Mengenal Ummu Kultsum, Putri Rasulullah yang Sabar Menghadapi Pemboikotan Kaum Musyrikin

Annisa Ratna Setiawati, Jurnalis
Rabu 11 Desember 2019 16:02 WIB
Makkah zaman kuno (Foto: Inst)
Share :

Ketika Abu Thalib meninggal dunia, kaum Quraisy menimpakan kejahatan terhadap Rasulullah. Kejahatan yang tak terbayangkan pada masa hidup Abu Thalib.

Bahkan, seorang yang paling bodoh di antara kaum Quraisy pun sampai berani menghadang Rasulullah dan menyiramkan debu di kepala beliau. Rasulullah memasuki rumah dengan debu yang masih memenuhi kepala. Sambil menangis, Ummu Kultsum segera mendekati dan membasuh debu di kepala Rasulullah.

Selanjutnya, beliau bersabda, “Jangan menangis wahai putriku, sesungguhnya Allah pasti melindungimu dan ayahmu.”

Ibnu Ishaq mengatakan, “Khadijah binti Khuwailid dan Abu Thalib wafat pada tahun yang sama. Dengan kepergian Khadijah, Rasulullah mengalami musibah yang bertubi-tubi. Bagi Rasulullah, Khadijah adalah pendamping setia untuk mendakwahkan Islam dan tempat beliau mengadu.

Begitu juga dengan Abu Thalib yang merupakan pembela dan pelindung bagi beliau. Ia merupakan penjaga dan penolong beliau dalam menghadapi kaumnya. Semua ini terjadi tiga tahun sebelum peristiwa hijrah ke Madinah.

Sabar telah menjadi sahabat Rasulullah yang paling setia ditemani oleh para putrinya dan orang-orang beriman kepada Allah saat beliau menghadapi berbagai kesulitan besar itu. Akhirnya, Rasulullah mengizinkan para sahabat untuk hijrah ke Yastrib terlebih dahulu. Setelah itu, disusul oleh beliau yang turut hijrah menuju Yastrib.

Rasulullah meninggalkan kediamannya di Mekah al-Mukarramah untuk hijrah. Beliau titipkan Ummu Kultsum dan Fathimah kepada istri kedua beliau, Saudah binti Zam`ah, yang beliau nikahi setelah kepergian mendinag Khadijah.

Setelah tiba di Madinah dan menetap di sana, Rasulullah mengutus beberapa sahabat agar pergi ke Makkah untuk membawa keluarga beliau beserta keluarga Abu Bakar yang beliau tinggalkan di Makkah.

Ketika para putri Rasulullah telah tiba di Yastrib (Madinah) bersama istri beliau, Saudah binti Zam`ah, serta putri-putri Abu Bakar ash-Shiddiq, yaitu Asma` dan Aisyah, para wanita Anshar menyambut mereka dengan hangat dan gembira.

Rasulullah sendiri menyambut para putri dan istri beliau dengan penuh kerinduan dan kehangatan. Beliau segera membawa mereka ke rumah yang telah dipersiapkan untuk keluarga seusai mendirikan Mesjid Nabawi yang mulia.

Setelah dua tahun berlalu dengan banyak peristiwa besar pascahijrah dan kemenangan kaum muslim dalam Perang Badar, terjadilah musibah besar dengan wafatnya saudari Ummu Kultsum, Ruqayyah, yang sedikit terlupakan oleh kebahagiaan atas kemenangan kaum Muslimin dalam memerangi kebatilan pada hari al-Furqan.

Berbagai kenangan mengerikan silih berganti dalam benak Ummu Kultsum sehingga kedua bibirnya melepaskan keluhan lemah seakan meluluhkan jiwanya. Ummu Kultsum memejamkan kedua mata dengan lemah lalu ia melihat bayangan sang ibu sedang menyerahkan nyawa kepada Allah di tengah peristiwa pemboikotan yang dialami.

Demikian pula bayangan saudarinya, Ruqayyah, saat jiwanya bergetar mendengar pekik kemenangan dalam Perang Badar yang menggema di luar sana.

Ummu Kultsum duduk menyendiri di sudut rumah sambil mengusap air matanya yang penuh duka karena berpisah dengan saudari tercinta. Sementara itu, Fathimah az-Zahra menghambur ke pembaringan saudarinya, menangisi kepergiannya.

Selanjutnya, sang ayah yang berduka memasuki ruangan dengan wajah yang meenyiratkan tanda-tanda kesedihan. Beliau hampiri Fathimah az-Zahra untuk menggendongnya dan mendekati sang kakak untuk menghapus air matanya dengan ujung kain selendang beliau.

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Muslim lainnya