SEBAGAI tanda tibanya waktu salat fardhu, azan akan dikumandangkan dari masjid-masjid atau musala. Azan juga merupakan panggilan agar umat Islam bersegera menyembah Allah SWT.
Namun sebelum salat, sebenarnya setiap Muslim dianjurkan untuk menjawab azan dengan doa. Lalu seperti apa doanya?
Terdapat banyak ragam redaksi doa dan bacaan yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk umatnya ketika mendengar azan.
Dalam Kitâb al-Du’â, Imam Abû al-Qâsim Sulaimân bin Ahmad al-Thabrâniy (w. 360 H) mengumpulkan banyak doa atau bacaan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam ketika mendengar azan, lebih dari tiga puluh riwayat. Di sini hanya akan dicantumkan beberapa riwayat saja, sesuai dengan karakteristik teks dan kualitas sanadnya. Berikut beberapa doa dan bacaan yang dikumpulkan oleh Imam al-Thabraniy:
Ilustrasi. Foto: Istimewa
Pertama, bacaan yang berisi penegasan tauhid, kesuka-relaan menyembah Allah sebagai Tuhan, pengakuan Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai nabi. Orang yang membacanya akan diampuni dosanya. Rasulullah bersabda (hadits shahih riwayat Imam al-Hakim, Imam Ibnu Majah, dan Imam Ibnu Abi Syaibah):
وَبِالْإِسْلَامِ دِيْنًا وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا، غفر له
“Barangsiapa yang berucap ketika mendengar azan: ‘Asyhadu allâ ilaha illallâh wahdahu lâ syarîka lah, radlîtu billâhi rabba wa bil-islâmi dîna wa bi-muhammadin nabiyya’ (Aku bersaksi tidak ada tuhan kecuali Allah yang Maha Esa dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Aku ridha dengan Allah sebagai Tuhan, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai nabi), maka diampuni (dosanya).” (Imam Abû al-Qâsim Sulaimân bin Ahmad al-Thabrâniy, Kitâb al-Du’â, Kairo: Dar al-Hadits, 2007, h. 160).
“Barangsiapa yang yang berucap ketika mendengar panggilan (azan): “Allahumma rabbi hadzihid da’watit tammah washshalâtil qâ’imah âti muhammadan al-wasîlata wal fadlîlata wab’atshul maqâmal mahmûdal ladzî wa’adtah” (Ya Allah, Tuhan [pemilik] panggilan sempurna dan [pemilik] shalat yang didirikan ini, anugerahilah Muhammad wasilah (tempat yang luhur) dan fadhilah (keutamaan), bangkitkanlah dia pada kedudukan yang terpuji [sebagaimana] yang telah Engkau janjikan), maka ia (orang yang membacanya) akan mendapatkan syafaat di hari kiamat.” (Imam Abû al-Qâsim Sulaimân bin Ahmad al-Thabrâniy, Kitâb al-Du’â, 2007, h. 161).
Ketiga, doa yang dibaca khusus ketika azan maghrib. Berisi menyambut kehadiran malam dan berlalunya siang dengan memohon ampunan Allah. Berikut riwayatnya (hadits hasan riwayat Imam al-Hakim, Imam Abu Dawud dan Imam Baihaqi):
عن أم سلمة قالت: علمني رسول الله صلى الله عليه وسلم أن أقول عند أذان المغرب: اَللَّهُمَّ هَذَا إِقْبَالُ لَيْلِكَ وَإِدْبَارُ نَهَارِكَ وَأَصْوَاتُ دُعَاتِكَ فَاغْفِرْ لِي
“Dari Ummu Salamah, ia berkata: Rasulullah mengajariku agar aku menucapkan (doa ini) ketika azan maghrib: “Allahumma hadzâ iqbâlu lailika wa idbâru nahârika wa ashwâtu du’âtika faghfir lî” (Ya Allah, ini adalah [saat di mana] malam-Mu datang, siang-Mu berlalu, dan lantunan doa kepada-Mu [dipanjatkan], maka ampunilah aku).” (Imam Abû al-Qâsim Sulaimân bin Ahmad al-Thabrâniy, Kitâb al-Du’â, 2007, h. 162)
Keempat, amalan berupa menyerupai ucapan muadzin (orang yang azan) dari awal hingga akhir. Berikut riwayatnya (hadits hasan riwayat Imam Ibnu Khuzaimah, Imam al-Hakim, Imam al-Nasai, Imam Ahmad, dan Imam Abu Ya’la):
عن أبي بشر قال: سمعت أبا المليح يحدث عن عبد الله بن عتبة، عن أم حبيبة رضي الله عنها أن النبي صلى الله عليه وسلم كان إذا سمع المؤذن قال كما يقول حتى يسكت
“Dari Abu Basyr, ia berkata: Aku mendengar Abu al-Malih bercerita dari Abdullah bin ‘Utbah, dari Ummu Habibah radhiyallahu ‘anha bahwa sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika mendengar muadzin (mengumandangkan azan), Nabi berucap sebagaimana ucapan muadzin hingga ia diam (berhenti).” (Imam Abû al-Qâsim Sulaimân bin Ahmad al-Thabrâniy, Kitâb al-Du’â, 2007, h. 163)
Dan kelima, amalan yang dilakukan hampir sama dengan riwayat keempat di atas. Perbedaannya terletak pada bacaan, “lâ haula wa lâ quwwata illâ billahi” (tiada daya dan kekuatan kecuali dengan izin Allah) ketika muazin sampai pada, “hayya ‘alash shalâh, hayya ‘alal falâh.” Riwayatnya adalah (hadits hasan riwayat Imam Ahmad bin Hanbal):
عن أبي رافع رضي الله عنه، أن النبي صلى الله عليه وسلم كان إذا أذن المؤذن قال كما يقول، فإذا قال: حي على الصلاة حي على الفلاح، قال: لا حول ولا قوة إلا بالله
“Dari Abu Rafi’ radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika mendengar muadzin mengumandangkan azan beliau berucap seperti yang diucapkan muadzin. Ketika muadzin berucap: “Hayya ‘alash shalâh, hayya ‘alal falâh,” Nabi mengucapkan: “Lâ haula wa lâ quwwata illâ billahi” (tiada daya dan kekuatan kecuali dengan izin Allah).” (Imam Abû al-Qâsim Sulaimân bin Ahmad al-Thabrâniy, Kitâb al-Du’â, 2007, h. 164)
Demikian disampaikan Muhammad Afiq Zahara, alumni PP. Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen, sebagaimana dilansir dari laman resmi Nahdatul Ulama (NU Online) pada Kamis (2/1/2019).
(Abu Sahma Pane)