KEMENTERIAN Agama (Kemenag) sedang menyusun buku pintar haji. Buku ini disiapkan dengan harapan dapat menjawab beragam persoalan haji masa kini dan mendatang, termasuk yang terkait hukumnya.
Direktur Bina Haji Arsad Hidayat mengatakan ada sejumlah alasan pentingnya dihadirkan buku pintar haji. Ini bertujuan untuk menjawab segala permasalahan haji, termasuk SOP, dan advokasi jamaah.

Menurut dia, masyarakat sekarang sangat kritis, sehingga ketika merasa tidak puas terhadap layanan penyelenggaraan ibadah haji maka protes, bahkan hingga mengajukan ke pengadilan.
"Kasus gugatan salah satu jamaah di Jawa Timur harus menjadi yurisprudensi Kementerian Agama sekaligus referensi dalam menghadapi permasalahan hukum. Potensi terjadinya masalah haji di tahun mendatang akan bisa terjadi lagi," ucapnya, Selasa 7 November 2023.
"Nah, ini menurut saya perlu dipelajari betul tata cara bagaimana penyelesaian perkara jika terjadi seperti itu. Jadi setiap Kanwil Kemenag harus tahu bagaimana cara penyelesaiannya. Selama ini kita khawatir, padahal kita tahu apa yang kita lakukan benar dan sesuai prosedur," imbuhnya, dikutip dari Kemenag.go.id.
Ditjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah saat ini belum memiliki SOP dalam penanganan masalah haji, termasuk yang berkaitan dengan hukum. Arsad berharap peran ini bisa dioptimalkan oleh Tim Advokasi Haji agar ke depan sudah ada SOP dalam penyelesaian perkara dan beracara di pengadilan.
Selama ini Subdit Advokasi Direktorat Bina Haji tidak langsung berhubungan atau berpekara di pengadilan jika ada persoalan hukum terkait penyelenggaran ibadah haji. Oleh karena itu, diperlukan tambahan wawasan dalam beracara di pengadilan.
"FGD diharapkan dapat menyusun SOP beracara terkait permasalahan haji, baik itu pelayanan di Arab Saudi maupun dalam negeri. Pasalnya hal serupa berpeluang terjadi lagi di tahun mendatang," jelasnya.
Ia melanjutkan, terkait buku pintar haji, Subdit Advokasi Haji bisa meniru konsep Alquran dalam menyosialisasikan tentang hukum dengan menggunakan "yasalunaka" yang artinya "mereka bertanya kepadamu".
"Maksud saya, konsep Alquran model seperti ini bisa kita implementasikan dalam buku pintar yang isinya orang ingin tahu tentang haji, akomodasi, transportasi, katering, manasik, advokasi, dan banyak pertanyaan lainnya," paparnya.
"Itu kalau kita buat dan kita kirim ke masing-masing Kanwil Kemenag kabupaten/kota hingga KUA, itu luar biasa dan sangat bermanfaat sekali. Dan ini juga penting buat advokasi dan sosialisasi," tegasnya.
Pasalnya, kata dia, hal sederhana seputar pendaftaran, pelimpahan porsi, cara melihat estimasi keberangkatan saja menjadi informasi penting bagi calon jamaah haji. Dirinya berharap masing-masing bidang layanan melakukan inventaris untuk melengkapi buku pintar tentang haji.
(Hantoro)