BACAAN niat puasa Dzulhijjah 9 hari pertama ternyata cukup ingin diketahui sejumlah orang. diketahui bahwa puasa merupakan salah satu amalan yang dianjurkan pada awal-awal bulan Dzulhijjah.
Selain puasa Dzulhijjah, ada juga amal salih yang bisa dikerjakan. Di antaranya memperbanyak takbir, tahmid, dan tahlil. Kemudian sedekah hingga sholat-sholat sunah.
Baca juga: Apakah Puasa Dzulhijjah Harus Dikerjakan Penuh Mulai Tanggal 1 Sampai 9?
Dzulhijjah merupakan bulan mulia atau al-asyhur al-hurum bersama Dzulqa'dah, Muharram, dan Rajab. Di bulan ini Allah Subhanahu wa ta'ala akan melipatgandakan setiap amal salih, termasuk puasa Dzulhijjah. Begitu juga sebaliknya, Allah Ta'ala memberikan ancaman berlipat pula atas setiap dosa yang diperbuat manusia.
Dirangkum dari Rumaysho, Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal M.Sc menjelaskan tata cara puasa Dzulhijjah tidak berbeda dengan puasa di bulan Ramadhan dan puasa sunah lainnya.
Dimulai dari waktu subuh sampai magrib. Kemudian adanya niat, menahan diri dari makan dan minum, menahan diri dari hubungan intim (jimak), serta menahan diri dari muntah dengan sengaja.
Niat puasa Dzulhijjah dimulai sejak malam hari. Batasan waktu niat sampai sebelum masuk waktu subuh. Jadi selepas maghrib sudah bisa langsung berniat dalam hati untuk puasa besok.
Jika belum sempat niat dan bangunnya usai imsak atau subuh, bisa langsung berniat puasa sunah dengan catatan belum makan, minum, atau mengerjakan hal-hal yang bisa membatalkan puasa.
Baca juga: Keutamaan Puasa Dzulhijjah, Benarkah Lebih Besar dari Perang Jihad?
Niat berarti al-qashdu atau keinginan. Niat puasa adalah keinginan untuk berpuasa. Letak niat di dalam hati, tidak cukup dalam lisan, tidak disyaratkan melafazkan niat. Berarti niat di dalam hati saja sudah teranggap sahnya.
Ulama besar Muhammad Al Hishni berkata:
لاَ يَصِحُّ الصَّوْمَ إِلاَّ بِالنِّيَّةِ لِلْخَبَرِ، وَمَحَلُّهَا القَلْبُ، وَلاَ يُشْتَرَطُ النُّطْقُ بِهَا بِلاَ خِلاَفٍ
"Puasa tidaklah sah kecuali dengan niat karena ada hadis yang mengharuskan hal ini. Letak niat adalah di dalam hati dan tidak disyaratkan dilafazkan." (Lihat kitab Kifayah Al-Akhyar, halaman 248)