Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Cuma Cium Aroma Masakan, Abu Nawas Dipaksa Bayar 100 Dinar ke Abu Jahal

Fini Nola Rachmawati , Jurnalis-Selasa, 13 Desember 2022 |06:13 WIB
Cuma Cium Aroma Masakan, Abu Nawas Dipaksa Bayar 100 Dinar ke Abu Jahal
Ilustrasi Abu Nawas dan Abu Jahal. (Foto: YouTube Juha Official)
A
A
A

SUATU ketika Abu Jahal yang merupakan tetangga dekat Abu Nawas sedang mempersiapkan pesta besar di rumahnya. Hampir semua kerabat dan tetangga terdekat diundang, kecuali Abu Nawas. Meski demikian, Abu Nawas tidak menaruh rasa benci kepada Abu Jahal, sebab ia tahu persis wataknya.

Mengenai pesta yang akan Abu Jahal adakan tanpa mengundang Abu Nawas sebenarnya hanya bertujuan ingin membalas dendam. Pasalnya selama ini usaha Abu Jahal untuk mengerjai Abu Nawas selalu gagal dan menurutnya kali ini dengan rencana membuat pesta besar di rumah bisa dengan puas meledek Abu Nawas.

Pesta yang akan diselenggarakannya terbilang tidak main-main. Abu Jahal bahkan mengundang koki ternama dari negeri seberang. Ia rela membayar upah cukup mahal supaya bersedia memasak di rumahnya, tentu saja karena yang memasak adalah koki ternama cita rasa masakan yang dibuatnya pastilah lezat dan menggugah selera.

Saat si koki mulai memasak untuk jamuan pesta, aromanya menyebar ke mana-mana. Siapa saja yang menghirupnya pasti langsung tergoda. Kebetulan aroma masakan tersebut menyebar sampai rumah Abu Nawas.

BACA JUGA:Abu Nawas Lolos dari Hukuman Dimasak Jadi Bubur, Caranya Lucu Banget! 

Kala itu Abu Nawas yang sedang duduk di depan rumah tanpa sengaja mencium aroma masakan yang begitu lezat. "Betapa nikmatnya aroma masakan ini, apalagi kalau sampai memakannya," gumam Abu Nawas, seperti dikutip dari kanal YouTube Humor Sufi Official, Selasa (13/12/2022).

Ia pun penasaran dari mana asal aroma masakan itu. Abu Nawas lalu berjalan menelusuri mencari asal bau masakan yang lezat tersebut, dan ternyata berasal dari rumah Abu Jahal yang sedang mempersiapkan pesta.

Melihat kehadiran Abu Nawas di rumahnya, terbesit di benak Abu Jahal untuk meledeknya. Tapi nyatanya itu tidak jadi dilakukan sebab Abu Jahal mendapat ide yang lebih konyol.

"Abu Nawas, ngapain kamu di situ?" teriak Abu Jahal.

BACA JUGA:Cerita Lucu Abu Nawas Kalahkan 3 Orang Tuli Marah-Marah, Cukup dengan Melotot 

Abu Nawas yang sedang asyik menghirup aroma masakan langsung kaget mendengar teriakan Abu Jahal. "Tidak ngapa-ngapain Abu Jahal," sahutnya.

"Kamu jangan bohong Abu Nawas. Kurang ajar, kamu pasti sedang mencuri bau masakanku," timpal Abu Jahal.

Namun, Abu Nawas tidak menghiraukan Abu Jahal. Ia memilih balik ke rumah. Tapi ketika baru saja melangkah, Abu Jahal langsung menghalanginya.

"Tunggu! Kamu tidak boleh pergi seenaknya. Kamu harus membayar bau masakan yang kamu curi," bentak Abu Jahal. 

Perkataan Abu Jahal ini sempat membuat Abu Nawas heran dan terkejut. "Apa bayar? Hanya mencium bau masakan disuruh bayar?" tanya Abu Nawas tidak percaya.

"Benar, karena masakanku ini dibuat oleh koki profesional dengan bayaran mahal," jawab Abu Jahal sombong.

Dikarenakan tidak ada yang mau mengalah, pertengkaran kedua orang ini mengundang perhatian warga setempat. Para warga pun langsung mengerumuni mereka berdua dengan tujuan melerai.

"Sudah-sudah, begini saja, daripada kalian ribut di sini, lebih baik masalah ini kalian bawa ke pengadilan. Biar tuan hakim yang menentukan, siapa yang benar dan siapa yang salah," saran dari salah seorang warga.

"Baik, saya tidak takut. Ayo kita ke rumah tuan hakim," tantang Abu Jahal. Maka keduanya pun diantar warga pergi menuju rumah tuan hakim.

"Ada masalah apa ini?" tanya tuan hakim.

Abu Nawas lalu menceritakan secara detail kronologi masalah yang dialami. "Masak sih hanya mencium bau masakan disuruh bayar? Tuan Hakim, ini kan aneh," kata Abu Nawas heran.

