Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Sejarah Perjalanan Haji di Indonesia, Jumlah Jamaah Sempat Dibatasi di Era Kolonial Belanda

Ajeng Wirachmi , Jurnalis-Jum'at, 17 Juni 2022 |12:57 WIB
Sejarah Perjalanan Haji di Indonesia, Jumlah Jamaah Sempat Dibatasi di Era Kolonial Belanda
Sejarah perjalanan haji di Indonesia/Okezone
A
A
A

Namun sayangnya tidak ada catatan resmi terkait siapa masyarakat Nusantara pertama yang melakukan ibadah haji.

Tahun 1952 sebuah armada dari Aceh mulai melakukan pelayaran ke Jeddah, Arab Saudi untuk berdagang.

Tak hanya berdagang mereka ternyata juga melaksanakan ibadah haji.

Saat orang-orang Belanda mulai datang untuk kolonisasi, jamaah haji Tanah Air kemudian dibatasi. Dijelaskan di laman Kemenag, hal itu terjadi karena besarnya keterlibatan jamaah haji dalam melakukan perlawanan di abad ke-19.

Jamaah haji tercatat dilakukan pada 1825, 1827, 1831, dan 1859. Kemudian, saat kembali ke Nusantara, aktivitas para jamaah haji itu dipantau oleh Pemerintah Hindia Belanda.

Hal ini bertujuan untuk tidak memicu adanya gerakan perlawanan.

Berdirinya Direktorat Urusan Haji

Pada 1912, KH Ahmad Dahlan dari Muhammadiyah mendirikan Bagian Penolong Haji, yang menjadi cikal bakal dibentuknya Direktorat Urusan Haji.

Bagian Penolong Haji milik Muhammadiyah itu diketuai KH M Sudjak.

Masih di era kolonial, Dewan Perwakilan Hindia Belanda atau Volksraad mengeluarkan Pilgrim Ordonisasi 1922 yang mengizinkan para pribumi untuk mengusahakan pengangkutan para calon jemaah haji.

Baru kemudian di 1930, pembangunan pelayaran khusus bagi jemaah haji Nusantara diusulkan dalam Kongres Muhammadiyah ke-17 yang diselenggarakan di Minangkabau.

Sekitar tiga tahun setelah kemerdekaan, Indonesia mengirimkan misi haji ke Makkah dan mendapat sambutan hangat dari pihak kerajaan Arab Saudi.

Mengutip laman NU Online, perjalanan haji pertama Indonesia tersebut dipimpin oleh KH R Mohamad Adnan atau Den Kaji Adnan.

Saleh Su’ady menjadi sekretaris rombongan, H. Syamsir Sutan Rajo Ameh sebagai bendahara rombongan, dan Ismail Banda menjadi anggota rombongan.

Sang ketua, Den Kaji Adnan, adalah warga asli Solo.

Dia merupakan anak dari penghulu Keraton Surakarta yang juga penasihat raja di bidang keagamaan bernama Tumenggung Tafsir Anom V.

Kepergiannya ke Makkah pada 1948 ini bukanlah kali pertama.

Adnan sebelumnya sudah pernah menginjakkan kaki di Makkah pada 1908 ketika diperintah ayahnya untuk menuntut ilmu.

Halaman:
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita muslim lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement