Dan pada saat itulah pintu-pintu kenikmatan dunia dibukakan lebar-lebar. Rezeki dilapangkan, urusan dipermudah, kesenangan datang bertubi-tubi, hingga hati merasa aman dan yakin bahwa dirinya berada di jalan yang benar. Hingga ketika manusia benar-benar tenggelam dalam rasa puas dan lupa diri, barulah datang ketetapan Allah secara tiba-tiba berupa siksaan yang akan membuat mereka menyesal dan putus asa, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:
فَلَمَّا نَسُواْ مَا ذُكِّرُواْ بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إذا فَرِحُواْ بِمَا أُوتُواْ أَخَذْنَاهُم بَغْتَةً فَإذا هُم مُّبْلِسُونَ
Artinya, “Maka, ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan pintu-pintu segala sesuatu (kesenangan) untuk mereka, sehingga ketika mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka secara tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam putus asa,” (QS. Al-An’am: 44).
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Oleh karena itu, mari jangan sampai tertipu dengan kenyamanan yang kita dapatkan. Jangan sampai nikmat yang kita terima justru menjauhkan kita dari Allah, jangan sampai kelapangan hidup membuat kita lalai dari kewajiban, dan jangan pula merasa aman dari murka-Nya hanya karena urusan dunia terasa dimudahkan.
Dan ketahuilah, bahwa ujian berupa kenyamanan jauh lebih berat daripada ujian berupa kesulitan. Karena ketika diuji dengan kesulitan, hati kita akan lebih mudah untuk kembali kepada Allah SWT. Kita akan berdoa, memohon pertolongan, merendahkan diri di hadapan-Nya, dan sadar bahwa kita lemah dan tidak berdaya tanpa pertolongan-Nya.
Namun ketika diuji dengan kenyamanan, hati kita cenderung menjadi keras dan sombong. Kita merasa bahwa segala yang kita miliki adalah hasil dari kerja keras kita sendiri, tanpa campur tangan Allah SWT, serta lupa bahwa semua nikmat yang kita rasakan adalah amanah yang harus kita pertanggungjawabkan di hadapan-Nya.