JEDDAH - Tangis jamaah haji asal Demak bernama Soejantini ini mendadak pecah saat mengenang sang suaminya Suprapto Tarlim Kerto Wijoyo meninggal di Tanah Suci. Suprapto adalah jamaah asal Indonesia pertama di tahun 2023 yang meninggal dunia di Arab Saudi.
Kemarin, Selasa (4/7), Soejantini bersama rombongan dari kloter 3 Solo-Yogyakarta (SOC 03) bertolak kembali ke Indonesia. Mereka telah selesai melakukan semua rangkaian ibadah haji, mulai dari sunnah seperti sholat 40 waktu di Masjid Nabawi sampai ke puncak haji dari wukuf di Arafah, bermalam di Muzdalifah dan mabit di mina.
Awal cerita, Soejantini masih tegar. Dia menceritakan bagaimana kebahagiannya sudah menyelesaikan rangkaian haji dan ketegarannya menjalani ibadah rukun Islam kelima tersebut tanpa suami sejak kali pertama mendarat di Tanah Suci.
"InsyaAllah saya kuat, sepeninggal bapak itu ketetapan Allah dan ketetapan Allah yang terbaik sehingga kuat menjalankan haji," kata ibu dua anak tersebut kepada Media Center Haji (MCH) di Jeddah, (4/7/2023).
BACA JUGA:
Soejantini sendiri tidak bisa mendampingi suaminya saat pemakaman karena terbentur aturan ziarah untuk Arab Saudi. Dia hanya bisa menitip pesan agar divideokan saat proses pemakaman sebagai dokumen terakhir almarhum. Sampai cerita ini, Soejantini kuat. Tangisnya meledak saat menceritakan momen kehilangan suaminya.
Apalagi, almarhum tidak memperlihatkan gejala sakit atau apa. Justru dia yang sempat tidak enak badan sebelum keberangkatan. Waktu berangkat ke Solo, dia baru pulang dari Puskemas sehingga saat di embarkasi Donohudan masih sakit. Di Donohudan juga sempat diperiksa di dokter. Justru almarhum baik-baik saja dan tidak ada keluhan.
Termasuk saat mendarat di Madinah, lanjut Soejantini, almarum masih ikut mengantarnya dan membukakan pintu kamar untuknya. "Bapak justru belum dapat. Setelah membukakan pintu kamar, dia numpang salat di kamar sebelah. Saat itu, bapak memanggil-manggil dari dalam kamar mandi minta tolong. Bapak kemudian dibopong keluar dan direbahkan di tempat tidur, saya pun dipanggil," tutur Soejantini.
Dia mengaku masih sempat mengoleskan minyak angin, sambil minta tolong memanggilkan dokter. Tapi saat itu, tiba-tiba seperti ada yang berbisik; "Kalau sudah kehendah Allah, dokter pun tidak akan bisa menolong".
"Saya langsung menjerit, spontan saya bilang La hawla wa la quwwata illa billah beberapa kali," ujar Soejantini, dan tangisnya pun pecah. Beberapa rekannya menenangkan dengan mengelus bahunya.
"Tapi teman saya bilang, bu jangan panjang panjang bu, bilang saja Allah Allah, terus saya saya bilang Allah Allah, bapak sempat melihat ke saya bilang Allah Allah dua kali, hanya saat itu saya menengok masih mencari dokter," tambahnya. Dia kemudian melihat momen di mana suaminya menghembuskan napas terakhirya.
Ibu berusia 51 tahun itu mengaku kuat menjalani semua karena suaminya meninggal di Tanah Suci dan dimakamkan di Baqi sehingga langsung lolos ke taman surga Allah. "Dan saya pun harus bisa seperti bapak sehingga menjadikan saya kuat seperti bapak," pungkasnya.
(Dani Jumadil Akhir)