Karena itu, Allah Swt. juga memberikan peringatan keras kepada orang-orang yang gemar menumpuk harta dan merasa aman dengan kekayaannya. Dalam Al-Qur’an, Allah Swt. berfirman:
وَيْلٌ لِّكُلِّ هُمَزَةٍ لُّمَزَةٍۙ ࣙالَّذِيْ جَمَعَ مَالًا وَّعَدَّدَهٗۙ يَحْسَبُ اَنَّ مَالَهٗٓ اَخْلَدَهٗۚ
Artinya: “Celakalah setiap pengumpat lagi pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya. Dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya.” (QS. Al-Humazah: 1–3).
Ma’asyiral Muslimin, Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah,
Di tengah kehidupan saat ini, manusia menghadapi krisis kepedulian yang kian nyata. Teknologi memang mempermudah hidup, tetapi pada saat yang sama juga perlahan menjauhkan manusia dari empati dan kebersamaan. Media sosial membuat kehidupan orang lain mudah terlihat, tetapi tidak selalu membuat hati menjadi lebih peduli.
Hari ini, banyak orang sibuk memamerkan kemewahan hidup, tetapi abai terhadap tetangga yang kesulitan makan. Banyak orang berlomba membangun citra diri, tetapi lalai membantu saudara yang sedang tertimpa musibah. Akibatnya, individualisme tumbuh semakin kuat, hubungan antarwarga makin renggang, dan semangat gotong royong perlahan memudar.
Tidak sedikit orang hidup dalam kecukupan, tetapi tidak mengenal kondisi masyarakat di sekitarnya. Ada yang tidur dalam keadaan kenyang, sementara tetangganya menahan lapar. Ada pula yang menghabiskan harta demi gaya hidup berlebihan, sedangkan anak yatim dan kaum dhuafa masih menanti uluran tangan.
Karena itu, Islam mengajarkan umatnya untuk membangun kepedulian sosial. Kesalehan seorang Muslim tidak cukup diukur dari ibadah pribadinya, tetapi juga dari manfaat yang ia hadirkan bagi sesama. Sebab, keberkahan hidup tidak lahir dari banyaknya harta, melainkan dari seberapa besar manfaat yang mampu diberikan kepada orang lain.
Menghadapi kondisi ini, semangat kurban perlu kita hidupkan kembali. Ibadah kurban tidak hanya memperkuat kesalehan pribadi, tetapi juga menumbuhkan kesalehan sosial. Kurban mengajarkan solidaritas, kepedulian, dan kecintaan untuk berbagi.
Saat daging kurban dibagikan kepada sesama, Islam menghadirkan pemerataan kebahagiaan. Mereka yang kurang mampu ikut merasakan nikmat yang mungkin jarang mereka dapatkan pada hari-hari biasa. Islam tidak menghendaki kebahagiaan hanya dinikmati oleh sebagian orang.