Generasi Muda Muslim Jerman Tak Nyaman dengan Imam Asing, Kok Bisa?

Ibrahim Al Kholil, Jurnalis
Jum'at 20 Desember 2019 14:03 WIB
Ilustrasi. Foto: Istimewa
Share :

Bulan lalu, Universitas Osnabrück di barat laut Jerman menyatakan akan mengadakan kursus imam selama dua tahun mulai musim panas mendatang, kemungkinan dengan dukungan anggaran dari Pemerintah Jerman. Perguruan tinggi imam itu akan dijalankan oleh suatu asosiasi independen dari universitas, namun tetap diawasi oleh para akademisi, dan melibatkan berbagai organisasi Islam Jerman.

Namun dua kelompok Islam terbesar di Jerman, Uni Islam Turki untuk Urusan Agama (DITIB) dan Komunitas Islam Millî Görüş (IGMG), bersama-sama mewakili hampir setengah dari 2.500 masjid di Jerman yang diperkirakan menolak untuk berpartisipasi, dengan alasan kekhawatiran akan gangguan negara yang potensial.

Mereka memiliki metode sendiri untuk melatih imam, dengan DITIB meluncurkan programnya sendiri pada awal Januari 2020.

“Kami berada di tengah-tengah perubahan sosial. Remaja saat ini lebih tahu bahasa Jerman daripada Turki,” kata Eyüp Kalyon, seorang imam sekaligus koordinator kursus yang direncanakan DITIB. "Kami sadar, dan kami tahu kami tidak punya pilihan selain ikut serta dalam reorientasi ini," tambahnya.

Ketakutan Akan Pengaruh Asing

Selama dekade terakhir, Berlin secara bertahap mulai memperhatikan siapa yang memimpin masjid-masjid Jerman. Kementerian Dalam Negeri Jerman mengadakan Konferensi Islam pada 2006, dan fokus mereka saat ini adalah pada personel dan pelatihan imam masjid. Gelar studi Islam pertama di negara itu diluncurkan dengan dukungan negara pada 2010.

Jerman bukan satu-satunya negara yang bergulat dengan masalah ini. Beberapa negara Eropa juga berusaha mengembangkan kursus pelatihan lokal, dengan keberhasilan yang beragam.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Muslim lainnya