SOLO - Masjid Agung Solo merupakan salah satu masjid tertua peninggalan Kerajaan Mataram, Islam. Masjid tersebut berdiri di dalam kompleks Keraton Kasunanan Surakarta, Jawa Tengah.
Di halaman masjid terdapat alat penunjuk waktu salat. Alat tersebut sudah digunakan diperkirakan sejak tahun 1757 masehi. Hingga saat ini, umat Islam di Solo, masih menggunakan jam itu untuk menentukan jatuhnya waktu salat Zuhur dan Asar.
Warga cukup mendatangi halaman Masjid Agung Solo untuk menengok pantulan sinar matahari yang menyentuh sebuah batu di depan kantor pengelola Masjid Agung. Sebagian besar warga Solo menyebut batu tersebut dengan istilah Istiwak atau jam penentu masuknya waktu Zuhur dan Asar.
Penyebutan nama Istiwak tak lepas dari cara kerja jam unik yang hanya memanfaatkan pantulan sinar matahari. Meski tidak ada keterangan sejak kapan jam Istiwak berada di Masjid Agung. Namun, warga meyakini batu tersebut sudah ada sejak Pakubuwono III. Bahkan, keberadaanya disangkutpautkan dengan berdirinya Masjid Agung Solo yakni pada 1757 masehi.
Cara kerja jam Istiwak cukup sederhana, tidak rumit, hanya mengandalkan bayangan sinar matahari. Jam yang berbentuk cekungan itu berbentuk setengah diamater lingkaran dilapisi kuningan.
Untuk menciptakan bayangan yang jatuh di permukaan kuningan tersebut, jarum besi sepanjang sekitar 10 sentimeter dilekatkan di tengah sejulur besi sepanjang 18 sentimeter yang menghubungkan kedua sisi permukaan kuningan.
Ketika sinar matahari jatuh pada permukaan jam tersebut, maka bayangan jarum yang menghadap sisi selatan-utara akan menunjuk ke salah satu angka yang tertera pada kuningan itu. Seperti halnya jam konvensional, pada permukaan kuningan itu terdapat 12.
”Yang berderet di sisi permukaan cekungan barat adalah angka 12-6 sedangkan arah sebaliknya 1- 6 berderet di sisi cekungan timur. Kalau pukul 12.00 maka banyangan jarum tersebut akan jatuh tepat di tengah angka 12,” jelas takmir Masjid Agung, Alif Samian, kepada Okezone.
Jam Istiwak hanya bisa digunakan sebagai penanda waktu Zuhur dan Asar karena sinar matahari hanya muncul pada dua salat tersebut.
”Kelemahan jam ini jika tidak ada sinar matahari seperti halnya waktu malam hari maupun ketika cuaca pada siang hari mendung. Kondisi seperti itu menyebabkan jam itu tidak bisa bekerja secara efektif,” paparnya.
Namun, akurasi jam Istiwak tidak diragukan lagi karena mengandalkan sinar matahari. Jika dibandingkan jadwal salat abadi selisih dua menit ke belakang, sedangkan jam konvensional dengan satuan WIB terpaut 25 menit lebih cepat dari jam Istiwak.
”Banyak juga pengunjung dari luar daerah tertarik melihat jam Istiwak sebelum melakukan salat di Masjid Agung. Terlebih, selama Ramadan ini, makin banyak pengunjung yang berdatangan karena penasaran ingin melihat secara langsung jam Istiwak," pungkasnya.
(Anton Suhartono)