Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Khutbah Jumat: Memaafkan dan Membebaskan Hati dari Dendam

Rahman Asmardika , Jurnalis-Jum'at, 09 Oktober 2026 |09:12 WIB
Khutbah Jumat: Memaafkan dan Membebaskan Hati dari Dendam
Ilustrasi.
A
A
A

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Sering kali ada kekeliruan berpikir di tengah masyarakat yang membuat seseorang enggan memberikan maaf. Diantaranya adalah:

Pertama, menganggap memaafkan sebagai tanda kelemahan.

Banyak yang merasa, “Kalau saya maafkan, nanti saya diinjak-injak. Hanya orang lemah yang memaafkan.”

Pandangan ini keliru. Membalas dendam ketika memiliki kesempatan mungkin terasa mudah, tetapi menahan diri ketika mampu membalas dan memilih memaafkan membutuhkan kekuatan batin. Rasulullah saw. bersabda:

لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ

Artinya: “Bukanlah orang yang kuat itu yang pandai bergulat, tetapi orang yang kuat adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Kedua, menganggap memaafkan itu tidak adil.

Ada perbedaan mendasar antara keadilan (‘adl) dan keutamaan (ihsan). Keadilan adalah memberikan hak sesuai dengan porsinya. Orang yang bersalah dapat dikenai konsekuensi yang sepadan dengan kesalahannya. Namun, di atas keadilan terdapat derajat yang lebih mulia, yaitu ihsan, yakni berbuat baik melebihi sekadar menuntut hak. Memaafkan merupakan salah satu bentuk ihsan dan keluhuran budi.

Ketiga, menunggu orang lain datang meminta maaf.

Betapa banyak waktu dan energi kita yang terbuang hanya untuk menunggu seseorang datang mengetuk pintu dan memohon maaf. Padahal, kita tidak perlu menggantungkan kedamaian jiwa pada perubahan orang lain. Memaafkan tanpa harus menunggu permintaan maaf dapat menjadi cara untuk membebaskan diri dari belenggu kebencian.

 

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita muslim lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement