Ummu Kultsum masih tinggal bersama adik kecilnya, Fathimah, dalam rumah sang ayah, Muhammad Rasulullah, di Makkah. Mereka menemani sang ibu Khadijah Ummul Mukminin r.a. dalam menanggung beban kehidupan dan meringankan kepedihan sang ayah karena gangguan kaum Quraisy.
Kebodohan kaum Quraisy telah mencapai puncaknya dalam bentuk penyiksaan terhadap Rasulullah dan kaum muslimin yang menjadi pengikut beliau.
Penyiksaan itu semakin keras setelah Hamzah ibn Abdul Muththalib menyatakan diri masuk islam lalu diikuti oleh Umar ibn Khaththab r.a.
Ketika telah kehabisan akal, kaum Quraisy menawarkan kepada Bani Abdi Manaf untuk menyerahkan Rasulullah kepada mereka dengan diyat yang berlipat ganda. Namun, Bani Abdi Manaf menolak tawaran tersebut.
Selanjutnya, mereka menawarkan kepada Abu Thalib bahwa mereka akan memberikan pemuda yang paling terhormat di antara seluruh pemuda Quraisy asalkan Abu Thalib mau menyerahkan keponakannya, Muhammad SAW kepada mereka.
Namun, Abu Thalib menjawab, “Aku heran kepada kalian, kalian berikan anak kalian untuk aku beri makan sementara aku berikan putraku untuk kalian bunuh!”
Setelah melihat sikap Abu Thalib, mereka sepakat untuk mengucilkan Bani Hasyim dan Bani Muththalib, dua anak Abdu Manaf, dan mengusir mereka dari bumi Makkah serta menekan kehidupan mereka.
Kaum Quraisy tidak boleh menjual kepada atau membeli apa pun dari Bani Hasyim sampai mereka mau menyerahkan Rasulullah untuk dibunuh. Mereka menulis kesepakatan tersebut dalam sebuah dokumen yang digantungkan di pintu Kakbah.
Akibatnya, Bani Hasyim mengungsi ke tanah Abu Thalib, diikuti para Bani Muththalib, baik yang muslim maupun kafir, kecuali Abu Lahab yang bergabung bersama kelompok Quraisy.
Dalam pemboikotan ini, kaum muslimin dan Bani Hasyim yang berpihak kepada mereka mengalami kesulitan serta tekanan ekonomi dan sosial yang sangat berat.
Bahkan, mereka sampai memakan daun-daun pepohonan. Mereka bertahan dalam keadaan demikian sekitar tiga tahun tanpa ada bekal yang sampai kepada mereka, kecuali yang datang secara diam-diam.
Menggambarkan kelaparan ini, Sa`d ibn Abi Waqqash menceritakan, “Aku mengalami kelaparan sampai suatu malam aku menyentuh sesuatu yang basah lalu kuambil dan kumasukkan ke dalam mulut. Sampai saat ini, aku tidak tahu apakah sesuatu itu.”
Mereka menceritakan bahwa Hisyam ibn `Amar ibn Rabi`ah al-`Amiri pada suatu malam mengirim seekor unta yang mengangkut makanan. Ketika unta itu memasuki daerah kaum muslimin, Hisyam melepaskan tali kekang unta dan menghelanya.
Unta itu pun membawa masuk makanan yang diangkutnya ke tengah-tengah Bahi Hasyim dan Bani Muththalib.
Di tengah peristiwa pemboikotan itu, Ummu Kultsum r.a. harus memikul tanggung jawab yang paling berat. Sang ibu yang suci, Khadijah, jatuh sakit hingga terbaring di atas ranjang karena sakitnya kian parah.
Sementara itu, adik kecilnya, Fathimah az-Zahra, sangat membutuhkan perhatian dan perlindungan. Tidak ada orang lain selain dirinya yang mungkin memberikan perawatan kepada sang ibu dan memberikan perhatian kepada adiknya, ditambah dengan tugas untuk meringankan beban duka dan kesedihan sang ayah, Rasulullah.
Akhirnya, kaum muslimin keluar dari pemboikotan dengan iman yang semakin kuat. Pengalaman pahit itu pun justru semakin meneguhkan tekat mereka.
Di dalam rumah Nabi, di Makkah al-Mukarramah, Ummul Mukminin nan suci, Khadijah sedang menjalani detik-detik akhir masa hidupnya sementara ketiga putrinya, Zainab, Ummu Kultsum, dan Fathimah, mengelilinginya.
Sang suami tercinta, Rasulullah Muhammad turut berada di sisinya untuk meringankan beban sakarulmaut yang sedang ia alami dan menberikan kabar gembira atas nikmat yang telah menanti.
Ummu Kultsum menutup wajah dengan kedua telapak tangan. Ia tidak sanggup memandang sang ibu nan suci yang sedang mengalami sakaratulmaut itu.
Beberapa mata yang berlinang berpaling kepada Khadijah seakan hendak menghentikan rintihan yang menyakitkan sang wanita suci itu. Ummu Kultsum meninggalkan ruangan dengan air mata yang terus mengalir.
Namun, ia bertemu dengan sang ayah, Rasulullah di ambang pintu, berdiri dengan air mata berlinang.
Setelah kepergian mendiang sang wanita suci, Ummul Mukminin Khadijah r.a., rumah itu pun menjadi sunyi seolah tiada berpenghuni meskipun Ummu Kultsum, Fathimah, dan Zainab masih mengisi rumah itu.
Rumah itu telah berubah menjadi rumah tanpa nyawa, pelita tanpa minyak, dan hati tanpa cinta. Himpitan duka semakin terasa saat Rasulullah memasuki rumah dengan lunglai, memeriksa ke seluruh sudut seakan sedang mencari pengurus rumah yang telah pergi.
Beberapa waktu setelah kepergian mendiang Ummu Mukminin nan suci itu, Rasulullah kembali tertimpa oleh musibah serupa, yaitu meninggalnya sang paman, Abu Thalib, yang selama ini menjadi pendukung dalam dakwahnya, pelindung bagi dirinya, serta tameng dan penolong untuk menghadapi kaumnya.