BERDASARKAN penelitian yang dilakukan oleh Lajnah Pentashihan Mushaf Alquran (LPMQ) Badan Litbang dan Diklat Kementerin Agama (Kemenag), indeks kemampuan baca Alquran tertinggi diraih mahasiswa Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang (UIN Malang) dengan skor 3,94 dari rentang 1 – 5. Lalu siapa terendah?
Indeks kemampuan baca Alquran terendah ada di UIN Sultan Syarif Kasim Pekanbaru dengan skor 1.86. Untuk kemampuan tulis Alquran, indeks tertinggi adalah mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (3.80). Kemudian lagi-lagi UIN Sultan Syarif Kasim Pekanbaru menempati indeks terendah (1.90) untuk tulis kampuan menulis Alquran.
Lebih lanjut, Penelitian Kemampuan Baca Tulis Alquran (BTQ) Mahasiswa UIN di Indonesia pada 2019 ini melibatkan 50 responden dengan komposisi 25 mewakili prodi umum, dan 25 mewakili prodi agama.
Sumber Foto: Kemenag
Pengumpulan data dilakukan pada September 2019 dengan menggunakan empat instrumen yang secara teknis dilakukan secara simultan, yaitu: tes kemampuan, kuosioner, wawancara, dan dokumentasi.
Sumber Foto: Kemenag
Kabid Kajian dan Pengembangan Alquran Abdul Aziz Sidqi dalam paparan hasil penelitian mengatakan, dari 14 UIN yang menjadi locus penelitian, hasilnya Indeks kemampuan baca Alquran tertinggi diraih UIN Malang.
"Secara umum kemampuan membaca dan menulis Alquran mahasiswa UIN di 14 kampus rata-rata bagus atau berkisar pada angka 3.19 untuk membaca dan 3.20 untuk menulis. Sebaran profil responden untuk prodi umum 51 persen dan prodi keagamaan 49 persen dengan mengunakan metode penelitian ex post facto," ujar Abdul Aziz sebagaimana dilansir dari laman resmi Kemenag pada Kamis (7/11/2019).
Penelitian ex post facto merupakan penelitian yang bertujuan menemukan penyebab yang memungkinkan perubahan perilaku, gejala atau fenomena yang disebabkan oleh suatu peristiwa, perilaku atau hal-hal yang menyebabkan perubahan pada variable bebas yang secara keseluruhan sudah terjadi.
Adapun 14 UIN yang menjadi locus penelitian ini, sesuai urutan indeks hasil penelitian, yaitu: UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, UIN Walisongo Semarang, UIN Sarif Hidatullah Jakarta, UIN Alauddin Makassar, UIN Antasari Banjarmasin, UIN Sumatera Utara, UIN Imam Bonjol Padang, UIN Sunan Ampel Surabaya, UIN Raden Fatah Palembang, UIN Sunan Gunung Djati Bandung, UIN Mataram Lombok, UIN Ar Raniry Banda Aceh dan UIN Sultan Syarif Kasim Pekanbaru.
"Indeks ini menunjukan bahwa kemampuan membaca dan menulis tidak jauh berbeda meskipun ditemukan mahasiswa yang sama sekali tidak bisa baca Alquran berkisar 0.4 persen dan tidak bisa menulis 0.6 persen," ujar Abdul Aziz.
"Rata-rata mahasiswa UIN sudah mampu mengenal huruf hijaiyah, izhar, ghunnah, qalqalah, dan sebagainya," sambungnya.
bdul Aziz menjelaskan, penelitian terkait kemampuan BTQ di kalangan mahasiswa kali pertama dilakukan pada 2002. Penelitian kedua ini dilatarbelakangi semakin banyaknya IAIN yang bertransformasi menjadi UIN. Sehingga jurusan umum atau non keagamaan juga bertambah.
Tujuan penelitian lanjut Abdul Aziz untuk mengetahui tingkat kemampuan baca tulis Al-Quran mahasiswa UIN di Indonesia termasuk mengetahui faktor apa saja yang mempengaruhi tingkat kemampuan baca tulis Al Quran. Selain itu, penelitian juga memotret gambaran program peningkatan kemampuan baca tulis Al Quran yang diselenggarakan oleh UIN.
Rekomendasi yang diharapkan dari hasil peneltian ini, salah satunya adalah bahwa persoalan BTQ di UIN pada dasarnya berakar dari persoalan pendidikan dasar Al Quran di jenjang pendidikan sebelumnya yang belum berhasil dan tuntas.
"Kementerian Agama perlu melakukan standarisasi pendidikan Al Quran di semua jenjang pendidikan agar persoalan tersebut dapat diselesaikan secara lebih efektif. Kemenag melalui Direktorat PD Potren juga diharapkan dapat mensinergikan kelembagaan TPA/TKA dengan penyelenggaraan BTQ di pendididkan formal," ujar Abdul Aziz.
(Abu Sahma Pane)