Pentingnya Berbaik Sangka kepada Allah SWT

, Jurnalis
Jum'at 27 Desember 2019 18:23 WIB
Sawah di desa (Foto: Pexels)
Share :

Umat Islam wajib berbaik sangka kepada Allah SWT. Sebab Allah selalu memberikan yang terbaik bagi hamba-Nya.

Bahkan ada sebuah hadist mengenai perlunya berbaik sangka kepada Allah,

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah Ta’ala berfirman: Aku sesuai persangkaan hamba-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku saat bersendirian, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan, Aku akan mengingatnya di kumpulan yang lebih baik daripada pada itu (kumpulan malaikat).” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 6970 dan Muslim, no. 2675]

Terdapat sebuah kisah mengenai pentingnya berprasangka baik kepada Allah SWT. Kaprodi dan Dosen PBA Unhasy Jombang, Fathur Rohman mengisahkan, suatu ketika ada seorang pemuda yang menikahi anak seorang petani desa. Suatu hari pemuda itu bersama istrinya dan anak-anaknya silaturahmi ke rumah mertuanya, kemudian diajak untuk berkunjung ke rumah kerabatnya bersama-sama dengan mengendarai mobil yang dikendarai oleh menantunya.

 

Seperti kebiasaan pada umumnya, para petani yang menjemur hasil panennya seperti padi dan jagung di halaman rumahnya di pagi hari sampai sore hari, kecuali jika cuacanya mendung hendak turun hujan, mereka bergegas merapikannya dan dimasukkan ke dalam karung atau sekadar ditutup dengan terpal agar tidak terkena air hujan dan bisa dibuka kembali untuk dijemur saat cuaca terang.

Demikian juga yang dilakukan oleh mertua pemuda ini, ia menjemur padi hasil panennya di halaman rumahnya sampai menutup sebagian jalan depan rumahnya, tanpa berpikir panjang bila cuaca akan berubah menjadi hujan, karena cuaca pagi hari itu sangat cerah dan panas, sehingga ia tak berpikir untuk menutupnya dengan terpal atau membereskannya.

Pemuda tersebut berangkat bersama istri, anak-anak, dan mertuanya ke rumah kerabat untuk silaturahmi. Setelah beberapa saat tiba di rumah kerabat yang dituju, tiba-tiba cuaca berubah menjadi petang, awan di langit yang tadinya putih dan terang berubah menjadi hitam, gemuruh suara langit mulai terdengar yang diiringi angin kencang yang mulai mendingin seperti tanda akan turunnya hujan lebat, padahal jam belum menunjukkan waktu siang. Mertuanya mulai panik karena khawatir padi jemurannya akan basah kuyup terkena air hujan.

Melihat kepanikan mertuanya tersebut, pemuda itu langsung menawari untuk diantar pulang terlebih dahulu agar bisa menutup padi dengar terpal karena orang yang bertugas menjemur padi panenan di rumahnya menurut jadwal ia baru akan datang di sore hari seperti biasa, di pagi hari mengeluarkan padi untuk dijemur dan di sore hari datang lagi untuk memasukkan padi di karung-karung yang sudah disiapkan.

Mertuanya pun menerima tawaran tersebut, pemuda itu menyetir mobilnya melaju dengan kecepatan sedang sambil sesekali berkata kepada mertuanya, “Tidak usah khawatir Insya Allah di sana cuacanya masih cerah, tidak mendung seperti ini,” ungkap menantu berusaha menenangkan mertuanya.

Mertuanya pun menjawab, “Ya mudah-mudahan saja betul belum hujan di rumah, tapi medungnya sudah sangat gelap seperti ini kayaknya sebentar lagi hujan turun deras.”

Sesaat setelah berkata seperti itu, tiba-tiba hujan benar-benar turun sangat lebat, sehingga memaksa pemuda tersebut untuk menyalakan alat pembersih air hujan (wiper) di kaca mobilnya, pemuda itu tetap menyetir mobilnya dengan kecepatan sedang seperti biasanya sambil berkata, “Iya betul hujan deras seperti yang baru saja jenengan katakan.”

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Muslim lainnya