Puasa seharusnya menjadi ajang seseorang untuk mengatur pola makan, alih-alih efeknya sama dengan diet. Sayangnya, seseorang cenderung pilih beragam menu makanan yang berlebihan, sampai dibuang-buang.
Dalam bulan Ramadan tahun ini, sekira 160 juta penduduk Muslim, di atas 12 tahun di Indonesia akan berpuasa. Saat puasa, seseorang dituntut untuk mengurangi makan dan minum lebih dari 13 jam.
Baca juga :
Ketua PERGIZI Pangan Indonesia Prof Hardinsyah, MS, PhD, mengatakan, selama puasa sel kita melakukan proses pembersihan. Berpuasa itu menjadi momen detoks tubuh selama 13-16 jam.
"Kalau puasa semua bersih, bebas polutan yang masuk ke tubuh kita, apalagi lemak bisa langsung berkurang," ujar Prof Hardinsyah, ditemui di FX Sudirman, Jakarta, belum lama ini.
Dia melanjutkan, saat puasa selama 12-13 jam, racun yang ada di dalam tubuh jadi dibersihkan. Ada juga sel lisosom, yang tugasnya untuk mengurai apa saja di bagian tubuh.
"Tapi kita harus ikhlas puasa agar hormonnya normal dan sel bekerja dengan baik. Selain racun hilang, patogen dan peradangan sel juga hilang," ungkapnya.
Terlebih manfaat puasa, menurut Prof Hardinsyah, baru akan terasa afdol saat 10 hari terakhir Ramadan. Efeknya paling dahsyat bisa menurunkan berat badan.
"Setelah puasa Ramadan juga belum habis, semua orang dianjurkan puasa syawal. Di waktu ini manfaat yang didapat bisa menghilangkan lemak dengan efektif," pungkasnya.
(Renny Sundayani)