"Secara umum kemampuan membaca dan menulis Alquran mahasiswa UIN di 14 kampus rata-rata bagus atau berkisar pada angka 3.19 untuk membaca dan 3.20 untuk menulis. Sebaran profil responden untuk prodi umum 51 persen dan prodi keagamaan 49 persen dengan mengunakan metode penelitian ex post facto," ujar Abdul Aziz sebagaimana dilansir dari laman resmi Kemenag pada Kamis (7/11/2019).
Penelitian ex post facto merupakan penelitian yang bertujuan menemukan penyebab yang memungkinkan perubahan perilaku, gejala atau fenomena yang disebabkan oleh suatu peristiwa, perilaku atau hal-hal yang menyebabkan perubahan pada variable bebas yang secara keseluruhan sudah terjadi.
Adapun 14 UIN yang menjadi locus penelitian ini, sesuai urutan indeks hasil penelitian, yaitu: UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, UIN Walisongo Semarang, UIN Sarif Hidatullah Jakarta, UIN Alauddin Makassar, UIN Antasari Banjarmasin, UIN Sumatera Utara, UIN Imam Bonjol Padang, UIN Sunan Ampel Surabaya, UIN Raden Fatah Palembang, UIN Sunan Gunung Djati Bandung, UIN Mataram Lombok, UIN Ar Raniry Banda Aceh dan UIN Sultan Syarif Kasim Pekanbaru.
"Indeks ini menunjukan bahwa kemampuan membaca dan menulis tidak jauh berbeda meskipun ditemukan mahasiswa yang sama sekali tidak bisa baca Alquran berkisar 0.4 persen dan tidak bisa menulis 0.6 persen," ujar Abdul Aziz.
"Rata-rata mahasiswa UIN sudah mampu mengenal huruf hijaiyah, izhar, ghunnah, qalqalah, dan sebagainya," sambungnya.