Dikutip dari kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, berbeda dengan syirik besar, syirik kecil tidak sampai mengeluarkan pelakunya dari agama Islam. Meski demikian, perbuatan ini tetap dapat mengurangi kadar tauhid seseorang dan berpotensi menjadi jalan atau perantara menuju syirik besar.
Syirik kecil terbagi menjadi dua jenis utama, yaitu:
a. Syirik Zahir (Nampak)
Syirik zahir merupakan bentuk syirik kecil yang tercermin melalui ucapan maupun tindakan nyata. Salah satu contoh bentuk ucapan adalah kebiasaan bersumpah dengan menyebut nama selain Allah SWT, sebagaimana disinggung dalam sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ اللهِ فَقَدْ كَفَرَ أَوْ أَشْرَكَ
“Barang siapa yang bersumpah atas nama selain Allah, maka dia telah berbuat kekufuran atau kesyirikan.” (HR. Abu Daud no. 3251, At-Tirmidzi no. 1535)
b. Syirik Khafi (Tersembunyi)
Syirik khafi merupakan bentuk kesyirikan yang berkaitan dengan niat serta dorongan di dalam hati, seperti riya' (mengharapkan pujian dari orang lain) maupun sum'ah (bertujuan agar amal perbuatannya didengar dan dipuji orang lain). Hal ini sebagaimana disampaikan dalam sabda Rasulullah SAW:
إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الأَصْغَرُ ، قَالُوا : وَمَا الشِّرْكُ الأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ ؟ قَالَ : الرِّيَاءُ
“'Yang paling aku takutkan atas kalian adalah syirik kecil.' Para sahabat bertanya: 'Apakah syirik kecil itu, wahai Rasulullah?' Beliau menjawab: 'Ar-Riya' (pamer).'” (HR. Ahmad, Ath-Thabrani, dan Al-Baihaqi)
Memahami berbagai macam bentuk syirik, baik yang besar maupun kecil, menjadi bekal penting bagi setiap Muslim untuk senantiasa menjaga kemurnian akidah dalam kehidupan sehari-hari. Dengan kewaspadaan dan kesadaran diri, diharapkan setiap Muslim mampu terhindar dari perbuatan syirik, baik yang tampak nyata maupun yang tersembunyi dalam hati, sehingga keimanan kepada Allah SWT dapat senantiasa terjaga secara utuh.
(Rahman Asmardika)