Share

Perang Tabuk, Pertempuran Pasukan Muslim Melawan Romawi di Bulan Rajab

Tim Okezone, Jurnalis · Jum'at 27 Januari 2023 18:27 WIB
https: img.okezone.com content 2023 01 27 614 2754259 perang-tabuk-pertempuran-pasukan-muslim-melawan-romawi-di-bulan-rajab-amuN1xz9Eq.jpg Ilustrasi kisah Perang Tabuk pada bulan Rajab. (Foto: Unsplash)

BULAN Rajab merupakan satu di antara empat bulan mulia dan suci. Ada banyak peristiwa pada bulan ketujuh dalam kalender hijriah ini. Salah satunya adalah Perang Tabuk antara pasukan Muslim melawan Romawi. Ini menjadi perang terakhir pada masa Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassallam.

Dilansir nu.or.id, Ustadz Muhammad Abror menjelaskan bahwa Perang Tabuk merupakan perang antara tentara Muslim melawan imperium Romawi. Perang ini terjadi pada bulan Rajab 9 Hijriah dan berakhir pada bulan Ramadhan di tahun yang sama.

Kendati tidak sempat terjadi kontak fisik karena pasukan musuh menyerah sebelum bertempur, Perang Tabuk berlangsung selama 50 hari. Pembagiannya 20 hari Muslim berada di Tabuk dan 30 hari menempuh perjalanan pulang pergi dari Madinah ke Tabuk. (Lihat kitab Safyurrahman al-Mubarakfuri, Rahiqul Makhtum, (Riyadh: Muntada Ats-Tsaqafah, 2013), halaman 366)

Baca juga: BACA JUGA:Kisah Perang Tabuk di Bulan Rajab, Perang Terakhir Nabi Muhammad  

Penyebab Perang Tabuk 

Penaklukan Kota Makkah (Fathu Makkah) merupakan puncak kemenangan umat Islam karena Tanah Suci tersebut sudah berada dalam kekuasaan kaum Muslimin. Orang-orang musyrik pun berbondong-bondong memeluk Islam. Namun, masih ada kekuatan besar imperium Romawi yang menjadi ancaman.

Konflik antara Muslim dan Romawi sendiri sudah dimulai sejak terbunuhnya utusan Rasulullah Shallallahu alaihi wassallam bernama Al-Harits bin Umair di tangan Syurahbil bin Amr al-Ghassani. Setelah terbunuhnya Al-Harits, Rasulullah mengirim pasukan di bawah pimpinan Zaid bin Haritsah untuk menyerang pasukan Romawi di Mu’tah. 

Info grafis bulan Rajab. (Foto: Okezone)

Setelah peperangan itu, ternyata sejumlah kabilah Arab mulai melepaskan diri dari Qaishar Romawi dan bergabung dengan umat Islam.

Menyadari hal ini, Romawi segera mengambil sikap sebelum umat Islam benar-benar menjelma pasukan yang sangat kuat dan sulit dikalahkan. Imperium Romawi pun mulai menyiapkan kekuatan besar untuk menghancurkan pasukan Muslim.

Ternyata kabar rencana penyerangan itu terdengar ke telinga umat Muslim kendati masih samar-samar. Sadar bahwa Romawi merupakan imperium raksasa paling ditakuti pada masanya, membuat masyarakat Muslim di Kota Madinah gelisah. Khawatir jika tiba-tiba Romawi datang menggempur mereka dan meluluhlantakkan Madinah.

BACA JUGA:Kisah Pertobatan dan Kejujuran 3 Sahabat Nabi yang Tidak Ikut Perang Tabuk 

Kekhawatiran itu makin besar. Bahkan jika terdengar suara ganjil, umat Islam berprasangka buruk terlebih dulu, jangan-jangan imperium Romawi sudah tiba di Madinah.

Hal serupa juga dialami Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassallam, bahkan beliau sampai menjauh dari istri-istrinya selama satu bulan. Suasana ini makin diperparah dengan ulah orang-orang munafik yang berkasak-kusuk tentang persiapan pasukan Romawi.

