemenag: Tidak Membandingkan tapi Mencontohkan 

Ia juga mengatakan menjelang bulan Ramadhan dan Idul Fitri, penggunaan speaker masjid dan mushola menjadi sangat vital karena menjadi momentum syiar Islam. Sehingga jika ada pihak yang merasa terganggu dengan penggunaan speaker masjid, dia berharap rasa saling menghargai masyarakat lebih ditingkatkan.

"Di bulan Ramadhan dan Lebaran nanti, penggunaan speaker pasti lebih banyak, kan sebagai syiar nuansa Ramadhan. Kalau memang ada umat Islam atau non-muslim yang merasa terganggu, di sinilah kita harus lebih saling menghargai," jelas Uu.

Selain itu, Kemenag juga seyogianya melibatkan tokoh-tokoh agama dari berbagai daerah di seluruh Indonesia untuk berdiskusi sebelum membuat aturan. Dengan demikian, aturan akan lebih mudah diterapkan dan ditaati, meski SE tidak memiliki kekuatan hukum.

"Paling tidak ada komunikasi dulu dengan tokoh agama atau pemuka masyarakat lainnya. Jangan tiba-tiba (keluarkan) edaran, masyarakat banyak yang bertanya kepada saya. Sekalipun secara hierarki surat edaran tidak memiliki kekuatan hukum, tetapi masyarakat banyak yang resah dengan hal semacam ini," bebernya.

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Lebih lanjut Uu menyarankan Kemenag lebih menitikberatkan penyusunan aturan terkait pemanfaatan masjid dan mushola jelang Ramadhan, namun disesuaikan dengan kondisi perkembangan pandemi covid-19. Menurut dia, langkah tersebut lebih bijak dilakukan di negara dengan penduduk mayoritas Muslim ini.

"Saya harap Kemenag lebih bijaksana dalam mengambil keputusan pengaturan agama di Indonesia yang mayoritas Muslim. Lebih baik kita persiapkan umat Islam menghadapi bulan suci Ramadhan, surat edaran masjid harus dipersiapkan untuk Sholat Tarawih dan sebagainya. Itu akan lebih mengena dan adem pada masyarakat," tuturnya.

Baca juga: Menag Terbitkan SE Penggunaan Pengeras Suara di Masjid dan Mushola, Ini Isi Lengkapnya 

Meski begitu, sebagai perpanjangan tangan pemerintah pusat, pihaknya menyatakan siap mengikuti aturan surat edaran tersebut. "Kalau saya selaku pemerintah akan mengikuti apa yang diinstruksikan oleh pemerintah pusat karena kami merupakan kepanjangan tangan dari pemerintah pusat," kata Uu.

Ia menambahkan, Kemenag sebaiknya mengalihkan fokus penyusunan kebijakan pada permasalahan keberpihakan pemerintah untuk pondok pesantren, pemenuhan kebutuhan sarana dan prasarana madrasah ibtidaiyah, tsanawiyah dan aliyah, hingga isu toleransi di beberapa daerah yang dianggap rawan.

"Mungkin masih banyak hal-hal yang harus diatur oleh pemerintah lewat Kemenag, seperti tentang pesantren-pesantren salafiyah yang tidak ada sekolahnya. Madrasah ibtidaiyah, tsanawiyah, dan aliyah swasta yang kekurangan guru dan sarana-prasarana. Kemudian juga tentang daerah-daerah yang dianggap toleransinya rawan," jelasnya.

Diketahui, Kemenag menerbitkan surat edaran tentang volume pengeras suara di masjid dan mushola maksimal 100 dB (desibel). Selain itu, SE ini juga mengatur penggunaan speaker di waktu azan serta durasi pemakaian pengeras suara maksimal 10 menit.

Baca juga: Viral Azan Dibandingkan Gonggongan Anjing, MUI Kritik Keras 

Belakangan, Menag Yaqut mengeluarkan pernyataan kontroversial dan viral di media sosial. Dia membandingkan pengeras suara masjid dengan gonggongan anjing.

"Sederhana lagi tetangga kita kalau kita hidup di dalam kompleks misalnya kiri, kanan depan, belakang pelihara anjing semua misalnya menggonggong dalam waktu bersamaan kita ini terganggu tidak? Artinya apa, suara-suara ini apapun suara itu ini harus kita atur supaya tidak menjadi gangguan," ucap Menag Yaqut, dikutip dari video yang diunggah akun Twitter @Pura2demoCRAZY.

Wallahu a'lam bishawab.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini