Share

Sejarah dan Asal-usul Hari Raya Idul Adha, Berawal Kisah Ketaatan Nabi Ibrahim dan Ismail

Asthesia Dhea Cantika, Jurnalis · Minggu 03 Juli 2022 07:00 WIB
https: img.okezone.com content 2022 07 02 330 2622478 sejarah-dan-asal-usul-hari-raya-idul-adha-berawal-kisah-ketaatan-nabi-ibrahim-dan-ismail-DoqzOKqSTw.jpg Ilustrasi sejarah dan asal-usul hari raya Idul Adha. (Foto: Istimewa/Baztab)

SEJARAH dan asal-usul hari raya Idul Adha sangat penting diketahui kaum Muslimin. Idul Adha merupakan salah satu hari besar bagi umat Islam yang diperingati setiap tanggal 10 Dzulhijjah.

Hari raya Idul Adha bersamaan dengan wukuf di Arafah sebagai puncak ibadah haji yang jatuh pada 9 Dzulhijjah. Idul Adha juga identik dengan berkurban atau menyembelih hewan kurban.

Baca juga: Bacaan Surat Yasin Lengkap di Alquran Digital Okezone: Ayat 1-83, Teks Arab, Latin, Artinya 

Perintah berkurban sendiri telah tercantum dalam Alquran Surat Al Kautsar Ayat 2. Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْۗ

Arab latin: Fa salli lirabbika wan-har.

Artinya: "Maka laksanakanlah sholat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah)."

Idul Adha telah ada sejak zaman Nabi Ibrahim Alaihissallam. Lantas, bagaimana sejarah dan asal-usul hari raya Idul Adha? Simak ulasannya berikut ini.

Dalam sejarah Islam, hari raya Idul Adha disebut juga "Iedul Nahr" yang artinya hari raya penyembelihan sebagai memperingati ujian paling berat yang menimpa Nabi Ibrahim Alaihissallam.

Dari kesabaran dan ketabahan Nabi Ibrahim Alaihissallam dalam menghadapi berbagai ujian dan cobaan, Allah Subhanahu wa ta'ala memberinya sebuah anugerah, sebuah kehormatan "Khalilullah" (kekasih Allah). Setelah gelar Al-khalil disandangnya, malaikat pun bertanya kepada Allah Ta'ala:

"Ya Tuhanku, mengapa Engkau menjadikan Ibrahim sebagai kekasihmu. Padahal ia disibukkan oleh urusan kekayaannya dan keluarganya?" Allah berfirman: "Jangan menilai hambaku Ibrahim ini dengan ukuran lahiriah, tengoklah isi hatinya dan amal baktinya."

Sebagai realisasi dari firman-Nya, Allah Subhanahu wa ta'ala mengizinkan pada para malaikat menguji keimanan serta ketakwaan Nabi Ibrahim Alaihissallam. Ternyata, kekayaan dan keluarganya dan tidak membuatnya lalai dalam taatnya kepada Allah Ta'ala.

Peristiwa ini bermula saat Nabi Ibrahim Alaihissallam mengalami mimpi yang terus berulang. Dalam mimpi tersebut, Allah Subhanahu wa ta'ala memberikan perintah kepada Nabi Ibrahim untuk menyembelih putra kesayangannya yaitu Ismail.

Perlu diketahui, Nabi Ibrahim Alaihissallam memiliki dua anak yaitu Ismail dan Ishak. Keduanya lahir dari ibu berbeda. Anak pertama Nabi Ibrahim bernama Ismail lahir dari rahim seorang perempuan bernama Hajar.

Di saat mendapat mimpi untuk menyembelih putranya, Nabi Ibrahim Alaihissallam sangat gelisah. Akan tetapi, karena mimpi itu, Nabi Ibrahim seakan mengalami hal di luar dugaan.

Nabi Ibrahim Alaihissallam yang tidak bisa berbuat apa-apa lantaran mimpi itu adalah perintah dari Allah Subhanahu wa ta'ala mendatangi Ismail dengan maksud menyampaikan mimpi tersebut.

Baca juga: Zikir Pagi Hari Ini: Menyelamatkan Tubuh dari Penyakit yang Tidak Diinginkan 

Firman Allah Subhanahu wa ta'ala tertuang dalam Alquran Surat As-Shaffat Ayat 102:

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ

Terjemahan: Ketika anak itu sampai pada (umur) ia sanggup bekerja bersamanya, ia (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah apa pendapatmu?” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu! Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang sabar."

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Sebagai bentuk ketaatan Nabi Ibrahim Alaihissallam, ia pun melakukan perintah Allah Subhanahu wa ta'ala. Anaknya Ismail meminta ayahnya mengikatnya dengan tali dan menajamkan pisau supaya saat disembelih Ismail tidak meronta kesakitan. Ismail juga meminta pakaiannya diberikan kepada sang ibu sebagai bentuk kenang-kenangan.

Nabi Ibrahim Alaihissallam pun memantapkan niat dan pasrah. Sedetik setelah pisau nyaris digerakkan, tiba-tiba Allah Subhanahu wa ta'ala berseru dengan firman-Nya, menyuruh menghentikan perbuatannya, dan tidak usah diteruskan pengorbanan terhadap anaknya.

Allah Subhanahu wa ta'ala telah meridhoi ayah dan anak ini memasrahkan tawakal mereka. Sebagai imbalan keikhlasan keduanya, Allah Ta'ala mencukupkan dengan penyembelihan seekor kambing sebagai kurban, sebagaimana diterangkan dalam Alquran Surat As-Saffat Ayat 107–110:

وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ

"Dan kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar."

وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الْآخِرِينَ

"Kami abadikan untuk Ibrahim (pujian yang baik) dikalangan orang-orang yang datang kemudian."

سَلَامٌ عَلَى إِبْرَاهِيمَ

"Yaitu kesejahteraan semoga dilimpahkan kepada Nabi Ibrahim."

كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ

"Demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik."

Menyaksikan tragedi penyembelihan yang tidak ada bandingannya dalam sejarah umat manusia itu, Malaikat Jibril terkagum, seraya terlontar darinya suatu ungkapan: "Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar."

Nabi Ibrahim Alaihissallam pun menjawab: "Laa Ilaha illallahu Allahu Akbar."

Kemudian disambung oleh Nabi Ismail Alaihissallam: "Allahu Akbar Walillahil Hamdu."

Demikian sejarah dan asal-usul hari raya Idul Adha yang wajib diketahui dan diambil pelajarannya. Semoga jelas serta bermanfaat. Wallahu a'lam bisshawab.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini