Kondisi para arsitek kerusakan ini telah digambarkan Allah SWT dalam al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 11:
وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ
Artinya: “Dan apabila dikatakan kepada mereka: ‘Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi,’ mereka menjawab: ‘Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.’”
Inilah puncak dari kesombongan; melakukan kehancuran sistematis namun mengklaimnya sebagai upaya menciptakan ketertiban. Pengabaian terhadap berbagai resolusi internasional menjadi bukti empiris bahwa keadilan dunia saat ini sedang berada di titik nadir, di mana hukum hanya berlaku bagi mereka yang lemah, namun tumpul di hadapan mereka yang memiliki kekuatan senjata.
Refleksi kita pada hari raya ini tidak akan lengkap tanpa kita menoleh dengan jujur ke dalam diri kita sendiri. Realitas dunia Islam hari ini sungguh memprihatinkan. Di tengah kepungan krisis geopolitik, kita justru terjebak dalam fragmentasi (keterpecahan) yang akut. Umat Islam yang jumlahnya kini mencapai hampir dua miliar jiwa tampak tercerai-berai, kehilangan orientasi sebagai satu tubuh yang saling menguatkan. Sangat menyedihkan ketika kita melihat sebagian kekuatan dunia Islam justru lebih memilih membangun koalisi dengan kekuatan Barat yang memiliki watak penjajah daripada mempererat kerja sama strategis dengan sesama dunia Islam atau mereka yang punya ketulusan menegakkan keadilan.
Kita sedang mengalami krisis kepemimpinan yang kronis. Banyak pemimpin dunia Islam yang kehilangan visi besar untuk melihat peradaban Islam sebagai sebuah entitas yang bersatu, kuat, dan mandiri. Tanpa persatuan umat Islam serta kemandirian dalam bidang teknologi, ekonomi, dan pertahanan, kita akan terus menjadi penonton di pinggir sejarah, sementara saudara-saudara kita terus menjadi korban dari sistem global yang tidak adil. Ramadan seharusnya mengembalikan kesadaran kolektif kita bahwa kita adalah satu umat yang kuat bukan hanya karena jumlahnya, melainkan karena kesatuan visi peradaban yang kita miliki.