Abu Jahal tidak mau kalah berargumen. "Tuan hakim, bila seseorang mengambil sesuatu milik orang lain, sedangkan orang lain itu tidak ikhlas, bukankah itu namanya mencuri?" tanya Abu Jahal.

"Benar orang tersebut bersalah dan bisa dituntut hukuman," jawab tuan hakim.

"Nah, begitu juga dengan hamba, tuan hakim. Di rumah hamba sedang memasak makanan lezat, dan Abu Nawas ini telah menghirup aroma masakan yang berasal dari rumah hamba. Sedangkan hamba tidak ikhlas tuan hakim. Bukankah itu termasuk perbuatan mencuri?" tanya Abu Jahal lagi.

"Oleh karena itu, hamba menuntut supaya Abu Nawas membayarnya," kata Abu Jahal melanjutkan.

"Ada benarnya ucapan Abu Jahal, tapi masak iya hanya gara-gara mencium masakan harus disuruh bayar," pikir tuan hakim.

Sementara Abu Nawas melihat gelaga tuan hakim yang tampak kebingungan menangani masalah ini. Abu Nawas tahu tuan hakim adalah orang bijak, tapi karena pintarnya Abu Jahal dalam mengolah kata, membuat tuan hakim jadi kebingungan.

"Begini saja tuan hakim, hamba mengaku telah bersalah dan hamba bersedia membayar," ujar Abu Nawas.

"Tapi Abu Nawas, apa kamu yakin?" tanya tuan hakim merasa tidak tega.

"Iya tuan hakim, hamba tidak keberatan," jawab Abu Nawas.

"Baiklah. Abu Jahal, berapa Abu Nawas harus membayarmu?" tanya tuan hakim.

"(Sebesar) 100 dinar tuan hakim," jawab Abu Jahal.

"(Sebanyak) 100 dinar? Yang benar saja kamu!" tanya tuan hakim terkejut.

"Hamba serius tuan hakim. Masakan yang baunya dicium Abu Nawas itu hidangan mahal. Belum lagi koki yang masak sengaja didatangkan dari negeri seberang, bayarannya sangat mahal. Jadi wajar kalau hamba menuntut ganti rugi 100 dinar," balas Abu Jahal.

"Bagaimana Abu Nawas? Apakah kamu bersedia?" tanya tuan hakim kepada Abu Nawas.

Dengan tersenyum Abu Nawas menjawab, "Hamba bersedia tuan hakim, tapi hamba minta izin mau pulang ke rumah untuk mengambil uang 100 dinar," pinta Abu Nawas.

Abu Nawas lalu dipersilakan pulang untuk mengambil uangnya.

"Kena kau Abu Nawas, kali ini aku berhasil mengerjaimu dan aku juga mendapatkan uang 100 dinar,” kata Abu Jahal dalam hati penuh kegirangan. 

Tidak berapa lama kemudian Abu Nawas kembali dengan membawa uang 100 dinar. "Tuan hakim, kantong yang hamba bawa ini isinya koin emas berisi 100 dinar, tapi sebelumnya hamba ingin memperlihatkannya kepada tuan hakim supaya benar-benar percaya kalau uang di dalam kantong ini berjumlah 100 dinar," tutur Abu Nawas.

Abu Nawas lalu memberikan kantongnya kepada tuan hakim dan disuruh menghitung jumlahnya. Setelah selesai menghitung, tuan hakim pun mengembalikannya kepada Abu Nawas.

"Benar Abu Nawas, uangnya berjumlah 100 dinar," ucap tuan hakim.

Kemudian Abu Nawas menggoyang-goyangkan kantong tersebut hingga terdengar suara gemerincing kepingan uang yang berasal dari kantong miliknya.

"Hai Abu Jahal, apakah kau mendengar suara kepingan uang ini?" tanya Abu Nawas.

"Iya aku mendengarnya. Sini berikan uangnya kepadaku," pinta Abu Jahal tidak sabar.

"Bukannya barusan aku sudah memberimu, kenapa malah minta uang ini?" ujar Abu Nawas.

"Mana? Sepeser pun aku belum menerimanya," protes Abu Jahal.

Agar keributan tidak terjadi lagi, tuan hakim lalu menengahi, "Maksudnya bagaimana Abu Nawas? Aku perlu mengerti," tanya tuan hakim.

"Begini tuan hakim yang hamba curi kan bau masakan, bukan masakannya, jadi hamba membayarnya pakai suara duitnya saja, bukan duitnya," kata Abu Nawas menjelaskan.

Mendengar itu, tuan hakim pun manggut-manggut membenarkan ucapan Abu Nawas. "Bagaimana Abu Jahal, apakah kamu keberatan?" tanya tuan hakim.

Abu Jahal hanya terdiam. Ia tidak menyangka Abu Nawas bisa sampai secerdik itu. Dia pun kecewa karena gagal mendapatkan uang 100 dinar.

"Baiklah, aku rasa kasus ini sudah selesai dan ditutup," pungkas tuan hakim. Wallahu a'lam bisshawab

(Hantoro)

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita muslim lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement