Mengenal Hafshah Binti Umar, Istri Rasulullah yang Pernah Ditolak Para Sahabat Nabi

Fadhilah Annisa, Jurnalis
Senin 25 November 2019 15:01 WIB
Masyarakat Arab zaman dulu (Foto: Baztab)
Share :

Wahai putriku, jangan pernah kau tertipu oleh hal yang engkau kagumi keindahannya dan lebih dicintai oleh Rasulullah!

Demi Allah, engkau pun tahu bahwa Rasulullah tidaklah mencintaimu dan andai bukan karena aku, pastilah beliau ceraikan kamu.

 

Dalam benaknya Umar ibn Khaththab memancar sinar berkilau dan terang, “Akankah Rasulullah SAW menikahi Hafshah, putriku?”

Demi Allah, itu merupakan kehormatan besar yang tidak pernah ada dalam angan, bahkan dalam pikirannya.

Hafshah Binti Umar adalah penghafal Alquran yang mulia, pandai berpuasa, dan rajin qiyamullail. Ummul Mukminin Hafshah yang bernama lengkap Hafshah binti Umar ibn Khaththab ibn Nufail ibn Abd al-Uzza ibn Abdullah ibn Qurth ibn Razah ibn ‘Adi ibn Ka’b ibn Lu’ay merupakan keturunan Quraisy.

Ibu Hafshah adalah Zainab binti Mazh’un. Hafshah adalah sayyidah yang mulia, seorang janda yang masih muda. Wanita yang memiliki kebugaran, kecantikan, dan ketakwaan.

Umar ibn Khaththab ikut terjun langsung ke medan Perang Badar bersama Rasulullah. Dalam perang itu, gugurlah seorang sahabat besar, Khunais ibn Hudzafah ibn Qais ibn ‘Adi as-Sahmi al-Qurasyi. Ia adalah seorang sahabat yang mengalami dua kali hijrah, ke Habasyah dan Madinah, dan gugur dalam Perang Badar.

Khunais merupakan suami Hafshah. Ia meninggalkan Hafshah menjadi janda muda yang bertakwa. Saat menjanda, Hafshah masih sangat belia, belum genap berusia delapan belas tahun.

Umar ibn Khaththab merasa sangat tertekan dengan putrinya yang menjadi janda. Ia melihat keremajaan Hafshah tertutup oleh hari-hari yang kelam sepeninggal suaminya. Keceriaan terhapus dari wajahnya ketika usianya masih sangat belia.

Umar ibn Khaththab r.a. sangat berduka atas meninggalnya suami Hafshah, sahabat Muhajirin dan seorang muhajid. Setiap kali masuk rumah dan melihat putrinya yang sedang bersedih, Umar ibn Khaththab merasa sangat iba.

Setelah berpikir panjang, Umar memutuskan untuk mencarikan seorang suami yang akan menjadi penggugah keceriaan bagi putrinya sehingga putrinya itu bisa menemukan kembali kedamaian kembali seperti dulu.

Beberapa saat kemudian, Umar ibn Khaththab memutuskan untuk memilih Abu Bakar ash-Shiddiq, orang yang paling dicintai Rasulullah. Dengan sifat toleran, sederhana, dan teguh yang dimiliki, Abu Bakar cukup pantas untuk menjadi pelindung bagi Hafshah.

Umar ibn Khaththab tidak merasa ragu dengan pilihan yang diilhamkan oleh Allah. Saat itu juga, ia pun pergi menemui Abu Bakar ash-Shiddiq untuk bercerita tentang Hashah dan cobaan yang dialaminya menjadi seorang janda muda.

Abu Bakar ash-Shiddiq mendengar cerita Umar dengan penuh perasaan dan simpati. Oleh karena itu, Umar segera menawarkan putrinya untuk dinikahi Abu Bakar. Ia yakin bahwa Abu Bakar tidak akan ragu untuk menerima perempuan muda yang bertakwa.

Namun ternyata Abu Bakar hanya terdiam dan tidak menjawab sepatah kata pun. Alhasil, Umar ibn Khaththab pergi meninggalkan Abu Bakar dengan lunglai menghadapi kondisi yang terjadi. Ia hampir tidak percaya bahwa Abu Bakar menolak untuk menikahi Hafshah yang ditawarkan oleh ayahnya sendiri.

Umar ibn Khaththab kemudian pergi menuju kediaman Utsman ibn Affan yang istrinya, Ruqayyah binti Muhammad, juga telah meninggal dunia karena menderita penyakit campak setelah kaum Mukminin mendapat kemenangan gemilang dalam Perang Badar.

Umar ibn Khaththab bercerita mengenai keadaanya kepada Utsman ibn Affan sebelum menawarkan putrinya, Hafshah, dengan perasaan yang masih teriris oleh penolakan Abu Bakar untuk menikahi putrinya itu.

Utsman meminta untuk diberi waktu dalam beberapa hari. Lalu beberapa hari kemudian, Utsman mendatangi Umar dan berkata, “Saat ini aku belum ingin menikah.”

Duka dan kesedihan Umar semakin mendalam karena penolakan Utsman. Umar tertekan karena ditolak kedua sahabatnya itu. Padahal keduanya adalah sahabat karib yang sama-sama mengetahui kedudukan Umar. Oleh karena itu, Umar merasa sedih dan terpukul kemudian pergi menghadap kepada Rasulullah untuk mengadukan nasibnya dan bagaimana sikap Abu Bakar dan Utsman ibn Affan terhadap tawarannya untuk menikahi putrinya.

Rasulullah tersenyum kemudian bersabda, “Hafshah akan menikah dengan orang yang lebih baik daripada Abu Bakar dan Utsman sementara Utsman akan menikah dengan wanita yang lebih baik daripada Hafshah.”

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Muslim lainnya