Ketidakpastian informasi tersebut akhirnya berakhir ketika datang serombongan orang dari Syam ke Madinah sambil membawa minyak. Mereka menginfokan bahwa Heraklius, sang raja Romawi, sudah menyiapkan pasukan besar dengan kakuatan 40.000 prajurit. Kabilah-kabilah Arab Nasrani seperti Lakhm, Judzam, dan lainnya juga turut bergabung. 

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Follow Berita Okezone di Google News

Keputusan Pasukan Muslim

Menyadari kondisi yang betul-betul genting, Rasulullah Shallallahu alaihi wassallam segera mengambil keputusan setelah melalui pertimbangan militer cukup matang. Beliau tidak ingin pasukan Muslim hanya menunggu imperium Romawi di Madinah dan membiarkan mereka menjarah wilayah-wilayah yang sudah berada di bawah kekuasaan Muslim.

Rasulullah Shallallahu alaihi wassallam akhirnya memutuskan keluar dari Madinah dan menyerang imperium terkuat pada masanya itu. Setelah keputusan bulat, beliau segara melakukan konsolidasi dengan mengirim sejumlah utusan untuk mengajak kabilah-kabilah Arab agar bergabung.

Tidak hanya itu, beliau juga mengumumkan secara langsung seruan perang ini. Sesuatu yang baru kali ini beliau lakukan.

Setelah mendengar seruan itu, kaum Muslimin dengan sigap bersiap siaga dan berlomba-lomba memberikan sumbangan untuk kebutuhan perang. Utsman bin Affan menyumbang senilai 900 unta dan 100 kuda, belum termasuk uang tunai.

Abdurrahman bin Auf menyumbang 200 uqiyah perak, Abu Bakar menyerahkan semua hartanya senilai 4000 dirham, dan masih banyak lagi.

Pasukan Muslim Berangkat ke Tabuk

Setelah persiapan matang, pasukan Muslim pun bergerak ke arah utara menuju Tabuk dengan membawa 30.000 prajurit, 10.000 lebih sedikit dibanding jumlah perajurit Romawi. Sekalipun begitu banyak sumbangan yang berhasil terkumpul, ternyata belum mencukupi untuk pasukan sebanyak itu.

Saking kekurangannya, sampai-sampai 18 prajurit hanya mendapat satu unta. Bahkan untuk bisa minum saja mereka harus menyembelih unta tersebut agar bisa mengambil air di punuknya dan dagingnya untuk dimakan. (Safyurrahman al-Mubarakfuri, h. 364-365)

Sementara Rasulullah Shallallahu alaihi wassallam menitipkan keluarganya di Madinah kepada Ali bin Abi Thalib. Mengetahui hal itu, orang-orang munafik menghasut Ali agar pergi perang dan meninggalkan ahlul bait. 

Hasutan itu gagal dan Rasulullah Shallallahu alaihi wassallam berkata kepada Ali, "Tidakkah engkau senang, hai Ali. Kau bagiku seperti kedudukan Harun bagi Musa, hanya saja tidak ada Nabi setelahku." (Abdussalam Harun, Tahdzibus Sirah Ibnu Hisyam, (Beirut: Muassasar ar-Risalah, 1985), h. 288)

Setibanya di Tabuk, Rasulullah Shallallahu alaihi wassallam berpidato di hadapan pasukan dan menyemangati mereka. Semangat mereka berkobar dan siap untuk bertempur.

Di sisi lain, pasukan Romawi yang mendengar kabar bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wassallam telah menggalang pasukan, mentalnya menciut sehingga tidak berani maju dan malah pasukan mereka terpencar ke wilayah sendiri-sendiri.

Ringkas cerita, pihak musuh mengajak berdamai dengan membayar upeti. Dengan ini, kemenangan berada di pihak kaum Muslim, kendati tidak sampai terjadi pertempuran.

Sejak saat itu pasukan Muslim makin digdaya karena berhasil mengalahkan imperium raksasa Romawi. Kabilah-kabilah Arab yang sebelumnya mendukung Romawi pun kini bergabung bersama pasukan Muslim. (Safyurrahman al-Mubarakfuri, h. 365–366)

Wallahu a'lam bisshawab

1
3
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis Okezone.com tidak terlibat dalam materi konten ini.

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini