Share

Kisah Nabi Hud dan Angin Dingin

Kiki Oktaliani, Jurnalis · Selasa 10 Januari 2023 13:23 WIB
https: img.okezone.com content 2023 01 10 614 2743472 kisah-nabi-hud-dan-angin-dingin-IQD04Y8UXM.jpg Kisah nabi (Foto: Frontier blog)

NABI Hud merupakan seorang tokoh yang disebutkan di dalam Al-Qur’an pada Surah Hud, dan juga Nabi ke-4. Dikisahkan Nabi Hud diutus oleh Allah untuk berdakwah kepada suatu kaum yang dinamakan sebagai kaum ‘Ad untuk mengajak kaum tersebut kembali ke jalan Allah.

Namun kedatangan dan pesan yang disampaikan oleh Nabi Hud tak diindahkan oleh kaumnya tersebut. Sehingga terjadilah suatu peristiwa yang menimpa pada orang-orang yang tak mengimani Allah ini setelah peringatan yang disampaikan dari Nabi Hud.

 kisah nabi

Seperti apa kisah kaum tersebut?

Nabi Hud A.S memiliki kaum yang dinamakan kaum Ad, sebutan ini diambil dari kabilah tertua dan terbesar di antara mereka. Mereka menempati di sebuah bukit-bukit pasir di antara Yaman dan Oman.

Sepanjang waktu mereka hidup aman, damai, dan sejahtera. Allah SWT selalu memberi nikmat yang melimpah, kebaikan yang banyak, dan sumber mata air memancar deras. Mereka bercocok tanam, menggarap kebun-kebun, dan membangun gedung-gedung tinggi nan kokoh sebagai tempat tinggal.

Mereka dikaruniai fisik besar dan kuat. Mereka dikaruniai Allah sesuatu yang tidak diberikan kepada yang lainya di muka bumi ini.

Taklid Buta

Dengan segala kenikmatan yang diberikan oleh Allah, kaum ini justru semakin jauh dari Islam. Mereka tak berusaha mencari tahu darimana asal segala kenikmatan yang mereka dapat. Akal dan tabiat mereka benar-benar menyimpang.

Kaum ‘Ad justru membuat patung-patung dan menyembah seeta menjadikannya sebagai Tuhan. Segala nikmat dan hal baik yang didaptkan kaum ini justru berterima kasih pada berhala-berhala tersebut, dan saat ditimpa musibah atau keburukan mereka juga mengadukannya pada berhala-berhala tersebut.

Selebihnya, mereka berbuat kerusakan di muka bumi, yang kuat menghinakan yang lemah, yang tua memusuhi yang muda.

Akhirnya Allah SWT berkehendak, untuk membemberikan pelajaran kepada orang-orang kuat, meneguhkan orang-orang lemah, meluluhkan jiwa yang jahil, dan menghilangkan kebutaan mata hati mereka.

Kemudian dengan mengutus Rasul di tengah-tengah mereka, yang berasal dari kalangan mereka, berbicara dengan bahasa mereka, dan memberikan nasihat kepada mereka untuk kembali ke jalan yang di ridhoi oleh Allah SWT.

Dan kepada kaum ‘Ad (Kami utus) saudara mereka, Hud. Ia berkata, “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dan kalian hanyalah mengada-adakan saja.” (Huud: 50)

Hud berasal dari keturunan terbaik di antara mereka, berakhlak mulia, sangat santun, dan lapang dada, maka Allah swt memilihnya untuk menjadi pemegang amanah risalah-Nya dan penyeru dahwah-Nya, agar akal pikiran mereka terbuka dan terbebas dari kesesatan, serta jiwa yang kembali hanif.

Nabi Hud berdakwah kepada kaum tersebut dengan penuh kesabaran, Ia tak pernah lelah mengajak kaum nya untuk menyembah Allah dan meninggalkan berhala. Beliau juga mengingatkan untuk selalu bersyukur hanya kepada Allah Subhanahuwata’ala atas semua Karunia yang mereka dapatkan, namun kaum tidak mendengarkan nasehat tersebut.

Mereka justru secara lantang menentang dakwah dari nabi Hud. Mereka pun berkata

“ Wahai Hud engkau tidak mendatangkan suatu bukti nyata kepada kami, dan kami tidak akan meninggalkan sesembahan kami karena perkataanmu dan kami tidak akan mempercayaimu, kami hanya mengatakan bahwa sebagian sesembahan kami telah melimpahkan penyakit gila atas dirimu.”

BACA JUGA:Kisah Nabi Muhammad Membuat Kambing Kurus Menghasilkan Susu Melimpah 

Nabi Hud menjawab,

“Sesungguhnya aku bersaksi kepada Allah dan saksikanlah bahwa aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan, dengan yang lain, sebab itu jalankanlah semua tipudaya mu terhadapku dan jangan kamu tunda lagi.“ (QS. Hud : 53-55)

Setelah itu nabi Hud pun menyerahkan nasib kaum nya kepada Allah SWT. Allah pun menjawab doanya, kemudian memerintahkan nabi Hud dan kaum nya untuk pergi seketika.

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Follow Berita Okezone di Google News

Azab Berupa Angin Dingin yang Menimpa Kaum ‘Ad

Selepas kepergian nabi Hud, azab benar-benar menimpa kaum ‘Ad. Azza pertama yang diterima adalah mandulnya para kaum wanita, dan bersamaan dengan itu negeri mereka pun dilanda kemarau yang sangat panjang, mereka tidak mendapatkan hujan selama tiga tahun tanpa henti, alhasil negeri kaum ‘Ad yang semula subur dan makmur berubah menjadi negeri yang kering kerontang.

Tak ada lagi sungai yang mengalir, tanah mulai retak dilanda kekeringan, dan begitu pula dengan pohon yang menjadi layu dan mati serta binatang binatang yang tidak sanggup hidup lagi. Nabi Hud kembali berdakwah dan mengingatkan kepada mereka untuk kembali ke jalan yang benar.

Namun meskipun telah menerima azab yang begitu berat mereka tak kunjung sadar. Kaum ini masih tak percaya dengan kuasa Allah ta’ala mereka kembali menghadap kepada berhala-berhala dan memohon perlindungan dari musibah yang mereka hadapi.

Azab Allah kemudian kembali menimpa kaum ‘Ad. Suatu hari berdatangan awan hitam yang tebal, kaum ‘Ad pun bergembira mereka mengira bahwa awan tersebut adalah pertanda akan turunnya hujan.

Alih-alih menjadi hujan awan tersebut pun justru membawa kehancuran bagi kaum ‘Ad, sebagai pembalasan Allah. Bukan hujan yang turun dari awan tebal hitam itu, melainkan angin topan yang sangat dahsyat disertai gemuruh yang sangat mengerikan, Allah berfirman

“Sedangkan kaum ‘Ad, mereka telah di binasakan dengan angin topan yang sangat dingin, Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam delapan hari terus menerus, maka kamu melihat kaum atau pada waktu itu mati bergelimpangan seperti batang batang pohon kurma yang telah kosong (lapuk).” (QS. Al Haqqah : 6-7).

Angin dingin terus bertiup hingga delapan hari tujuh malam, sampai akhirnya semua kaum atau Musnah dan tak ada satupun orang diantara mereka yang tersisa.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini