Sekiranya Allah Subhanahu wa ta'ala menghendaki, tentulah Dia dapat menjadikan semua manusia hanya dengan satu syariat dan satu macam jalan yang akan ditempuh dan diamalkan mereka sehingga dari zaman ke zaman tidak ada peningkatan dan kemajuan, seperti halnya burung atau lebah, kehendak Allah tentu akan terlaksana dan tidak ada kesulitan sedikit pun, karena Allah kuasa atas segala sesuatu.
Tetapi yang demikian itu tidak dikehendaki oleh-Nya. Allah Subhanahu wa ta'ala menghendaki manusia itu sebagai makhluk yang dapat menggunakan akal dan pikirannya, dapat maju dan berkembang dari zaman ke zaman. Dari masa kanak-kanak ke masa remaja meningkat jadi dewasa dan seterusnya.
Demikianlah Allah Subhanahu wa ta'ala menghendaki dan memberikan kepada tiap-tiap umat syariat tersendiri untuk menguji sampai di mana manusia itu dapat dan mampu melaksanakan perintah Allah atau menjauhi larangan-Nya, sebagaimana yang telah ditetapkan di dalam kitab samawi-Nya, untuk diberi pahala atau disiksa.
Oleh karena itu seharusnya manusia berlomba-lomba berbuat kebaikan dan amal salih sesuai syariat yang dibawa oleh nabi penutup rasul terakhir Muhammad Shallallahu alaihi wassallam. Syariat yang menggantikan syariat sebelumnya untuk kepentingan dunia dan kebahagiaan di akhirat kelak.
Pada suatu waktu nanti, mau tidak mau manusia akan kembali kepada Allah Subhanahu wa ta'ala memenuhi panggilan-Nya ke alam baka. Di sanalah nanti Allah akan memberitahukan segala sesuatu tentang hakikat yang diperselisihkan mereka.
Orang yang benar-benar beriman akan diberi pahala, sedang orang-orang yang ingkar dan menolak kebenaran, serta menyeleweng tanpa alasan dan bukti, akan diazab dan dimasukkan ke dalam neraka.
Demikian penjelasan mengenai tafsir Surat Al Maidah Ayat 48. Semoga sangat jelas dan dapat memberikan manfaat. Allahu a'lam bisshawab.
(Hantoro)